Selasa, 29 September 20

Nobar Film G-30-S PKI Bangkitkan Semangat Nasionalisme Anti PKI

Nobar Film G-30-S PKI Bangkitkan Semangat Nasionalisme Anti PKI

Oleh: Pradipa Yoedhanegara.  Pengamat Sosial Politik

 

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, atau Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah”. Itulah salah satu inti pesan yang disampaikan oleh Bung Karno pada pidato di depan MPRS, pada tanggal 17 Agustus 1966, yang kemudian dikenal sebagai pidato dengan nama “Jasmerah“.

Pro dan Kontra atau pun polemik yang muncul didalam masyarakat saat ini sebagai akibat dari statement cerdas panglima TNI Jenderal. Gatot Nurmantyo mengenai ajakan Nonton bareng (Nobar) film yang menceritakan tentang sejarah kelam pemberontakan G.30 S PKI sudah selayaknya diacungi jempol dan mendapat apresiasi serta dukungan luas dari seluruh lapisan masyarakat*.

Sebagai patriot dan prajurit sapta marga panglima TNI dan institusi TNI memiliki *”kewajiban mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara” yang kini sedang di manipulasi melalui skenario pemutar balikkan fakta sejarah untuk menjatuhkan wibawa negara dan para patriot yang telah gugur sebagai pahlawan revolusi.

“Sudah menjadi rahasia umum dan merupakan fakta sejarah” kalau PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1948 yang saat itu dipimpin oleh MUSO pernah melakukan pemberontakan dan pengkhianatan terhadap negara kesatuan republik indonesia, jauh sebelum terjadinya pemberontakan dan pembunuhan para Jenderal yang dikenal sebagai peristiwa G 30.S PKI atau Gerakan 1 Oktober (Gestok).

Yaitu pada peristiwa Madiun tanggal 18 September tahun 1948 yang didukung oleh partai-partai aliran kiri lainnya yang tergabung dalam sebuah wadah organisasi bernama *”Front Demokrasi Rakyat”* (FDR). Pemberontakan PKI tersebut dilatar belakangi dengan jatuhnya kabinet RI yang pada waktu itu dipimpin oleh Amir Sjarifuddin karena kabinetnya tidak mendapat dukungan lagi dari parlemen sejak disepakatinya Perjanjian Renville. Kemudian dibentuklah suatu kabinet baru dengan dipilihnya Mohammad Hatta sebagai perdana menterinya, namun Amir beserta kelompok-kelompok sayap kiri lainnya tidak setuju dengan terjadinya pergantian kabinet tersebut.

Peristiwa Madiun atau yang dikenal sebagai *”Madiun Affairs”* ini dimulai pada pukul 03.00 dini hari yang diawali oleh tembakan pistol diudara sebanyak tiga kali, sebagai tanda dimulainya gerakan pemberontak oleh kesatuan komunis yang disusul dengan gerakan pelucutan senjata milik TNI yang pro terhadap pemerintah hatta yang sah saat itu.

Kemudian, kesatuan PKI dan FDR menduduki tempat dan sarana penting milik pemerintahan yang sah di kota Madiun, seperti kantor pos, gedung bank, kantor telepon, dan kantor polisi. Setelah itu, gerakan berlanjut dengan penguasaan kantor radio RRI dan gelora pemuda sebagai alat komunikasi bagi mereka untuk mengumumkan ke seluruh negeri tentang penguasaan kota Madiun yang akan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan telah medeklarasikan diri dengan *”mendirikan negara Sovyet Republik Indonesia”* serta pembentukan pemerintahan Front Nasional.

Bersamaan dengan dilangsungkannya kudeta terhadap pemerintahan Hatta yang sah, pendukung dan para simpatisan PKI di madiun juga banyak mengincar dan membunuhi para tokoh-tokoh masyarakat yang berasal dari kalangan Pondok Pesantren, *”salah satunya adalah Pondok Pesantren Sabilul Muttaqien yang dianggap sebagai musuh utama mereka”*.

Pondok Pesantren Sabilul Muttaqien atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Takeran pimpinan Kyai Imam Mursjid Muttaqien yang konon masih berusia 28 tahun merupakan salah satu tokoh ulama berpengaruh serta kharismatik saat itu, dan juga sebagai salah satu pondok pesantren yang banyak pengikutnya di kawasan Magetan, selain itu sang kyai juga bertindak sebagai imam tarekat Syatariyah.

Kenapa Pondok Pesantren dan para Kyai serta Santri Ponpes Takeran menjadi musuh utama PKI? Karena di dalam Pondok pesantren tersebut menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan oleh PKI. Sebab, di dalam pesantren Takeran para kyai begitu sangat aktif untuk melakukan dakwah pendidikan terhadap nilai-nilai keagamaan, serta penggemblengan fisik dan spiritual terhadap para santrinya yang menurut; *”ajaran PKI agama harus dijauhkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara”.

Pada tanggal 17 September 1948, tepatnya hari Jumat Pon, Kiai Hamzah dan Kiai Nurun yang berasal dari Tulungagung dan Tegal Rejo berpamitan kepada Kiai Imam Mursjid. Kepergian Kiai Hamzah dan Kiai Nurun ke Burikan itu ternyata untuk yang terakhir kalinya. Sebab pada hari Sabtu Wage, 18 September 1948, Pesantren Burikan diserbu oleh PKI, dan para tokoh pesantren serta para santri, termasuk Kiai Hamzah dan Kiai Nurun yang masih ada di pesantren tersebut, diseret ke Desa Batokan yang letaknya hanya 500 meter dari Pesantren Burikan. *”Kyai Hamzah dan Kyai Nurun termasuk diantara para korban yang dibantai oleh PKI di lubang pembantaian Sumur Batokan”*.

