Selasa, 26 Mei 20

Pak Jokowi, Kementerian BUMN Dijajah Kerajaan Mandiri

Pak Jokowi, Kementerian BUMN Dijajah Kerajaan Mandiri

Oleh: Haidar Alwi Institute (HAI)

Kementerian BUMN sebagai salah satu perangkat pemerintah sekaligus entitas usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu, para pejabat yang menduduki posisi strategis di Kementerian BUMN hendaknya sosok yang benar-benar profesional, bukan orang dekat dan kawan lama apalagi kerajaan bisnis kelompok tertentu.

Sejak dilantik sebagai Menteri BUMN pada Rabu (23/10/2019) silam, Erick Thohir telah mengobrak-abrik Kementerian yang dipimpinnya lewat gerakan bersih-bersih BUMN pasca ditinggal oleh Rini Soemarno. Penunjukan mantan Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf tersebut pada awalnya ibarat oase di tengah tandusnya padang pasir.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, sepak terjang Erick Thohir rupanya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Rini Soemarno. Kebijakan yang terkesan untuk perbaikan tata kelola BUMN sesungguhnya hanyalah fatamorgana belaka. Maksud hati memperkokoh struktur lama yang amburadul dan kacau balau, ternyata wujudnya tak kalah reot dari sebelumnya. Penyebabnya, komposisi yang digunakan adalah daur ulang material lama yang sudah lapuk dimakan rayap.

Jika saat ini belasan pejabat BUMN era Rini Soemarno sudah berhadapan dengan hukum, kemungkinan Erick Thohir juga ingin mengamankan orang-orang dekatnya dengan membentuk Kerajaan Mandiri di Kementerian BUMN. Entah untuk memperkuat gurita bisnis atau untuk memperbuncit tabungan dana Pilpres 2024. Terlepas dari apapun tujuan sebenarnya, penjajahan Klan Mandiri di perangkat pelat merah patut menjadi tanda tanya.

Mulai dari Wakil Menteri BUMN yang keduanya diisi Alumni Mandiri. Sebut saja Budi Gunadi Sadikin dan Kartiko Wirjoatmodjo. Sebelum dilantik menjadi Wakil Menteri BUMN pada 25 Oktober 2019 lalu, Budi Gunadi Sadikin merupakan Direktur Utama (Dirut) PT Inalum. Ia menjabat Dirut PT Inalum sejak September 2017.

Budi Gunadi Sadikin pernah menjabat sebagai Dirut PT Bank Mandiri di tahun 2013-2016. Ia bergabung dengan PT Bank Mandiri pada tahun 2006. Selain itu, ia juga pernah menduduki posisi Staf Khusus Kementerian BUMN tahun 2016-2017 di bawah kepemimpinan Rini Soemarno.

Sedangkan Kartiko Wirjoatmodjo mulai bekerja di Bank Mandiri dalam kurun waktu 2003 sampai 2019 hingga akhirnya ditunjuk sebagai Wakil Menteri BUMN. Sejumlah posisi yang pernah ditempati Kartiko Wirjoatmodjo di Bank antara lain Kepala Divisi Strategi dan Manajemen Kinerja (2003-2005), Kepala Strategi dan Manajemen Kinerja di Bank Mandiri (2005-2008), Managing Director di Mandiri Sekuritas (2008-2011), Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri (2015-2016) dan Direktur Utama Bank Mandiri (2016-2019).

Kartiko Wirjoatmodjo juga pernah menjabat sebagai Presiden Direktur dan CEO di Indonesia Infrastructure Finance (2011-2013), serta Kepala Eksekutif dan Anggota Dewan Komisaris di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam kurun waktu setahun (2014-2015).

Lalu, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memutuskan Zulkifli Zaini sebagai Direktur Utama menggantikan Plt Dirut PLN Sripeni Inten Cahyani, Senin (23/12/2020). Siapakah Zulkifli Zaini? Pria kelahiran Bukittinggi, 13 Januari 1956 itu adalah lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) 1980. Ia meraih gelar Master of Business Administration dari Washington University, Amerika Serikat pada tahun 1994.

