Rabu, 27 Oktober 21

Pakar Hukum Pidana Unpad Desak Polri Hentikan Provokasi Papan Bunga Ahok

Pakar Hukum Pidana Unpad Desak Polri Hentikan Provokasi Papan Bunga Ahok
* Para pendukung Ahok berunjuk rasa di depan Rutan Cipinang, Jakarta Timur, menuntut Ahok dibebaskan, Selasa (9/5/2017). (Foto: Indrayadi/Parmusi).
“presiden saja tdk kirim bunga papan bahkan minta sm org hormati putusan pengadilan apapun hasilnya!” kicau Romi di akun Twitternya.

 

Jakarta, Obsessionnews.com – Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta memvonis Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), terdakwa penodaan agama, dua tahun penjara dalam sidang yang digelar di auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Slelasa (9/5/2017). Ahok kemudian langsung ditahan di Rutan Cipinang, Jakarta Timur, pada hari itu. Namun, demi alasan keamanan Ahok dipindah ke Mako Brimob, Rabu (10/5) dini hari.

Pasca putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara tersebut para pendukung Ahok berunjuk rasa di depan Rutan Cipinang, Selasa (9/5) sore hingg malam hari, menuntut Ahok dibebaskan. Massa pro Ahok itu bahkan mendorong pagar Rutan Cipinang. Aksi unjuk rasa tersebut membuat jalan macet total.

Aksi unjuk rasa Ahoker menjalar ke berbagai daerah di Indonesia. Di beberapa daerah terdapat papan bunga yang menuntut pembebasan Ahok.

Pakar hukum pidana Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung Romli Atmasasmita

Pakar hukum pidana Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung Romli Atmasasmita mengecam ulah Ahoker tersebut. Melalui kicauan di akun Twiternya, @rajasundawiwaha, Jumat (12/5), Romi menyatakan sebagai WNI yang baik, serta taat hukum dan peradilan hentikan provokasi dan intimidasi psikologis memanasi situasi politik terkait putusan kasus Ahok.

Romi menilai kiriman papan bunga ke beberapa wilayah di Indonesia jelas bertujuan memprovokasi benturan antara yang pro dan kontra putusan perkara Ahok.

kiriman papan bunga bukan tanda simpati rakyat Indonesia melainkan simpati dr kalangan konglomerat tertentu saja hati2 u tdk terprovokasi!” tulisnya di akun Twitternya.

Romli mendesak Polri harus bersikap mengambil tindakan preventif menghentikan provokasi papan bunga.

presiden saja tdk kirim bunga papan bahkan minta sm org hormati putusan pengadilan apapun hasilnya!” kicau Romi di akun Twitternya.

Ahok Hina Alquran dan Ulama

Duet Joko Widodo (Jokowi)-Ahok memenangkan Pilkada DKI 2017 untuk masa bakti 2012-2017. Ahok kemudian naik kelas dari Wakil Gubernur menjadi Gubernur pada 2014. Pria yang akrab dipanggil Ahok ini menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi Presiden ketujuh RI. Ahok dilantik sebagai Gubernur DKI oleh Presiden Jokowi di Istana Negara pada 19 November 2014.

Periode 2015 hingga 2016 popularitas Ahok melejit. Survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei menyebut elektabilitas Ahok paling tinggi di antara para calon gubernur pada Pilkada DKI 2017.

Namun, sayangnya, seiring melambungnya popularitas dan elektabilitasnya tersebut Ahok tak mampu mengubah kebiasaan buruknya dalam bertutur kata. Ucapan-ucapan kasarnya itu kemudian menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Ahok pemeluk  agama Kristen Protestan.  Warga keturunan Cina ini  dengan lancang mencampuri urusan agama lain, yakni Islam. Ia menyinggung soal Alquran surat Al Maidah ayat 51 di sebuah acara di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/2016). Ketika itu Ahok antara lain mengatakan,”..jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa.

Ucapan mantan politisi Partai Gerindra tersebut membuat umat Islam tersinggung dan melaporkannya ke polisi. Sementara itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dalam pernyataan sikap keagamaannya, Selasa (11/10/2016), menyebut perkataan Ahok dikategorikan menghina Alquran dan menghina ulama yang berkonsekuensi hukum.

Pernyataan Ahok tersebut menimbulkan gelombang demonstrasi di Jakarta dan berbagai daerah di tanah air.  Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) mengoordinir massa berunjuk rasa yang dibingkai dengan sebutan Aksi Bela Islam (ABI) di Jakarta pada tahun 2016 dengan tuntutan tangkap dan penjarakan Ahok. ABI jilid 1 digelar pada Jumat (14/10/2016) atau dikenal dengan sebutan Aksi 1410. GNPF MUI kembali menggelar ABI jilid 2 pada Jumat (4/11/2016) atau Aksi 411 dan ABI jilid 3 pada Jumat (2/12/2016) atau Aksi 212.

