Selasa, 14 Juli 20

Obrolan Pemred Soal Fenomena Komunikasi Pemimpin RI

Obrolan Pemred Soal Fenomena Komunikasi Pemimpin RI

Jakarta – Pemimpin Redaksi media massa angkat bicara mengenai masa depan komunikasi kepemimpinan nasional dalam prespektif media massa ke depan. Pada umunya mereka berharap kepemimpinan negara yang mampu berkomun ikasi dengan baik terhadap publik dan tindakan nyata terhadap masyarakat  pada umumnya.

Demikian terungkap dalam paparan para pemimpin redaksi,  Wahyu Muryadi (Pemred Tempo TV), Arifin Asydhat (Detik.com), Putra Nababa (MetroTV), Petty S Fatimah (Majalah Femina), dan Tosca Santoso (Dirut KBR 68 H), dalam seminar nasional Perhumas bertema ‘Komunikasi dan Kepemimimpinan Masa Depan Indonesia’ pada Prespektif Media Massa, Senin (15/12), di El Meridien Hotel, Jakarta.

Tosca mengganggap kepemimpinan era Jokowi tidak memberikan keuntungan pada media Radio. “Beliau sangat sedikit bicara sehingga kurang menguntugkan bagi kami di radio atau broucast dan menyulitkan untuk mengutip kata-kata beliau,” ungkapnya.

Arifin yakin bahwa media online semakin menarik dalam perkembangan media sekarang, namun mengakui bahwa Jokowi memiliki karakter sedikit bicara. ” kalau berbicara di era kepemimpinan Jokowi saya pikir dia sangat irit untuk bicara “, ungkapnya.

Sedangkan Putra Nababan menggangap ada kesalahan dalam menilai Perhumas dimana Perhumas seakan di posisiskan sebagai Tuhan. ” padahal Perhumas itu seharusnya ada digardan terdepan maupun di belakang dan disegala sisi.

Tapi Wahyu Muryadi membantah kalau Jokowi banyak diam. “Kalau Jokowi datang ke Tempo beliau banyak ngomong meskipun banyak of the record yang tidak bisa dikutip. Jadi, kalau mau ngomong dengan Jokowi harus cari mod dia”, katanya.

Wahyu merincikan model komunikasi tujuh pemimpin Indonesia. “Soekarno Hatta merupakan pemimpin revolusi yang menyuarakan demokrasi terpimpin dari nasionalisme menuju new word orden yang memiliki karismatik yang dikenal dengan jajaran Jasmerah dan nasakom. Dalam era kekuasaanya memikiki ancaman terhadap komunisme, dan tidak ada juru bicara karena saat itu masi sistem otoriter. Dan saat itu pers masih dalam perjuangan”, ungkapnya melalui forum diskusi.

Era Soeharto lanjutnya dikenal dengan era demokrasi pancasila, adanya kontrol terhadap parpol serta dalam militer adanya kekerasan dari pers. Kondisi itu melahirkan ancaman kediktatoran bisnis anak-anak pembredelan pers hingga tempo saat itu adalah korbam dari pembredelan akhirnya pers harus pandai-pandai merintih bui. Dalam kepemimpinan Soeharto melibatkan juru bicara yang dikenal dengan nama Harmoko dan Murdiono.

Ir. Bj. Habibie dikenal dengan era reformasi awal, yang dikenal juga bapak teknologi atau proyek satelit, pondasi Islam (ISMI). Diketahui dalam masanya memiliki ancaman parpol dan militer. Habibie dalam kepemimpinanya menggunakan juru bicara dari orang-orang dekatnya. “Melalui eranya dimana pers memasuki era baru kebebasan pers setiap pemberitaan pers tidak perlu lagi mengeluarkan surat izin pemberitaan pers”,jelasnya.

Era Gusdur dikenal dengan era reformasi tranfisional yang dikenal bapak pluralisme Yang sangat informal protokoler. Kita kenal jargonnya kok gitu saja repot sehingga statment dan kebijakannya yang dikenal kontrovesional, dengan menempatkan  Istana milik rakyat namun terancam dengan beberapa militer. Era Gusdur memakai empat juru bicara. Kondisi era saat itu bebas tapi sering tidak berelasi.

Hal lain juga ditemukan dalam kepemimpinan Mega Wati yang dikenal dengan era reformasi, nasionalisme, silen is golden, berjarak dengan masyarakat, sangat protokoler dan memulai membentuk bombasi. Namun sikap itu menjadi ancaman yang disebabkan hanya mengandalkan basis Banten. “Pasca itu kepemimpinan Mega jarang kontak dengan pers sehingga sulit diketahui pola pikir Mega oleh media padahal bu Mega memiliki pemikiran yang bagus, namun dengan ketertutupannya sehingga sulit ditranformasikan”, ungkapnya.

Era presiden ke enam SBY yang ingin dicitrakan sebagai bapak demokrasi yang dimana strategi pencitraan berlebihan. Dalam kepemimpinanya mengalami ancaman adanya korupsi orang-orang dekatnya. SBY memakai juru bicara dengan melibatkan kaum terpelajar. Dalam perkembangam sosmed tergolong terlambat.

Kepemimpinan ketujuh Jokowi yang dikenal dengan sebutan Presiden blusukan dengan menempatkan Istana untuk rakyat jilid dua. Dikenal dengan Penyusunan kabinet komprehensif, Presiden yang fenomenal relawan dan sosmed. Dalam kepemimpinan ini terlihat ancaman parlemen Koalisi Merah Putih dan belum lihai dalam mengontrol kekuatan militer. Dalam era Jokowi juru bicara belum jelas dan saya pikir cenderung over statement, ungkapnya.

Namun Petty mengharapkan pemimpin ke depan itu harus pertama Reachable media sawy, listenes, openes, human. Kedua, knowledge mencangkup expet, comunicative, call level, game-changer dan global prespective.ketiga responsif mencakup always on the go, service oriented dan people oriented. Ke empat gender perspektif mencakup equality, power sharing, contribution, dan kompenten. (Asm)

 

Related posts