Selasa, 21 September 21

Ormas Anti Rasisme Hambat Kemajuan Bangsa

Ormas Anti Rasisme Hambat Kemajuan Bangsa

Jakarta, Obsessionnews – Direktur Hukum dan Kebijakan Politik Asean Watch, Alie Mendez, berharap organisasi anti rasisme suku atau agama tidak perlu lagi disuarakan. Organisasi atau ormas yang radikal mesti belajar menerima perbedaan, karena perbedaan adalah hikmahnya, sebagaiman Allah berfirman (Al-Hujaraat 9): “Kuciptakan engkau berbagsa-bangsa, bersuku-suku supaya engkau saling kenal mengenal”.

Alie juga mengingatkan, sebentar lagi kita akan menghadapi momen Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tentunya perdagangan bebas ini harus dapat diterima dengan baik. Apalagi Indonesia menganut toleransi beragama pula sebagimana dimanfestasikan sila pertama Pancasila.

“Perbedaan bukan penyakit yang mematikan tetapi perbedaan adalah anugerah yang menghidupkan dan saling membesarkan,” tegasnya kepada obsessionnews.com, Senin (29/6/2015).

Ia memaparkan, para pendiri bangsa menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia pernah menjadi ‘macan Asia’ bahkan memberikan kontribusinya dalam menjaga ketertibaan dunia. Maka, menurut Alie, masifnya tindakan rasisme terhadap kalangan Ormas dan organisasi tidak mengutungkan malah merugikan, apalagi kalau sampai terjadi konflik horizontal ini merugikan berbagai pihak dan bisa berdampak pada peningkatan ekonomi Indonesia.

“Mestinya negara hadir untuk memberikan penjelasan kepada organisasi atau ormas yang radikal atau antirasisme. Harus ada antisipasi, takutnya kalau dibiarkan bisa terjadi konflik horizontal, kalau perlu diberi ultimatum organisasi yang anti rasisme dibubarkan saja,” tegasnya.

Alie menilai, rasisme di Indonesia sudah menjadi penyakit hati masyarakat jika melihat seseorang berbeda kulit, rambut, mata dan hidung, secara otomatis ada diantaranya tunjukan sikap yang berbeda, terutama dari organisasi-organisasi anti rasis dengan menunjukan gerakan-gerakan radikal untuk menentang.

“Saya pikir ini jadi kekhawatiran kami juga kalau antirasisme ini terus-terus disuarakan, padahal sebentar lagi kita akan menghadapi era pasar bebas yang disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) desember 2015. Kalau terus-terus ada penolakan apalagi dari gerakan-gerakan ormas. Apakah sikap ini menunjukan kesiapan kita berperan terhadap tantangan MEA sendiri, saya pikir ini tidak benar,” tutur dia.

“Sebaiknya kita tidak perlu terkungkung pada persoalan-persoalan tidak penting hingga persatuan kita rapuh, mending kita kosen pada hal-hal subtansial,” tambahnya.

Ia pun berharap tidak lagi mempersoalkan latar belakang seseorang apalagi seperti latar belakang Gubernur DKI Jakarta  Basuki Djahaja Purnama (Ahok) sebagai ras Cina, tapi bagaiman kita bersama-sama mendukung kebijakan dia yang membangun, sehingga apa yang dicita-citakan dalam membangun Indonesia dapat terealisasi. Indonesia kan merdeka tanpa pandang warna, Indonesia kaya akan keragaman, Indonesia penuh dengan toleransi. “Jadi, marilah kita sama-sama menerima!” serunya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.