Selasa, 26 Oktober 21

Padi Gogo Unsoed Masuk 20 Inovator Unggulan Indonesia

Padi Gogo Unsoed Masuk 20 Inovator Unggulan Indonesia

Purwokerto, Obsessionnews –  Padi Gogo Unsoed masuk 20 Inovator Unggulan Indonesia yaitu atas dasar Keputusan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI. Peran strategis padi gogo bagi Kedaulatan Pangan Indonesia, serta keunggulan padi gogo aromatik dalam produksi (tinggi dan stabil) dan kualitas hasil (pulen dan aromatik) menjadi dasar pertimbangan Padi Gogo UNSOED, yaitu padi gogo aromatik INPAGO UNSOED 1 menjadi salah satu Karya Uggulan Teknologi Anak Bangsa yang masuk dalam buku Sumber Inspirasi Indonesia.

Terseleksinya teknologi varietas unggul baru ini, sekaligus mengantar dua pemulia padi gogo aromatik dari Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah, Prof Ir Totok Agung Dwi Haryanto, MP PhD dan Prof Dr Ir Suwarto MS, masuk dalam 20 Inovator Unggulan Indonesia tahun 2015.

Atas undangan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI selaku ketua panitia HAKTEKNAS,  Prof. Totok Agung hadir pada Malam Apresiasi dalam rangkaian acara puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-20 tahun 2015, pada pada pukul 18.30 hari Senin (10/8/2015), di Auditorium Gedung II BPPT, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, pada hari yang sama, pukul 09.00 Senin (10/8), Prof Totok Agung yang juga Direktur Pascasarjana Unsoed diundang Menristekdikti pada acara prosesi Budaya Larung, dan peluncuran survei kelautan dengan kapal-kapal riset canggih milik Indonesia (Rigel, Baruna Jaya, dan Bawal Putih 3) di Markas Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Jalan Raya Pelabuhan Pos 9 tanjung Priok Jakarta Utara.  Acara di Kolinlamil tersebut dihadiri Dr.Indroyono Soesilo (Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI).

Di sela waktu mengikuti rangkaian peringatan Hakteknas Prof. Totok menguraikan, ketergantungan produksi padi nasional terhadap produktivitas padi sawah perlu diwaspadai, karena berpotensi menjadi bumerang bagi ketahanan pangan nasional.  Luas lahan sawah yang hanya mencapai 8,5 juta ha, belum mampu menopang pemenuhan kebutuhan beras per kapita sebesar 120 kg per orang per tahun.

“Beban penyediaan beras yang semakin berat, keterbatasan lahan sawah yang mengalami alih fungsi lebih dari 45 ribu ha per tahun, serta tingginya biaya cetak sawah baru hingga sulit mencapai target, menjadi ancaman besar bagi upaya peningkatan produksi padi,” tambahnya.

Kemudian Prof. Totok mengatakan bahwa produktivitas padi sawah Indonesia per tahun masih tertinggi di dunia, karena penanaman bisa dilakukan 2 atau 3 kali dalam satu tahun.  Meski tetap memegang peran penting, kedaulatan pangan tidak harus bergantung pada padi sawah.  Peningkatan produksi padi tetap perlu diantisipasi dengan pengembangan padi gogo memanfaatkan sumber daya lahan potensial, yaitu lahan kering.  Sekitar 60,7 juta hektar atau 88,6% dari luas lahan menjadi unggulan upaya peningkatan produksi padi nasional.

Menurutnya, perkembangan pemuliaan padi gogo pun menggeliat, potensi hasil varietas unggul baru padi gogo sudah mulai meningkat dari rata-rata 2,7 ton/ha menjadi lebih dari  4 ton/ha, umur panenpun semakin genjah. Inpago UNSOED 1, dengan potensi hasil 7,42 ton per hektar di lahan kering dan umur 110 – 117 hari mampu menghasilkan beras mutu tinggi, yaitu nasinya pulen serta aromanya wangi sangat disukai oleh konsumen dan mempunyai harga jual yang tinggi.

“Harga jual beras aromatik dan pulen mencapai 2 – 2,5 kali harga jual beras biasa, sehingga selain produksi beras meningkat, pendapatan petani juga terdongkrak,” tandas Guru besar Unsoed.

Menurut Prof. Totok, adanya El Nino dan berbagai kondisi akibat perubahan iklim global menjadikan peran padi gogo semakin penting.  Kondisi alam yang tidak lagi dapat diprediksi berdampak pada perubahan musim tanam padi sawah.  “Kesungguhan pemerintah dan rakyat Indonesia dalam pengembangan padi gogo dan padi gogo aromatik di lahan kering saat ini, bisa menjadi langkah penyelamat bagi penyediaan pangan nasional di masa mendatang, sekaligus menjaga Kedaulatan Pangan Indonesia,” jelasnya. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.