Kariernya sebagai bankir berawal pada 1983 di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), salah satu bank yang kemudian melebur menjadi Bank Mandiri. Pria yang gemar olahraga golf dan traveling ini sempat menempati sederet posisi selama di Bapindo. Antara lain, account officer, staff of banking and finance services, head of project finance, deputy branch manager, dan terakhir branch manager.

Nama Zulkifli Zaini semakin dikenal di dunia perbankan ketika dipercaya menjadi Direktur Utama Bank Mandiri pada 2010 hingga 2013. Ia menggantikan Agus Martowardojo yang diangkat menjadi Menteri Keuangan RI. Zulkifli Zaini juga sempat menjadi calon Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) namun kandas di tengah jalan.

Selama menduduki kursi tertinggi di Bank Mandiri, Zulkifli Zaini terlibat dalam pendanaan PLN di program 10 ribu megawatt (MW) pada era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada 2013, Menteri BUMN Dahlan Iskan menunjuknya sebagai komisaris PLN sejak Juli 2013 hingga April 2015.

Setelah purnatugas dari PLN, Zulkifli Zaini kembali berkiprah di industri perbankan dengan menjabat sebagai Komisaris Independen PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dari Maret 2015 hingga Maret 2016. Kemudian, ia ditarik menjadi Komisaris Independen PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) periode Juni 2016 sampai November 2017.

Posisi terakhir Zulkifli Zaini adalah Dewan Pengawas Ikatan Bankir Indonesia (IBI) dan Komisaris Independen PT Bank Permata Tbk. Pada 2012, ayah dari dua orang anak ini meraih penghargaan sebagai The Best Chief Executive Officer in Indonesia. Penghargaan itu diperoleh dari Corporate Governance Asia.

Kemudian, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir melantik Deputi Sumber Daya Manusia Kementerian BUMN Alex Deni dan Staf Ahli bidang Implementasi Kebijakan Strategis Kementerian BUMN Warih Sadono di Jakarta, Selasa (3/3/2020).

Alex Denni memiliki rekam jejak dengan menempati sejumlah posisi strategis di KPK dan BUMN. Pria kelahiran Lintau, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, 27 Desember 1968, ini pernah menduduki posisi Chief Human Capital Officer di PT BNI (Persero) pada 2016 hingga 2018. Jabatan terakhir Alex Denni ialah sebagai Direktur Human Capital dan Transformasi PT Jasa Marga (Persero) sejak 2018.

Mengacu pada situs Jasa Marga, Alex Denni disebut sempat bekerja sebagai Chief Learning Officer & Head of Corp. University PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebelum hijrah ke Jasa Marga. Alex Denni adalah jebolan Sarjana Manajemen Agro Industri IPB (1990), Magister Manajemen Universtias Atmajaya (1997), dan Doktor Human Capital IPB (2011).

Posisi Deputi SDM yang ditempati Alex Denni menjadi salah satu kunci nasib Kementerian BUMN ke depannya. Tugasnya meliputi perumusan, koordinasi, perencanaan dan pengembangan kebijakan terkait Sumber Daya Manusia. Bayangkan, kebijakannya menyangkut pengelolaan 142 perusahaan BUMN yang memiliki Aset dalam jumlah fantastis mencapai Rp 8.200 Trilliun.

Selain itu, alumni PT Bank Mandiri berhasil menyabet sederet jabatan penting di perusahaan pelat merah terutama di bidang perbankan. Lihat saja, dalam dua Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) bank pelat merah yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) posisi Komisaris Utama diduduki oleh alumni Bank Mandiri.

Bank BRI dalam RUPST yang digelar Selasa (18/2/2020) lalu memutuskan untuk menunjuk Kartika Wirjoatmodjo sebagai Komisaris Utama di BRI. Kartika Wirjoatmodjo yang kini juga menduduki posisi Wakil Menteri BUMN sebelumnya merupakan mantan Direktur Utama Bank Mandiri pada periode 2016-2019.

Di sisi lain, RUPST BNI yang digelar, Kamis (20/2/2020) menunjuk Agus Dermawan Wintarto Martowardojo sebagai Komisaris Utama BNI. Agus Martowardojo memang lebih banyak dikenal sebagai Gubernur Bank Indonesia ke-16 untuk periode 2013-2018. Namun sebelumnya ia sempat menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri pada periode 2005-2010 silam.

