Rabu, 20 Oktober 21

Nyonya Meneer, Riwayatmu Kini…

Nyonya Meneer, Riwayatmu Kini…

Semarang, Obsessionnews.com – “Pesen jamu pegel linu, Mas, sama bungkusin satu yang rapet wangi, buat istri,” ujar Eko tersipu malu.

Si penjual dengan cekatan meracik pesanan Eko. Telur ayam kampung dicampurkannya dengan jamu bertuliskan cap Nyonya Meneer dan potret wanita Jawa berkonde. Tak sampai lima menit, Eko menenggak secangkir minuman tradisional hingga habis.

Pabrik jamu Nyonya Meneer di Semarang. Perusahaan ini dibangun tahun 1919. (Foto: Yusuf Isyrin  Hanggara/obsessionnews.com)
Pabrik jamu Nyonya Meneer di Semarang. Perusahaan ini dibangun tahun 1919. (Foto: Yusuf Isyrin Hanggara/obsessionnews.com)

Eko salah seorang dari sekian banyak pelanggan dari kedai jamu yang beralamat di Jalan Sriwijaya, Kota Semarang, Jawa Tengah, itu. Telah puluhan tahun ia mengonsumsi obat alami ini. Kala badannya terasa capai, ia lebih memilih meminum jamu ketimbang harus berobat ke dokter.

Ya, jamu, sebuah minuman atau istilah modernnya herbal medicine ternyata telah dikenal sejak dulu. Tua muda, mungkin mungkin lebih banyak golongan tua, menggemari jamu. Rasa khas dan khasiat jamu ini agaknya menjadi candu. Apalagi dicampur anggur atau madu. Makin menambah cita rasa dari jamu.

Barangkali sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Jawa menggunakan jamu sewaktu sakit. Jika di masa lampau jamu hanya berupa campuran sambiroto, jahe dan akar-akaran yang diambil sarinya, saat ini banyak sekali model jamu berada di pasaran. Mulai dari serbuk, cair sampai bentuk pil tersedia.

Anto, pemilik kedai jamu, menjelaskan jamu merk Nyonya Meneer memang laku keras di kalangan penjual jamu seperti dirinya. Sejak tujuh tahun lalu, ia rutin memesan jamu tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.

Jamu Ciptaan Meneer

Jamu Nyonya Meneer diciptakan oleh Lauw Ping No, seorang keturunan China asal Sidoarjo, Jawa Timur. Konon cerita sewaktu ibunda Lauw mengandung sangat menginginkan beras halus hasil tumbukan padi. Sebutan tumbukan halus (yang dalam bahasa jawa disebut menir) itu dijadikan nama panggilan Lauw menjadi Meneer sesuai ejaan Belanda waktu itu.

Suatu saat suami Meneer sakit keras ia mencoba berbagai metode penyembuhan yang berakhir sia-sia. Pada masa sekitar tahun 1900an Belanda masih bercokol di bumi Indonesia. Pengobatan medis cenderung sangat sulit ditemui ketimbang sekarang. Meneer kemudian mencoba meramu jamu Jawa yang diajarkan orang tuanya dulu. Alhasil sang suami sembuh. Semenjak itulah Meneer menjadi lebih giat lagi memperdalam ilmu warisan untuk menolong saudara, kerabat dan tetangga.

Kabar khasiat jamu buatan Meneer tersebar luas ke seantero kota. Seringkali pemesan dari luar kota tidak mau menerima jamu yang dikirim selain oleh Meneer. Maklum saja, pada waktu itu banyak peniru produk jamu buatannya. Tak hilang akal, Meneer menyiasati menjual jamu dengan kemasan yang diberi gambar foto dirinya supaya pembeli yakin, bahwa jamu yang diminumnya asli buatan Nyonya Meneer.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Pada tahun 1919 atas desakan keluarga, Meneer secara resmi membuka perusahaan Jamu Nyonya Meneer. Toko perdana ia tempatkan di Jalan Pedamaran Nomor 92 Semarang. Meneer juga mendirikan pabrik yang nantinya menjadi cikal bakal salah satu industri jamu terbesar di Indonesia.

