Selasa, 2 Maret 21

Ormas Ingin Dirikan Negara Islam, Tak Bisa Disamakan ISIS

Ormas Ingin Dirikan Negara Islam, Tak Bisa Disamakan ISIS

Jakarta, Obsessionnews –  Jika Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dipandang sebagai gerakan politik yang punya tujuan membangun negara Islam berbasis khilafah, maka di luar ISIS banyak juga organisasi masyarakat (Ormas) yang memiliki orientasi yang sama dengan ISIS yakni mendirikan negara Islam. Namun, apakah Ormas ini bisa diartikan sama dengan ISIS?

Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil, menilai Ormas yang punya tujuan mendirikan negara Islam tidak bisa disamakan dengan ISIS. Sebab, mereka secara formal tidak membaiatkan diri masuk dalam kelompok ISIS. Disamping itu, pola gerakan mereka juga berbeda dengan ISIS yang terlihat keras melakukan serangan membabi buta hingga menimbulkan banyak korban jiwa.

“Ormas Islam yang tidak berbaiat dan menyatakan mendaftarkan diri bergabung dengan ISIS tidak bisa disamakan dengan ISIS,” ujar Nasir kepada Obsessionnews Jumat (27/3/2015).

Meski pada dasarnya memiliki orientasi yang sama mendirikan negara Islam, ISIS dan Ormas Islam ‎menurut Nasir tetap tidak bisa disamakan subtansinya. Jika pola gerakannya berbeda, maka implementasinya juga berbeda dengan ISIS. Tidak bisa kata dia, semua Ormas yang beridieologi Islam disamaratakan dengan ISIS.

“Untuk itu kita harus punya indikator yang jelas tentang individu dan ormas mana yang bisa dikategorikan ISIS atau bukan. Supaya pola penanganan dan pencegahannya tidak dipukul rata,” terangnya.

‎Sejauh ini, Ormas yang gigih memperjuangkan negara Islam di Indonesia, ada Hisbu Tahrir (HTI) kelompok Mujelis Mujahidin Indonesia (MMI) Jamaah Islamiyah, termasuk juga Front Pembela Islam (FPI). Umumnya masyarakat memandang kelompok ini masuk dalam barisan Islam garis keras. Misalnya saja FPI yang kerap membuat kerusuhan pada saat melakukan aksi demostrasi.

Karenanya, Polisi Partai Keadilan Sejahtera ‎(PKS) meminta kepada pemerintah khususnya pihak Kepolisian untuk membuat daftar atau list, mana Ormas Islam yang dianggap telah melenceng dari ideologi Pancasila. Dan mana oknum atau masyarakat yang diduga kuat terlibat dalam aksi terorisme, sehingga pemetaanya jelas.

‎”Jadi pemerintah harus bisa membuat list, mana organisasi teroris, mana Ormas Islam yang biasa. Motif mereka apa? Berafiliasi dengan siapa?‎ Pendekatannya juga harus mengunakan cara yang halus tidak sama dengan memerangi ISIS,” ucapnya.

ISIS sendiri merupakan kelompok ekstremis yang mengikuti ideologi garis keras Al-Qaidah yang dianggap ‎menyimpang dari prinsip-prinsp jihad yang sebenarnya dalam Islam. Seperti Al-Qaeda dan juga banyak kelompok lain, ISI muncul dari ideologi Ikhawanul Muslimin, kelok Islam pertama di dunia yang lahir di Mesir tahun 1920.

ISIS mengikuti ekstrim anti Barat yang‎ menurutnya sebagai penafsiran Islam, mempromosikan kekerasan agama dan menganggap mereka yang tidak setuju dengan tafsirnya sebagai kafir dan murtad. Secara bersamaan ISIS sekarang bertujuan mendirikan negara Islam Salafi yang berorientasi di Irak, Suriah, dan bagian lain dari Syam. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.