Kamis, 4 Juni 20

Nyaris Dibully Seumur Hidup, Perempuan Marijuana itu Akhirnya Bergelar Doktor

Nyaris Dibully Seumur Hidup, Perempuan Marijuana itu Akhirnya Bergelar Doktor
* Marijuana saat meraih gelar doktor. (Foto: kompas.com)

Washinton, Obsessionnews.com – Marijuana Pepsi Vandyck, seorang warga kulit hitam Amerika Serikat mampu mengubah image negatif pada namanya dengan meraih gelar PhD untuk bidang studi kepemimpinan pendidikan tinggi dari Universitas Cardinal Stritch, Wisconsin.

Gelar itu diperoleh setelah dia berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Nama orang kulit hitam di sekolah kulit putih – perilaku guru dan persepsi murid”.

Perempuan yang kini berusia 46 tahun itu nyaris seumur hidup dibully akibat namanya yang tak lazim, namun akhirnya ia sukses membungkam mereka yang menghinanya setelah meraih gelar doktor.

“Meski nama saya tak lazim, saya tak pernah berpikir akan dampanya terhadap orang lain,” ujarnya dilansir dari BBC, Selasa (25/6/2019).

Marijuana, nama akrab yang suka dipanggil oleh orang-orang di sekitarnya. Nama unik inilah yang membuat Marijuana kerap menjadi bahan olok-olok. Meski demikian, ia tak mau mengganti namanya.

Dia malah menggunakan pengalamannya untuk meneliti nama-nama “unik” yang digunakan warga kulit hitam Amerika dan pengaruhnya terhadap pendidikan anak-anak mereka.

“Namamu akan membawamu berkeliling dunia,” demikian Marijuana mengenang kata-kata ibunya.

“Saat itu saya pikir ‘masa sih’, tetapi saya sangat memahami ibu saya. Dia pintar, jenius, dan saya percaya semua kata-katanya,” tambah dia.

Saat berusia sembilan tahun, Marijuana baru menyadari bahwa namanya sangat tidak konvensional. Di sebuah sekolah di Wisconsin, dia mengenang, tak hanya teman-temannya, para guru juga mengomentari namanya.

“Nama Marijuana saja sudah tak lazim dan masih ditambah Pepsi. Dan berbagai komentar soal nama ini belum berakhir hingga sekarang,” ujar Marijuana kepada BBC.

“Banyak yang meminta untuk memanggil saya Mary, dan semua baik-baik saja hingga saya menjadi juara lomba mengeja,” kata Marijuana.

“Saya pulang dengan piagam saya dan ibu amat marah ketika membaca nama saya menjadi Mary Jackson,” lanjut dia.

Sang ibu kemudian meminta Marijuana agar tidak mau dipanggil dengan nama Mary. “Ibu kemudian pergi ke sekolah dan meminta agar nama saya di piagam itu diganti. Dan, dia tak main-main,” tambah Marijuana.

Saat duduk di bangku SD, nama tak lazim ini hanya sekadar menjadi pertanyaan. Namun, saat duduk di bangku SMA, nama uniknya menjadi bahan olok-olok.

“Nama ini seperti memberi mereka amunisi, saya mencoba bertahan hingga satu hari saya tak tahan lagi,” paparmnya.

Meski demikian, keluarga meminta Marijuana agar bertahan dengan berbagai komentar itu dan mengubah perilakunya.

Bulan lalu, Marijuana meraih gelar PhD untuk bidang studi kepemimpinan pendidikan tinggi dari Universitas Cardinal Stritch, Wisconsin.

Gelar itu diperoleh setelah dia berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Nama orang kulit hitam di sekolah kulit putih – perilaku guru dan persepsi murid”.

“Meski nama saya tak lazim, saya tak pernah berpikir akan dampanya terhadap orang lain,” ujarnya.

Saat pertama kali bekerja sebagai guru, Marijuana mengingat seorang rekannya memprotes nama murid yang akan diajarnya.

“Saya bertanya apa yang terjadi dan ternyata dia bisa menduga nama-nama itu adalah murid berkulit hitam,” kenangnya.

Kejadian itulah yang kemudian menjadi ide Marijuana untuk menulis disertasi yang mengantarkannya meraih gelar doktor.

Marijuana kini sudah menikah. Dia tinggal di Illinois bersama suami dan putranya. Dia saat ini bekerja dalam sebuah program untuk membantu para mahasiswa.

“Kita adalah manusia, saat kita mendengar sebuah nama, kita membentuk opini dan menilai. Apakah seseorang itu telah berbuat sesuatu yang berbeda, adalah hal lain,” kata Marijuana. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.