Jumat, 9 Juni 23

Pancasila dalam Safari Ramadan Demokrat

Oleh:  Ferdinand Hutahaean, Komunikator Politik  Partai Demokrat

 

17 hari sudah Ramadan terlampaui. 17 hari juga sudah umat Muslim berpuasa melawan hawa nafsu duniawi, menahan lapar dan dahaga demi meneguhkan keimanan dalam beragama dan melaksanakan perintah Sang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Bulan penuh berkah, bulan berbagi dan bulan introspeksi bagi seluruh umat.

Demikian juga bagi Partai Demokrat. Ramadan kali ini adalah bulan introspeksi ke dalam dan ke luar sebagaimana telah ditetapkan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dan atas dasar itu jugalah bertebaran spanduk-spanduk dan baliho Demokrat yang bertuliskan pesan-pesan introspeksi selama Ramadan.

Demokrat ingin bangsa ini mengoreksi dirinya, Demokrat ingin penguasa mengoreksi dirinya, Demokrat ingin seluruh kader juga mengoreksi dirinya. Apa yang harus dikoreksi? Tentu koreksi diri apakah kita sudah lebih memilih melakukan kebaikan dan amanah dalam mengemban jabatan.

Hari ini di tengah introspeksi Ramadan, adalah hari pertama Safari Ramadan Partai Demokrat yang langsung dipimpin oleh SBY bersama Ibu Ani Yudhoyono. Jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat turut mendampingi perjalanan religi di bulan penuh berkah kali ini, untuk hadir menyapa masyarakat, menyapa kader dan simpatisan, serta menyapa anak-anak yatim dalam suasana berbagi dan suasana penuh kasih sayang di beberapa kota yang disinggahi dalam Safari Ramadan.

Siang ini, perjalanan kami awali dari Jakarta menuju Kota Cirebon Jawa Barat. Menggunakan Kereta Api Cirebon Ekspres, kami menyusuri perjalanan yang membawa rombongan larut ke dalam kisah dibangunnya infrastruktur jalan dan rel kereta api semasa SBY menjabat sebagai Presiden RI ke-6. Infrastruktur dengan prasarana yang cukup membanggakan perjalanan ini, karena akhirnya rakyat bisa menikmati pembangunan meski memang belum bisa sesempurna harapan.

Perjalanan religi dalam Safari Ramadan hari pertama ini mengambil tema cukup menarik, menyejukkan, dan menentramkan batin yang mungkin masih bergejolak bila menyaksikan situasi politik dan penegakan hukum saat ini. Atas dasar itulah SBY mengambil tema Safari Ramadan ini berkaitan dengan Pancasila.

Pancasila terklaim hanya oleh sekelompok saja. Pancasila menjadi hanya seperti benda mati yang bisa diakukan meski tanpa pemahaman utuh tentang Pancasila itu apa* Tentu ini tidaklah tepat dan menjadi keprihatinan  bagi Demokrat, karena berkaitan erat dengan masa depan kebinekaan dan masa depan ketentraman dalam bertoleransi terhadap perbedaan yang seharusnya disatukan. Untuk itulah diperlukan introspeksi dan mengoreksi apakah ada kekeliruan dalam bersikap terkait Pancasila.

Safari Ramadan Demokrat secara umum membawa Ruh Pancasila yang sarat makna dalam perjalanan religius ini. Pesan mulia Safari Ramadan di hari pertama ini membawa pesan kesejukan dalam berbangsa dan bernegara.

Dengan tetap menjaga teguhnya nilai-nilai Pancasila dan semangat kebinekaan, prioritas untuk bangsa Indonesia saat ini adalah menyatukan semua komponen bangsa dan memperkuat kerukunan, dan jangan memisah-misahkan di antara mereka dan jangan saling menaburkan rasa kebencian dan permusuhan. Begitulah tema besar Safari Ramadan hari pertama yang akan disampaikan Ketua Umum hari ini dalam sambutannya pada acara Buka Bersama di Cirebon. Apa makna luas dari tema itu, akan disampaikan secara lugas dan jernih oleh SBY petang nanti.

Perjalanan masih membawa kami menelusuri rel panjang yang pernah dibangun era SBY demi peningkatan infrastruktur transportasi. Sejenak biarkan kami bercerita menemani suara kereta yang membawa perjalanan ke Cirebon, hingga nanti tiba dan SBY akan menyampaikan makna luas tentang Ruh Pancasila dalam Safari Ramadhan ini.

Sungguh bagi Demokrat, Pancasila adalah harga mati, ideologi bangsa. Persatuan dan kebinekaan adalah keindahan yang harus dirawat dalam toleransi. Tidaklah elok jika justru penguasa yang memisah-misahkan rakyatnya antara pro-Pancasila dengan anti-Pancasila.

Pancasilais adalah berketuhanan, beradab, bersatu, musyawarah dalam khidmat dan kebijaksanaan, serta berkeadilan sosial. (*)

(Catatan dalam rangkaian gerbong kereta Cirebon Ekspres), 12 Juni 2017)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.