Senin, 18 November 19

Pak AR Memiliki Sensitivitas Tinggi kepada Rakyat Kecil

Pak AR Memiliki Sensitivitas Tinggi kepada Rakyat Kecil
* Diskusi buku berjudul “Pak AR yang Zuhud Memimpin Umat Dengan Islam Yang Menggembirakan” di Sekretariat Yayasan AR Baswedan, Yogyakarta, kemarin Jumat (12/7/2019). (Foto: ist)

Yogyakarta, Obsessionnews.com Melihat kondisi bangsa saat ini, khususnya hiruk pikuk kehidupan politik dan sosial, rasanya menghadirkan kembali sosok AR Fachruddin seakan menjadi oase. Pola kehidupan Pak AR yang zuhud, sederhana, dan low profile perlu kite teladani. Gaya kepemimpinan serta komunikasi Pak AR yang genuine dan apa adanya, pun sangat dibutuhkan saat ini.

Peneliti Jusuf Kalla School of Government Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Paryanto, MIP mengatakan hal itu dalam diskusi buku berjudul “Pak AR yang Zuhud Memimpin Umat Dengan Islam Yang Menggembirakan” di Sekretariat Yayasan AR Baswedan, Yogyakarta, kemarin Jumat (12/7/2019). Hadir pula sebagai pembicara yakni penulis buku Mochammad Faried Cahyono.

“Pak AR itu sosok yang diterima oleh semua kalangan, baik oleh kalangan atas, bawah, atau bahkan kelompok radikal sekalipun,” ujar Paryanto.

Dalam siaran pers yang diterima obsessionnews.com Sabtu (13/7), disebutkan, diterimanya Pak AR oleh berbagai kalangan ini, karena karakter yang melekat pada kepribadiannya yang selalu menjaga sikap wara’ dan zuhud dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap zuhud dan pilihan hidup dengan penuh kesederhanaan yang genuine juga tergambar dalam kebiasaan Pak AR yang tidak mau memanfaatkan posisinya sebagai Ketua PP Muhammadiyah untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.

“Bahkan sebaliknya, justru beberapa fasilitas yang diberikan negara kepadanya justru diserahkan kepada Muhammadiyah,” ujar Paryanto.

Senada dengan Paryanto, Faried Cahyono pun menceritakan betapa Pak AR memiliki sensitivitas tinggi kepada rakyat kecil. Pak AR pernah bercerita kepada muridnya, satu ketika Pak AR berniat untuk membeli durian. Namun ketika naik becak menuju ke pasar, si tukang becak berkeluh kesah karena harga durian yang sangat mahal dan tak mampu dibeli olehnya yang hidup pas-pasan. Mendengar hal tersebut, saat Pak AR sampai ke pasar, ia langsung pulang dan tak jadi membeli durian.

“Setelah menceritakan kisah ini, Pak AR berpesan kalian besok apabila jadi pemimpin pahamilah perasaan rakyat,” ujar Faried.

Diskusi buku yang digelar Yayasan AR Baswedan dilaksanakan setiap hari Jumat, membedah buku-buku sains dan pendidikan, ekonomi, politik, tokoh serta keagamaan.

Ketua Dewan Pembina Yayasan AR Baswedan yang juga Dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr H Khamim Zarkasih Putro, MSi dalam sambutan pengantarnya mengatakan, kita perlu menggiatkan kajian-kajian agar kehidupan bangsa dipenuhi dengan gairah intelektual.

“Ilmu pengetahuan merupakan kunci untuk membangun bangsa dan negara yang kuat, oleh sebab itu Yayasan AR Baswedan berkomitmen untuk berpartisipasi dalam mendorong pemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan,” tandasnya.

Ketua Alumni Pascasarjana UMY yang juga Ketua DPD Ika UNY DIY dan Koordinator Presidium KAHMI DIY ini mengatakan, AR Baswedan seperti juga AR Fahrudin adalah Pahlawan Nasional yang sangat merindukan keutuhan bangsa melalui jalur pendidikan dan budaya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.