Senin, 30 Januari 23

Nikmatnya Berpuasa dan Berlebaran di Luar Negeri

LEBARAN menjadi momentum yang ditunggu oleh para kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru dunia. Momen tersebut menjadi sangat berarti karena adanya silaturahmi antar keluarga inti, tetangga, keluarga besar, teman hingga kolega dalam pekerjaan. Berlebaran di tanah air identik dengan mudik atau kembali ke rumah orang tua berkumpul dengan kerabat.

Hidangan khas lebaran seperti opor dan ketupat serta berbagai penganan lainnya menjadi hal yang sangat popular disajikan. Hal tersebut berlangsung lebih dari 20 tahun dalam hidup Prita Sari Dewi,Ph.D., sampai tiba saatnya Prita Sari Dewi,Ph.D. mengalami puasa dan lebaran sebagai mahasiswa di luar negeri (S2 di Inggris dan S3 di Jepang).

Lebaran pertama Prita Sari Dewi sebagai mahasiswa di luar negeri adalah saat Prita Sari Dewi,Ph.D. mengambil master program di University of Nottingham, UK (United Kingdom) – Inggris. Sebulan berpuasa hampir tidak terasa karena bulan Ramadan bertepatan dengan musim dingin. Imsak terjadi pada pukul delapan (08.00) pagi dan maghrib menjelang pukul 17.00.

Hari-hari diisi dengan kesibukan kuliah, pekerjaan lab (laboratorium), ke perpustakaan, dan rutinitas domestik membuat waktu sebulan terasa sangat cepat. Saat lebaran tiba, kebetulan bertepatan dengan kegiatan penelitian di University of Nottingham, UK (United Kingdom) – Inggris yang tidak bisa ditinggalkan. Alhasil setelah Sholat Idul Fitri ditunaikan, hanya bisa bersilaturahmi sebentar dengan sesama perantau dan mahasiswa muslim di Inggris.

Hidangan yang disajikan saat berlebaran menjadi sangat bervariasi karena perantau muslim dan mahasiswa di Inggris yang berasal lebih dari 65 negara. Suasana kekeluargaan sangat terasa meskipun berasal dari berbagai suku bangsa. Mengingat masjid berlokasi agak jauh maka Sholat Idul Fitri dilakukan di lapangan bola basket dalam ruang tertutup yang mampu menampung sampai 500 jamaah. Segera setelah bersilaturahmi, beberapa dari kami harus segera kembali ke lab (laboratorium). Komunikasi dengan keluarga di Purwokerto (Indonesia) dilakukan via telepon, skype, atau sosial media.

Beberapa lebaran selanjutnya Prita lewatkan sebagai mahasiswa S3 di negeri matahari terbit (Jepang) di Kyushu University, Japan – Jepang. Suasana lebaran sebagai mahasiswa S3 di Jepang tidak jauh berbeda dengan di Inggris. Perbedaan mencolok justru Prita rasakan saat melaksanakan puasa Ramadan yang bertepatan dengan musim panas. Ini berarti waktu berpuasa menjadi lebih panjang dari waktu berpuasa di negara tropis. Puasa dimulai dari pukul 03.00 (tiga) pagi sampai Maghrib menjelang pukul 20.00 (delapan malam).

Waktu puasa yang lebih panjang memerlukan stamina tubuh yang prima. Oleh karenanya memilih makanan dan minuman yang tepat sangat berpengaruh. Beruntung Prita berada di Negara (Jepang) yang sangat mengunggulkan cita rasa asli bahan makanan sehingga tidak memerlukan banyak proses pengolahan dan tambahan bumbu dengan rasa kuat.

Bila tidak sempat membuat bekal maka menu favorit para mahasiswa di Jepang adalah “udon” yang berasal dari kaldu ikan atau “onigiri” dengan isian tuna yang dijual di kafetaria kampus. Puasa saat itu (Prita Sari Dewi,Ph.D.) juga bertepatan dengan kegiatan persilangan tanaman di perkebunan jeruk di universitas (Kyushu University). Tidak jarang Prita Sari Dewi,Ph.D. berbuka dengan kondisi masih di kebun.

Para professor dan teman-teman sesama mahasiswa di Kyushu University merasa takjub dengan kemampuan Prita bertahan puasa dengan kondisi musim panas dan beban pekerjaan lapang. Mereka – para professor dan teman-teman sesama mahasiswa di Kyushu University tidak jarang membelikan minuman atau makanan yang dapat Prita konsumsi.

Lebaran di Fukuoka Jepang terasa istimewa karena saat Prita menjadi mahasiswa bertepatan dengan peresmian Masjid Fukuoka (terlampir dua foto Masjid Fukuoka) yang letaknya hanya 10 (sepuluh) menit berjalan kaki dari kampus (Kyushu University). Lebaran terasa sangat istimewa dengan kehadiran masjid baru (Masjid Fukuoka) di negeri dengan muslim sebagai golongan minoritas.

Masjid baru tersebut (Masjid Fukuoka) berhasil dibangun berkat bantuan para donator baik dari para muslim di Fukuoka maupun dari daerah lain di Jepang. Masjid tersebut (Masjid Fukuoka) segera menjadi tempat aneka kegiatan rohani selama bulan Ramadan mulai dari sahur bersama, berbuka bersama dilanjutkan dengan sholat tharawih, pesantren ramadhan untuk anak-anak saat akhir pekan dan I’tikaf.

Meski tanpa kumandang takbir sepanjang malam dan jauh dari keluarga di Indonesia, tidak mengurangi rasa syukur Prita karena dirinya dipertemukan dengan saudara seiman dari berbagai penjuru dunia. Nikmat iman telah mempertemukan Prita untuk saling mengenal dan bersilaturahmi dalam bingkai lebaran.

Melalui momen lebaran, Prita ingin mengucapkan selamat Idul Fitri : “Taqabballallohu minna waminkum taqabbal ya kariim”. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.