Senin, 26 Oktober 20

Nomor Urut Unik, Pilpres 2019 Asyik? Meneropong Pilpres Bag. 6

<span class=Nomor Urut Unik, Pilpres 2019 Asyik? Meneropong Pilpres Bag. 6">

Oleh: Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

Penetapan nomor urut pilpres 2019 sudah diketahui. Jokowi-Ma’ruf Amin bernomor urut 1. Prabowo-Sandiaga (PADI) Uno bernonomor 2. Nomor urut tadi menjadi unik. Terlebih bagi masing-masing pendukung. Sudah menjadi karakter masyarakat Indonesia yang suka gotak-gathuk masuk. Nomor urut pilpres dikaitkan dengan doa dan kemenangan capres-cawapres pujaannya. Kondisi demikian menjadi pemandangan lumrah dalam setiap hajatan pemilu.

Baik nomor 1 atau 2 bagi ‘pengantin’ pilpres 2019 tidak menjadi persoalan. Kode nomor urut bisa saja diabaikan. Lebih fokus pada tawaran program bagi lawan dan pameran kinerja dari petahana. Lain pengantin, lain dengan pengiring (pendukung). Kreatifitas tanpa batas ditunjukan pengiring untuk meramaikan hajatan pilpres.

Jika sebelumnya ramai #2019GantiPresiden yang diidentikan dengan kubu PADI, maka dengan nomor 2 dikatikan dengan kode Islam dan dukungan. 2 tanda kalimat syahadat, 212 didukung oleh umat. Sementara, #2019TetapJokowi dikaitkan dengan 1 periode lagi Jokowi terpilih.

Tahapan pasca pengambilan nomor urut pilpres, mesin-mesin kampanye mulai dipanaskan. Konsolidasi tim kampanye, perebutan suara publik, hingga klaim layak menang sudah di tangan. Kontestasi pilpres panas disebabkan semua calon berebut menjadi nomor 1 dan 2 di Indonesia. Artinya ada sesuatu maha menarik tatkala jadi presiden-wakil presiden.

Pilpres 2019 terlihat asyik dari permainan nomor urut unik dikarenakan beberapa hal: Pertama, komunikasi politik yang dibangun tim kampanye ingin mendekatkan calon kepada rakyat. Ujungnya pada April 2019 rakyat tak salah memilih dan ingat gambar pasangan calon. Komunikasi politik yang menyasar publik bertujuan untuk mempengaruhi dan membius agar berkeyakinan bahwa pilihannya terbaik.

Kedua, nomor unik merupakan bahasa simbolik. Tidak ada tafsir baku. Semuanya terserah selera masing-masing penafsir. Tentu yang harus dihindari yaitu tafsir yang dikaitkan dengan mistitisme yang malah menjauhkan manusia dari Allah Swt. Simbolisme inilah yang nanti akan dimasukan ke dalam jiwa, hingga rakyat betul meyakini jagoannya menang di pilpres 2019.

Ketiga, kreatifitas tiap pendukung diekspresikan dalam simbol meme, display picture profile, wallpaper, logo, stiker, dan lainnya. Masing-masing membawa pesan untuk suatu kemenangan. Pada tahapan kampanye, rakyat senantiasa disuguhi gambar dan nomor paslon. Kondisi inilah yang mempertemukan kreatifitas bisnis dengan industri politik.

Setiap rakyat bisa saja berspekulasi dengan nomor unik paslon capres-cawapres. Justru yang harus dipahami rakyat yaitu komitmen paslon dalam membela kepentingan rakyat dan mengurusi urusan umat. Demokrasi millenial dengan gaya liberal telah menggilas dan menghilangkan identitas anak bangsa. Kesibukan rakyat gothak-gathuk tampaknya melupakan esensi dari setiap suksesi kepemimpinan.

Rakyat yang tengah mengidap anomali politik hendaknya kembali sadar bahwa setiap kontestasi nasibnya sering dikucilkan. Rakyat sekadar pemanis demi meraup dukungan suara. Sekali lagi demokrasi tak menjanjikan mimpi-mimpi rakyat terwujud nyata. Sebaliknya, rakyat berkali-kali menelan pil pahit yang berujung sakit.

Seharusnya rakyat mengambil sikap nyata. Jangan larut pada euforia perebutan kursi kepresidenan. Rakyat harus menajamkan mata batin politik untuk mengetahui: apa dan bagaimana nasib dirinya pasca keterpilihan pemimpin Indonesia? Masihkan mampu hidup dalam naungan prinsip dan cita-cita agamanya? Atau justru terpuruk dan terkubur bersama sistem perusak negeri ini? Di tangan rakyat Indonesialah ditentukan. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.