Selasa, 7 Desember 21

Orgasme Bisa Cegah Kanker Payudara?

Orgasme Bisa Cegah Kanker Payudara?
* Ilustrasi orgasme. (klikdokter)

Orgasme dapat memberikan manfaat kesehatan yang bisa bertahan lebih lama dari sekadar perasaan senang secara seksual. Pengalaman seksual yang menyenangkan dan intens dapat memberikan manfaat kesehatan. Mulai dari menurunkan tekanan darah hingga mengurangi risiko kanker pada perempuan.

Orgasme merupakan aktivitas rangkaian kontraksi otot yang menyenangkan, sehingga dapat melepaskan ketegangan yang terpendam dan merangsang pusat kesenangan otak. Orgasme dapat melepaskan endorfin yang memberikan sensasi rileks dan meningkatkan mood positif.

Hormon oksitosin yang dikeluarkan ketika orgasme, selain dapat membangun keintiman juga dapat mencegah kanker payudara. Menurut jurnal Breast Cancer Research Treatment, disebutkan bahwa oksitosin membantu membersihkan payudara dari sel-sel karsinogenik. Untuk informasi lengkapnya, baca ulasan berikut!

Oksitosin saat Orgasme Menyehatkan Payudara
Para peneliti menemukan bahwa oksitosin menghambat proliferasi sel kanker payudara in vitro, sehingga menurunkan risiko pertumbuhan kanker payudara. Karsinogen di payudara dihasilkan oleh aksi radikal bebas superoksida yang dilepaskan ketika distensi kelenjar acinar, di bawah pengaruh prolaktin yang tidak dilawan. Ini menyebabkan iskemia pembuluh darah mikro.

Produksi oksitosin secara teratur dari stimulasi puting akan menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel, menghilangkan distensi kelenjar asinar, dan membantu eliminasi aktif cairan karsinogenik dari payudara.

Stimulasi pada payudara juga menyebabkan peningkatan kadar oksitosin plasma di luteal, tetapi tidak pada fase folikular dari siklus menstruasi. Produksi oksitosin lewat stimulasi puting susu melalui proses menyusui juga dinilai bermanfaat untuk mencegah kanker payudara.

Sistem oksitosin di otak terkait erat dengan kadar estrogen dan progesteron. Selain itu, ada kemungkinan hormon-hormon ini dapat memodifikasi respons sekretori oksitosin baik secara terpusat maupun melalui efek pada sensitivitas payudara.

Stimulasi puting baik melalui aktivitas seksual, orgasme, maupun menyusui dapat menjadi faktor pencegahan penting dalam perkembangan kanker payudara baik sebelum dan sesudah menopause.

Hormon yang terdapat pada otak dan aliran darah, memainkan peran kunci dalam menyusui dan perilaku seksual. Stimulasi payudara, baik pada pria maupun wanita, menyebabkan otak mengirimkan sinyal ke kelenjar pituitari untuk melepaskan oksitosin. Menurut penelitian dari British Medical Journal, mereka yang sering orgasme memiliki risiko kematian 50 persen lebih rendah daripada mereka yang jarang atau tidak pernah orgasme.

Selain Orgasme, Penerapan Pola Hidup Sehat juga Penting untuk Dilakukan
Selain melalui orgasme, pencegahan kanker payudara juga bisa dilakukan dengan penerapan gaya hidup sehat. Ini mencakup olahraga dan mengonsumsi makanan sehat. Hubungan antara obesitas dan kanker payudara tidak sepenuhnya dipahami, tetapi menjaga berat badan sehat dapat mengurangi risiko segala macam penyakit.

Produksi estrogen pada jaringan lemak perempuan setelah menopause merupakan faktor utama dari kanker payudara. Pada perempuan dengan kondisi obesitas, jaringan kanker payudara yang sensitif terhadap estrogen terpapar lebih banyak estrogen daripada perempuan dengan berat badan yang sehat. Hal ini dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan kanker payudara.

Perempuan yang aktif berolahraga memiliki kemungkinan 25 persen lebih kecil terkena kanker payudara dibandingkan perempuan yang tidak banyak bergerak. Penelitian menunjukkan bahwa olahraga teratur dapat membantu mencegah kanker payudara dengan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, menangkal obesitas, dan menurunkan kadar estrogen dan insulin.