Anggota keluarga Meneer lain tak lantas hanya berdiam diri saja. Salah satu putrinya bernama Nonie Saerang ikut membesarkan nama Jamu Nyonya Meneer dengan berjualan jamu di Jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta. Sementara itu Ong Han How atau yang lebih dikenal dengan Hans Ramana, anak lelaki Meneer, membantu sang ibu dengan mengelola pabrik jamu yang ada di Semarang.

Konflik Keluarga

Bukan jalan mudah bagi perusahaan sekelas Nyonya Meneer tetap eksis hingga sekarang. Berulang kali perusahaan yang saat ini dipegang oleh Charles Saerang, cucu Lauw Ping No, tersandung permasalahan. Tahun 1976 Hans Ramana yang sejatinya didaulat sebagai Direktur Utama perusahaan meninggal dunia. Tak butuh waktu lama, sang maestro perajin jamu Nyonya Meneer ikut menyusul pada tanggal 23 April 1978.

Sepeninggal mereka berdua, konflik di dalam keluarga menjadi-jadi. Anak dan cucu Meneer berebut kendali perusahaan. Konflik tersebut berlangsung cukup panas. Puncaknya di tahun 1980 Nyonya Meneer mengalami perpecahan yang hebat.

Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara waktu itu ikut turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan perusahaan keluarga ini. Skala efek dari konflik ini berdampak bagi perekenomian nasional. Campur tangan Cosmas Batubara dipandang perlu karena Nyonya Meneer saat itu telah menjelma menjadi sebuah perusahaan besar dengan jumlah karyawan 3.500 orang. Selama setahun tahun penyelesaian konflik dimediasi oleh Cosmas dan memberikan solusi berupa pelepasan saham oleh dua anak Nyonya Meneer beserta keluarga, yakni Lucy Saerang dan Marie Kalalo.

Cobaan seakan terus mendera perusahaan jamu yang berusia lebih dari satu abad ini. Pergolakan kembali terjadi di tahun 1989 hingga 1994. Yang berbeda konflik itu berlangsung lebih lama yakni selama kurang lebih 5 tahun. Pertikaian antara Nonie Saerang dengan Hans Pangemanan, anak dari suami kedua Nyonya Meneer, menjadikan perusahaan kembali kehilangan arah. Kali ini meja hijau diajukan sebagai perdamaian. Konflik dapat terpecahkan lagi-lagi dengan pelepasan saham. Keluarga Hans Pangemanan merelakan pihaknya tidak lagi ikut menikmati saham Nyonya Meneer.

Para buruh Nyonya Meneer berunjuk rasa di Pengadilan Tata Niaga Semarang, (Selasa, 10/3/2015), menuntut agar perusahaan itu tidak dipailitkan.  (Foto: Yusuf Isyrin Hanggara/obsessionnews.com)
Para buruh Nyonya Meneer berunjuk rasa di Pengadilan Tata Niaga Semarang, (Selasa, 10/3/2015), menuntut agar perusahaan itu tidak dipailitkan. (Foto: Yusuf Isyrin Hanggara/obsessionnews.com)

Belum sempat perusahaan jamu itu menarik nafas, Charles Saerang terpaksa berhadapan dengan tantenya sendiri, Nonie Saerang, karena perbedaan porsi saham. Krisis di dalam tubuh Nyonya Meneer ini berlangsung dari tahun 1995 sampai tahun 2000. Butuh waktu lima tahun hingga akhirnya pada tanggal 27 Oktober 2000 keluarga besar Nonie Saerang melepaskan cengkeramannya dan memberikan Nyonya Meneer kepada sang keponakan, Charles Saerang.

Perang antar generasi di industri Nyonya Meneer memang sudah usai. Di awal 2015 perusahaan jamu tersebut kembali dirundung masalah. Bukan karena perpecahan, namun karena hutang. Seperti yang diketahui, PT Nyonya Meneer memiliki hutang sebanyak Rp. 267 milliar kepada para kreditur. Belum lagi para pegawainya yang menuntut jaminan pesangon bila perusahaan terpaksa dipailitkan. Keputusan majelis hakim Pengadilan Tata Niaga Semarang belum mencapai finalnya. Akankah ini menjadi akhir sang Nyonya Meneer?

Nyonya Meneer, riwayatmu kini…(Yusuf Isyrin Hanggara)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.