Rabu, 8 April 20

NU dan PKI

NU dan PKI
* Hendrajit. (Foto: FB Hendrajit)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

 

Ada saat ketika NU dan PKI pernah bermain pedang di dalam sarung yang sama. Tapi itu dulu. Pra 1965 ketika NU dan PKI masih sama sama sebagai partai. Sama sama jelas wujud organnya. Sama-sama jelas ideologinya. Sama sama jelas bobot dan kualitas kadernya.

Sekarang sudah beda. NU bukan lagi partai. Perilakunya sebagai organ maupun kader, tak lebih dari sekadar kelompok kepentingan atau interest group, yang tersebar di berbagai partai dan ormas. PKI, setelah dibubarkan sebagai partai, baik sebagai organ maupun kader, dalam situasi ada dalam tiada. Atau diada-adakan dari ketiadaan. Tim siluman? Bisa jadi.

Walhasil, tema konflik pun jadi nggak bermutu. Kalau dulu konflik politik antar partai atau antar organ politik, jelas tema sentralnya. Maupun isu-isu turunannya. Sehingga penonton politik pun ikut belajar. Sebab tema dan isu yang digelar bersifat transparan.

Kalau sekarang, konflik politik antar kelompok, bersifat terselubung. Tema yang diangkat pun dibungkus. Misalnya tentang radikalisme. Isu radikalisme itu hanya ibarat cangkang telur.

Yang berbahaya bukan radikalismenya, tapi isi di dalam cangkang telur itu. Orang menyangka ini mau menyasar umat Islam. Dan inginnya memang dikesankan begitu.

Padahal saya tahu apa agenda sesungguhnya. Kembali tadi itu. Ada dua kelompok besar sedang beradu pedang di dalam sarung yang sama. Kalau dulu cangkangnya adalah NASAKOM, yang kemudian cangkang itu pecah pada G30S 1965. Sekarang cangkangnya adalah isu radikalisme dan deradikalisasi.

Lantas, kapan radikalisme sebagai cangkang telur itu pecah?

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.