Namun saat ini apabila generasi muda ingin melihat sejarah kelam bangsa berkunjunglah ke *”monumen Soco di desa soco, kecamatan bendo, kabupaten magetan”* dan lihatlah di tembok monumen tersebut, dimana terpampang sebanyak 108 nama korban. Mereka di antaranya adalah bupati Magetan, para anggota kepolisian, patih Magetan, wedana, kepala pengadilan Magetan, kepala penerangan Magetan, lima orang kyai, santri dan para warga biasa lainnya.

Selain itu masih ada *”lima sumur lainnya yang juga dipakai sebagai ajang pembantaian orang”* oleh pengikut dan para simpatisan PKI, dan apabila dijumlahkan, seluruh korban pembantaian keji PKI tercatat ada sekitar 114 orang. *”Beberapa nama ulama yang ada di monumen itu di antaranya tertulis KH Imam Shofwan”*. Beliau merupakan salah satu pengasuh diPondok Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun.

KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali. Bahkan, ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan suara azan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kiai Zubeir dan Kiai Bawani, juga menjadi korban dan dikubur dalam keadaan masih hidup secara bersama-sama.

Selain Monumen Soco, masih ada begitu banyak Monumen lainnya yang menjadi saksi bisu sejarah kelam kekejaman dan pengkhianatan PKI di negeri tercinta ini pada tahun 1948 yaitu *”Monumen Kresek dan Monumen Tirtomoyo”*. Mungkin masih banyak lagi monumen-monumen tragedi 1948 yang secara pribadi belum sama sekali saya ketahui mengenai pembantaian yang dilakukan oleh para kader PKI beserta para simpatisannya.

Hari ini yang terjadi dinegeri ini jika melihat dari sudut pandang Psikologi Politik secara nasional mungkin hampir sama seperti suasana politik di tahun 1948 dan 1965 dimana terjadi aksi saling teror dan saling memutar balikkan Fakta sejarah maupun informasi yang berkembang dihadapan publik. *”Dengan adanya Tap MPRS no XXV/1966 Membuat secara Organisatoris Partai Komunis Indonesia, itu sudah mati”*, tapi PKI dengan entitas politik dan gaya baru sudah muncul ke permukaan masyarakat dengan banyaknya yang memiliki hobby melakukan pemutarbalikkan Fakta Sejarah, seolah PKI adalah Korban dari kebiadaban politik negara.

*”Pengalaman buruk bangsa di masa lalu saat PKI melakukan pemberontakan ditahun 1948 dan 1965 adalah sebagai Fakta Sejarah yang tidak bisa dibantah dan direkayasa oleh siapapun”*, dan pengalaman buruk tersebut sebaiknya dijadikan pelajaran berharga bagi seluruh generasi muda dimasa mendatang. *”Agar hal tersebut dapat selalu diingat oleh seluruh Generasi penerus bangsa”*agar tragedi kebiadaban seperti yang dilakukan oleh PKI tidak kembali terulang dinegeri tercinta ini.

Film Sejarah Gerakan 30 September yang di sutradarai oleh Arifin C. Noer memang secara umum belum begitu sempurna karena dianggap sebagai alat propaganda orde baru dan banyak menuai Kontroversi publik, *”tapi sebagai sebuah literatur karya film bersejarah sudah sangat memadai untuk ditonton oleh segenap anak bangsa dinegeri ini sebagai pelajaran sejarah kelam pengkhianatan yang dilakukan oleh PKI ditahun 1965″*.

Secara pribadi saya melihat seruan nonton bareng Film G. 30 S PKI oleh panglima TNI seharusnya juga dilakukan atas dasar kesadaran publik terhadap adanya bahaya *”Pemahaman Komunis Gaya Baru”* yang ingin membenturkan antara *”Islam dengan Ideologi Pancasila”*, padahal secara harfiah Pancasila Lahir sebagai sebuah ideologi yang sesuai dengan ajaran Islam dan lahirnya Pancasila mendapatkan dukungan utama dari para ulama.
Sebab keduanya memiliki nilai yang sejalan, *”Antara Paham Islam dengan ideologi negara pancasila sesungguhnya tidak bertentangan, Karena Tidak ada nilai dalam Islam yang bertentangan dengan Pancasila,”*.

Selain itu dengan diadakannya acara nonton bareng Film G 30 S PKI, *”akan memupuk rasa solidaritas yang tinggi dari seluruh masyarakat luas serta menumbuhkan kembali semangat nasionalisme kebangsaan dan persatuan nasional yang anti terhadap paham PKI”*. Karena ajaran Komunisme yang tidak sesuai dengan Ideologi Pancasila dan bertentangan dengan nilai dalam ajaran agama manapun juga.

Sebagai Pesan penutup sudah selayaknya “sebagai sebuah bangsa yang besar kita mau mengingat sejarah bangsa ini dimasa lalu dengan tidak menguburnya begitu saja”. Agar generasi dimasa mendatang bisa cepat tersadar kalau sejarah bangkitnya Paham Komunis akan kembali terulang dan semoga saja TNI sebagai sebuah Institusi negara bisa mengambil sikap tegas dan tahu kapan saatnya harus bergerak dan bertindak, serta tidak hanya diam saja saat kondisi bangsa saat ini mulai terbelah. *”Saya Indonesia, Saya Pancasila dan Saya Mendukung Nonton Bareng Film Sejarah G.30 S PKI”.

Wauwlahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassalamuallaikum Wr,Wb.

Jakarta 22 September 2017

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.