 

Jutaan orang mengikuti Aksi Bela Islam 3 yang menuntut Ahok dipenjara di Jakarta, Jumat (2/12/2016). (Foto: Edwin B/Obsessionnews.com).

Aksi 1410 diikuti ribuan orang. Jumlah peserta meningkat menjadi sekitar 3,2 juta orang pada Aksi 411. Antusiasme warga Muslim terus meningkat menjadi sekitar 7,5 juta orang pada Aksi 212.

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka dugaan penistaan agama pada Rabu (16/11/2016). Statusnya berubah menjadi terdakwa saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Selasa (13/12/2016).

Setelah Ahok menjadi terdakwa gelombang unjuk rasa anti Ahok terus bergulir. Massa dari berbagai ormas yang dikoordinir Forum Umat Islam (FUI) menggelar Tausiyah Nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (11/2/2017).

FUI kembali menggelar massa berunjuk rasa di Gedung DPR/MPR pada Selasa (21/2/2017). Selain menuntut Ahok dipenjara, dalam aksi ini juga menuntut Ahok dipecat dari jabatannya.

Karena tuntutannya tak dipenuhi, massa yang dikoordinir FUI yang kembali menggelar demonstrasi besar-besaran di sekitar Istana Presiden pada Jumat (31/3/2017).

Aksi Simpatik 55 yang menuntut tegakkan hukum seadil-adilnya pada Ahok, terdakwa penistaan agama Islam di Jakarta, Jumat (5/5/2017).

Pada Jumat (5/5/2017) GNPF MUI menggelar unjuk rasa besar-besaran di sekitar Gedung Mahkamah Agung, Jakarta Pusat. Demo yang dikemas dengan label Aksi Simpatik 55 ini menuntut Ahok dipenjara.

Dalam sidang ke-20 kasus dugaan penodaan agama yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (20/4/2017), Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Ahok 1 tahun penjara dengan masa percobaan selama 2 tahun. Jaksa menilai Ahok terbukti melakukan perasaan kebencian di muka umum dan menyinggung golongan tertentu.

“Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama terbukti bersalah menyatakan perasaan kebencian,” ujar ketua tim jaksa Ali Mukartono.

Ahok dianggap jaksa terbukti melakukan penodaan agama karena menyebut Surat Al-Maidah saat bertemu dengan warga di Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016. Penyebutan Surat Al-Maidah ini, menurut jaksa, dikaitkan Ahok dengan Pilkada DKI Jakarta.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun,” ujar jaksa.

Ahok menyampaikan pledoi (pembelaan) dalam sidang  ke-21, Selasa (25/4/2017) di tempat yang sama.  Dalam pledoi yang berjudul Tetap Melayani Walaupun Difitnah, Ahok mengibaratkan dirinya sebagai ikan kecil Nemo yang berenang di Jakarta.

Dalam sidang ke-22, Selasa (9/5/2017), Ahok dinyatakan terbukti bersalah melakukan penodaan agama tentang Alquran Surat Al Maidah 51. Untuk itu dia dihukum 2 tahun penjara. Hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto menyatakan Ahok  terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan penodaan agama dengan penyebutan surat Al Maidah 51.

“Dari ucapan tersebut terdakwa telah menganggap surat Al Maidah adalah alat untuk membohongi umat atau masyarakat, atau surat Al Maidah 51 sebagai sumber kebohongan dan dengan adanya anggapan demikian maka menurut pengadilan terdakwa telah merendahkan dan menghina surat Al Maidah ayat 51,” papar hakim dalam pertimbangan hukum.

Setelah divonis dua tahun penjara, sang Ahok  langsung meringkuk di hotel prodeo.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini bermakna orang yang mendapat musibah secara beruntun.  Itulah nasib Ahok. Ia kalah dalam Pilkada DKI 2017 putaran kedua yang digelar pada Rabu (19/4) lalu. Ahok yang berpasangan dengan Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat takluk melawan duet Anies-Baswedan. Setelah kalah di Pilkada ia masuk penjara.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengesahkan hasil rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi, Minggu (30/4). Anies-Sandi memperoleh 3.240.987 suara atau 57,96%. Sedangkan Ahok-Djarot mendapat 2.350.366 suara atau 42,04%.

Jumat (5/5) KPU DKI menetapkan Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih. Anies-Sandi akan dilantik pada Oktober mendatang untuk periode 2017-2022.

Setelah kalah di Pilkada DKI 2017, kini Ahok meringkuk di penjara. (arh)

Baca Juga:

Terima Kasih, Ahok!

Belajar dari Kasus Ahok

Jokowi Minta Semua Pihak Hormati Vonis Ahok

Terbukti Nodai Agama, Ahok Dihukum 2 Tahun Penjara

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.