Bukan hanya dari sisi Dewan Komisaris saja, saat ini kursi Direksi bank pelat merah pun banyak diduduki oleh alumni Bank Mandiri. Bank BRI misalnya yang kini dipimpin oleh Sunarso sebagai Direktur Utama. Berdasarkan laman resmi BRI, Sunarso pernah menjabat sebagai Direktur Commercial and Business Banking Bank Mandiri pada periode 2010 hingga 2015.

Selain Sunarso, kendati bukan menjabat sebagai bankir Bank Mandiri, Direktur Konsumer BRI, Handayani sempat menjadi bagian dari Mandiri Group. Pada tahun 2013 sampai 2014, Handayani pernah menjabat sebagai Digital Marketing & Alternate Distribution di PT AXA Mandiri, sebuah perusahaan patungan antara Bank Mandiri dan AXA Group.

Lalu, ada pula Agus Sudiarto yang sekarang menduduki posisi Direktur Manajemen Risiko di Bank BRI. Agus Sudiarto pun juga merupakan lulusan dari Bank Mandiri. Ia pernah menduduki posisi sebagai Group Head Special Asset Management Bank Mandiri dan menjadi Direktur Utama Bank Syariah Mandiri, anak usaha milik Bank Mandiri. Sebelum akhirnya berlabuh ke Bank BRI, posisi terakhirnya adalah sebagai Senior Executive Vice President Special Asset Management di Bank Mandiri.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) pun sekarang diisi oleh para mantan bankir andalan bank berlogo pita emas. Setidaknya, ada tiga alumni Bank Mandiri yang telah berlabuh ke Bank BTN. Pertama, Direktur Utama BTN Pahala N Mansury. Sebelum ditunjuk sebagai Direktur Utama BTN, Pahala N Mansury menjabat sebagai Direktur Keuangan di PT Pertamina dan sebelumnya sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

Namun, pengalamannya di industri perbankan Tanah Air memang sudah cukup lama. Karirnya sebagai bankir dimulai pada tahun 2003 di Bank Mandiri hingga akhirnya menduduki posisi Direktur di Bank Mandiri pada tahun 2010.

Kedua, ada Jasmin yang sesuai keputusan RUPS ditunjuk sebagai Direktur Distribution and Retail Funding BTN. Sebelum berlabuh ke BTN, Ia merupakan Senior Executive Vice President Consumer & Transaction Bank Mandiri. Karirnya di Bank Mandiri juga sudah cukup lama. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Regional Manager IV-JKT Bank Mandiri periode 2013 sampai 2015. Setelah itu, Jasmin juga sempat merasakan posisi Regional CEO IV/JKT 2 Bank Mandiri tahun 2015-2018.

Terakhir, Setiyo Wibowo yang kini menduduki kursi Direktur Enterprise Risk Management, Big Data & Analytics BTN yang sebelumnya menduduki posisi Group Head Consumer Credit Risk & Analytics di Bank Mandiri tahun 2018-2019. Sebelum menduduki posisi itu, Setiyo Wibowo menjabat sebagai Group Head Credit Portofolio Risk Bank Mandiri tahun 2017-2018 dan Group Head Consumer Deposito pada 2015 hingga 2017 silam.

Direktur Keuangan, Perencanaan dan Tresuri BTN Nixon L.P Napitupulu juga merupakan mantan bankir Bank Mandiri. Nixon tercatat pernah menjabat sebagai Group Head Corporate Secretary Group di Bank Mandiri pada tahun 2013-2014. Setelah itu, pria berusia 50 tahun ini pernah menduduki kursi Head of Priority Project Bank Joint Venture Bank Mandiri tahun 2014-2015. Sebelum mendarat di Bank BTN, ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Mandiri Taspen (Mantap) tahun 2015-2017, yang kala itu merupakan perusahaan patungan antara Bank Mandiri, PT Taspen dan PT Pos.

Nah, dari empat bank pelat merah hanya BNI saja yang kursi Direksinya tidak diisi oleh alumni Bank Mandiri. Malah, keputusan RUPST terbaru BNI memilih untuk menunjuk Herry Sidharta dan Anggoro Eko Cahyo sebagai Direktur Utama dan Wakil Direktur Utama. Keduanya merupakan bankir yang sejak lama meniti karir di Bank BNI. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.