Selasa, 19 Oktober 21

Operasi Pasar Beras Murah Pemerintah Kualitasnya Buruk

Operasi Pasar Beras Murah Pemerintah Kualitasnya Buruk

Jakarta, Obsessionnews – Kenaikan harga beras yang mencapai 30 persen membuat beras yang layak dikomsumsi dengan kualitas rendah hingga mencapai Rp11 ribu per kg. “Akibat kenaikan harga beras telah menyebabkan penghasilan kaum buruh semakin jauh panggang dari hidup sejahtera,” ungkap Tri Sasono kepada Obsessionnews, Sabtu (28/2/2015).

Ketua Bidang Humas Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu ini membeberkan, Kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) yang dinikmati buruh untuk Tahun 2015 tidak mencukupi, apalagi saat ini dibarengi dengan ongkos transportasi yang ikut naik juga akibat kenaikan harga BBM.

Begitu pula kenaikan harga beras dan langkanya gas berukuran 3 kg serta diikuti naiknya harga sembilan bahan pokok lainnya, lanjut dia, telah menyebabkan harga harga makanan dan minuman di warung-warung tempat buruh mengkomsumsi makan siangnya juga  ikut naik harganya.

“Yang biasanya cukup dengan 15 ribu rupiah buruh membayar sepiring nasi dengan dua jenis lauk, maka saat ini buruh harus membayar 20 ribu rupiah,” protes Tri Sasono menyesalkan sikap pemerintah membisu dan hanya diam pada saat rakyatnya susah.

Akibat kenaikan harga beras dan harga gas 3 kg, menurutnya, juga meyebabkan berkurangnya pendapatan ekonomi keluarga  para pekerja di sektor informal seperti tukang ojek, tukang becak, pedagang asongan serta buruh lepas harian.

“Pemerintah telah melakukan Operasi Pasar terkait tingginya harga beras dengan menggunakan buffer stock Beras Raskin yang disimpan di Bulog dengan harga Rp7.300 per kilogram, tetapi dari pemantauan Serikat Pekerja dan laporan masyarakat, Beras Operasi Pasar sudah rusak dan bau, berbatu serta banyak kutunya,” ungkap Jurubicara FSP BUMN Bersatu.

Ia pun mengungkapkan, jika memperhatikan mutu beras yang dijual oleh Operasi Pasar Pemerintah sebenarnya adalah jatah  Beras Raskin yang tidak dibagikan selama 4 bulan dari bulan November 2014 sampai dengan saat ini. “Dimana beras raskin itu adalah jatah masyarakat miskin penerima KIS yang akibat tidak dibagikan selama empat bulan beras menjadi rusak,” bebernya.

Terkait pernyataan Presiden Jokowi bahwa ada yang bermain yang menyebabkan harga beras, menurut Tri, justru kelakuan itu disebabkan oleh menterinya sendiri yaitu Menko Perekonomian yang dipimpin Puan Maharani mengurusi Beras Raskin dan KIS yang menyebabkan harga beras naik.

“Kenaikan harga beras bukan karena adanya yang ingin bermain agar pemerintah mengizinkan impor beras adalah salah besar karena buffer stock tidak termanajemeni dengan baik serta banyak daerah gagal panen akibat phenomena perubahan cuaca ban kekeringan,” tandasnya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.