Selain membantu mempertahankan berat badan, olahraga juga dapat meningkatkan massa tulang, yang merupakan masalah penting bagi pengidap kanker payudara yang telah menjalani kemoterapi dan terapi endokrin. Obat-obatan ini terkait dengan kepadatan mineral tulang yang lebih rendah, yang meningkatkan risiko osteoporosis dan patah tulang.

Kenapa Wanita Lebih Sulit Orgasme?
Studi menemukan bahwa wanita lebih sulit mencapai orgasme saat melakukan hubungan intim. Nyatanya, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan wanita sulit untuk merasakan “puncak” tersebut. Apa saja?

Salah satu kondisi yang dapat menggambarkan ketidakmampuan seseorang mencapai puncak saat melakukan hubungan disebut anorgasmia. Yaitu istilah medis yang menunjukkan satu kondisi di mana seseorang yang telah mendapat stimulasi seksual cukup, tapi masih saja kesulitan mencapai puncak. Kondisi ini lebih banyak dialami oleh wanita ketimbang laki-laki. Lantas, apa itu anorgasmia?

Kondisi ini ditandai dengan gejala utama sulit atau tak mampu mengalami orgasme, sekalipun bisa membutuhkan waktu yang cukup lama. Anorgasmia dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu anorgasmia primer, anorgasmia sekunder, dan anorgasmia situasional. Dari semua jenis kelainan yang ada, biasanya faktor penyebab dan kondisi yang dialami pun berbeda-beda.

Selain anorgasmia, ada beberapa kondisi lain yang bisa memicu seorang wanita sulit mengalami orgasme dalam sebuah hubungan. Di antaranya:

Kelelahan
Salah satu faktor yang dapat menyebabkan seorang wanita sulit orgasme adalah kelelahan. Menurunnya kondisi fisik dan stamina berhubungan langsung dengan kondisi ini. Hal ini sering ditemukan pada wanita yang menjalani “karir” di luar rumah tangga. Artinya selain pekerjaan rumah, wanita tersebut juga memiliki pekerjaan lain di luar rumah.

Wanita kantoran yang menghabiskan banyak waktu untuk duduk diam nyatanya juga akan sulit orgasme. Saat terlalu lama duduk, potensi gangguan pada tulang panggul akan semakin tinggi sehingga menghambat orgasme.

Stres
Stres alias terlalu banyak pikiran pun bisa mengganggu hubungan intim. Alih-alih mendapatkan hubungan yang berkualitas, terlalu banyak pikiran bisa menyebabkan kamu dan pasangan sama-sama tidak puas.

Tak hanya pikiran besar, nyatanya hal sepele yang terlalu dipikirkan pun bisa menjadi pengacau. Pikiran akan dipenuhi dengan satu hal sehingga sulit untuk berfokus dan mungkin tanpa sadar kamu “menolak” dan menahan saat akan mengalami orgasme, ini sering disebut dengan gagal orgasme.

Kurang Stimulasi
Salah satu kunci sukses hubungan intim adalah rangsangan yang cukup. Rangsangan merupakan satu hal yang dapat membantu seseorang lebih cepat mencapai orgasme. Cobalah untuk saling terbuka pada pasangan, sehingga baik kamu maupun Si Dia bisa sama-sama mengetahui daerah mana saja yang perlu diberi stimulasi seksual.

Selain sentuhan, bentuk rangsangan yang bisa dicoba adalah melalui suara. Misalnya “berisik” dalam hubungan yang terbukti dapat membantu mempercepat orgasme.

Faktor Usia
Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa kemampuan orgasme seorang wanita juga dipengaruhi oleh usia. Semakin bertambah usia seseorang, biasanya peluang sulit orgasme akan meningkat pula.

Hal itu berkaitan dengan kondisi organ tubuh atau hal-hal lain yang berkaitan dengan reproduksi. Selain itu, usia yang bertambah pun biasanya bisa membuat seseorang menjadi lebih malas termasuk saat sedang di atas ranjang.

Bertambahnya usia juga bisa menjadi salah satu faktor, karena semakin malas berinteraksi sosial pula. Kurangnya sosialisasi bisa membuat seseorang rentan merasa cemas dan pada akhirnya mengganggu produksi oksitosin, yaitu hormon yang berperan pada sistem reproduksi wanita. (Halodoc/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.