Jumat, 3 April 20

Operasi Penanganan Tumpahan Minyak di Kepri Harus Sinergis

Operasi Penanganan Tumpahan Minyak di Kepri Harus Sinergis
* Rapat koordinasi membahas tentang tumpahan oil spill di kawasan Bintan, yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator  Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia di Graha Kepri Batam, Selasa (25/2/2020). (Foto: Puspen TNI)

Batam. Obsessionnews.com –  Modus operandi pelaku pembuangan limbah dipengaruhi oleh situasi di laut yang sangat dinamis, di mana dilakukan oleh kapal-kapal yang sedang bergerak atau berlayar, sehingga sulit terdeteksi karena terjadi di lokasi yang jauh dari pantauan.

Komandan Gugus Keamanan Laut (Danguskamla) Komando Armada (Koarmada) I Laksma TNI Yayan Sofiyan mengatakan, operasi oil spill atau tumpahan minyak ini memerlukan sinergitas, kerahasiaan, kecepatan penyampaian sharing info dan penindakan.

Hal itu dikemukakan Yayan pada rapat koordinasi membahas tentang tumpahan oil spill di kawasan Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia di Graha Kepri Batam, Selasa (25/2/2020).

Dalam keterangan tertulis Puspen TNI yang diterima obsessionnews.com, Rabu (26/2), dalam kesempatan itu Yayan juga menyampaikan beberapa hal. Antara lain Guskamla Koarmada I sebagai Kolakops Koarmada I telah menggelar Operasi Pamtas RI SIN sekaligus melaksanakan pemantauan oil spill.

“Penegakan hukum yang tegas telah dilaksanakan dengan penangkapan sejumlah kapal-kapal asing di Tanjung Berakit yang sedang lego tanpa izin adalah salah satu bukti keseriusan TNI AL dalam penegakan hukum di laut,” ungkapnya.

Menurutnya, dibutuhkan informasi yang pasti dan cepat dari hasil pantauan satelit oil spill agar dapat dianalisis terhadap AIS kapal pembuang limbah untuk secepatnya diteruskan ke petugas sebelum pelaku meninggalkan yurisdiksi nasional.

“Di lokasi yang sering terjadi pembuangan limbah hendaknya dipasang radar oil spill surveillance di perairan Tanjung Berakit,” ucapnya.

Sementara itu, Asisten Departemen Lingkungan dan Kebencanaan Maritim Sahat Manaor Panggabean selaku pimpinan rapat menyampaikan pokok permasalahan bahwa tumpahan minyak di sepanjang Pantai Lagoi sudah terjadi sejak tahun 1973 tanpa ada solusi yang jelas.

Sejumlah operasi telah dilaksanakan namun belum ada hasil yang signifikan terkesan tidak ada keseriusan dalam penanganan oil spill dan operasi berikutnya berdasarkan info intelijen yang akurat. (ARH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.