Rabu, 22 September 21

Nilai Tukar Rupiah ‘Tidak Sehat’

Nilai Tukar Rupiah ‘Tidak Sehat’
* Nilai rupiah menyentuh titik terendah selama 17 tahun terakhir pada awal Juni. (BBC)

Jakarta – Nilai tukar mata uang rupiah cenderung menurun belakangan bahkan selama enam bulan pertama tahun 2015 terdepresiasi sekitar 5-6%.

Dalam perdagangan Selasa (7/7), rupiah diperdagangkan di kisaran Rp13.280 untuk US$1, yang melampui asumsi dari APBN Perubahan 2015 sebesar Rp12.500 yang telah beberapa kali direvisi dari patokan sebelumnya Rp11.900.

Setidaknya dua faktor, eksternal dan internal, berkontribusi terhadap turunnnya mata uang rupiah.
Staf khusus Kementerian Keuangan, Arif Budimanta, menyebut nilai rupiah turun karena mata uang dolar Amerika Serikat menguat di tengah peningkatan pertumbuhan ekonomi dan antisipasi kenaikan suku bunga di negara itu.

“Dan kita tahu fenomena super dolar itu tekanannya tidak hanya terjadi pada nilai tukar rupiah tetapi hampir kepada seluruh mata uang dunia, termasuk euro.”

Gebrakan ekonomi pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang semula ditunggu-tunggu, belum terealisasi. (BBC)
Gebrakan ekonomi pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang semula ditunggu-tunggu, belum terealisasi. (BBC)

Permintaan Dolar
Yang juga mendasar adalah faktor internal walaupun selama ini pemerintah cenderung mengedepankan faktor penguatan dolar.

“Di dalam negerinya faktor neraca transaksi berjalan kita dari tahun ke tahun mengalami defisit. Yang kedua, neraca perdagangan kita beberapa tahun sebelum ini cenderung mengalami defisit, walaupun tahun ini sudah mulai positif.

“Tetapi bukan karena peningkatan ekspor, melainkan karena penurunan impor. Masalahnya, walaupun neraca perdagangannya positif tetapi devisanya tidak masuk di dalam negeri. Devisanya oleh para eksportir diparkir di luar,” jelas pengamat pasar uang Farial Anwar.

Ditambahkan oleh Farial Anwar, kondisi tersebut diperburuk oleh peningkatan permintaan dolar Amerika Serikat.

“Untuk impor dan yang kedua untuk membayar utang valuta asing karena sekarang hampir sebagian besar utang valuta asing sektor swasta yang totalnya US$167 miliar, sebagian besar tidak di-hedge (tidak dilindungi nilainya). Hanya sekitar 24% yang di-hedge.

“Sehingga mereka menjadi panik ketika dolarnya naik jadi terjadi pembelian di pasar spot.”

Pemrosotan rupiah dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi ekonomi, termasuk sektor padat karya seperti tekstil. (BBC)
Pemrosotan rupiah dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi ekonomi, termasuk sektor padat karya seperti tekstil. (BBC)

Penyerapan Anggaran
Di samping itu, lanjut Farial Anwar, pasar dan dunia usaha melihat ekonomi Indonesia bermasalah. Salah satu landasannya adalah penurunan pertumbuhan ekonomi dari target di atas 5% menjadi 4,7%.

Penurunan ini bisa dipahami sebab hingga pengeluaran pemerintah masih bermasalah. Kinerja belanja negara selama enam bulan tahun 2015 diperkirakan baru terserap 39% dari total alokasi anggaran Rp 1.984 triliun dalam APBNP.

Keadaan itu, menurut staf khusus Kementerian Keuangan, Arif Budimanta, berubah mulai pertengahan tahun ini setelah kementerian-kementerian rampung melakukan perombakan dan seluruh program ekonomi Presiden Joko Widodo ditampung dalam APBNP.

“Sekarang adalah waktu untuk melakukan proses take off (lepas landas) sehingga kemudian pada semester kedua yang sekarang sudah mulai berjalan sampai dengan akhir semester kedua, kita harapkan pertumbuhan ekonomi akan lebih baik lagi, bisa di kisaran 4,7%-5%,” jelasnya kepada BBC Indonesia.

Sementara rupiah masih merosot, para pedagang valuta asing tidak berani menumpuk dolar.
“Kita beli, kemudian jual, beli dan jual,” kata Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing Bali, Ayu Astuti Dama. (BBC Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.