Jumat, 6 Desember 19

Ngeri! Militer China Ancam akan ‘Bantai’ Demonstran Hong Kong

Ngeri! Militer China Ancam akan ‘Bantai’ Demonstran Hong Kong
* Video yang diunggah militer China memperlihatkan serdadu membawa pelantang suara dengan kalimat: "Anda menanggung risiko atas semua konsekuensi." (BBC)

Ngeri! Dalam rilis videonya militer China daratan mengancam akan melakukan tindakan refreshif ‘menghabisi’ demonstrans di Hong Hong yang menolak jadi “bagian” negara China terkait RUU Ekstradisi, meski warga Hong Kong adalah etnis China.

Inilah warga beretnis China tapi menolak disebut sebagai China (China komunis daratan). Militer China yang ditempatkan di Hong Kong merilis video berdurasi tiga menit, menunjukkan sejumlah serdadu melakoni latihan “antihuru-hara”.

Video yang diunggah ke media sosial itu dimulai dengan adegan seorang serdadu meneriakkan: “Anda menanggung risiko atas semua konsekuensi.”

Tayangan itu disebarkan tatkala ketegangan meninggi di Hong Kong terkait rangkaian demonstrasi selama berminggu-minggu.

Pada Rabu (31/7), lebih dari 40 aktivis dihadirkan di pengadilan sehubungan dengan unjuk rasa yang berubah menjadi aksi kekerasan pada Minggu (28/7). Jika terbukti bersalah, mereka terancam dipenjara selama setidaknya 10 tahun.

Militer China sejauh ini belum dilibatkan dalam unjuk rasa di Hong Kong yang sudah berlangsung delapan pekan. Untuk menertibkan demonstrasi, kepolisian Hong Kong yang diandalkan.

Namun, dalam peringatan 92 tahun PLA pada Rabu (31/7), komandan barak militer di Hong Kong mengatakan unjuk rasa “secara serius mengancam kehidupan dan keamanan warga Hong Kong, serta melanggar aturan dasar ‘satu negara, dua sistem’.”

“Ini seharusnya tidak ditoleransi dan kami mengutarakan kecaman keras,” kata Chen Daoxiang sebagaimana dilaporkan harian South China Morning Post.

Dalam tayangan video yang diunggah ke media sosial China, Weibo, jajaran serdadu membawa tameng dan tongkat tampak melakukan latihan anti-huruhara.

Setelah menampilkan barisan tank, peluncur roket, meriam air, dan kawat berduri, video tersebut memperlihatkan serdadu bersenjata lengkap turun dari helikopter kemudian melepaskan tembakan ke jalan dan rumah-rumah.

Beberapa demonstran tampak ditahan dan berjalan dengan lengan diikat di belakang, menuju “lokasi penahanan”.

Para pengamat meyakini video itu dibuat di Hong Kong karena orang-orang di dalam video menggunakan bahasa Kanton serta ada sejumlah ciri khas kota tersebut, seperti taksi dan bendera mirip kepunyaan kepolisian Hong Kong.

Wartawan BBC di Beijing mengatakan video tersebut berbeda dengan video-video barak militer China di Hong Kong sebelumnya yang memperlihatkan serdadu-serdadu tersenyum.

Narasi agresif yang dimuat dalam video terkini menambah kekhawatiran bahwa China bakal memakai kekuatan militer guna mengakhiri unjuk rasa yang diwarnai aksi kekerasan. Namun, menurut Celia Hatton, pemerintah China menolak menanggapi kerisauan tersebut.

Tentara bersenjata lengkap yang berpatroli di jalan merupakan adegan lain dalam video tersebut. (BBC)

Ketika ditanya soal video terbaru, Kementerian Luar Negeri di Beijing mengatakan hanya militer yang mampu menerjemahkan pesannya.

Rangkaian demonstrasi di Hong Kong dimulai pada Maret lalu, ketika pemerintah setempat berencana merilis Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. RUU itu telah ditangguhkan, namun para demonstrasi ingin RUU tersebut benar-benar dicabut.

Tak hanya itu, para pengunjuk rasa ingin ada reformasi demokratis dan penyelidikan independen terhadap dugaan aksi kekerasan polisi.

Pada Minggu (28/07), bentrokan terjadi antara para pengunjuk rasa dan polisi yang memicu ditembakkannya gas air mata dan peluru karet ke arah demonstran.

Ngeri! Intervensi militer China ini bisa mengulang pembantaian berdarah aksi demo mahasiswa di Tiananmen pada 1989. Pembantaian yang dilakukan oleh militer rezim komunis China di Lapangan Tiananmen di Beijing itu dikabarkan menelan korban puluhan ribu masa unjukrasa meninggal.

Dokumen dari Inggris yang dirilis mengungkapkan bahwa sebuah kabel diplomatik dari Duta Besar Inggris untuk China saat itu, Sir Alan Donald, mengatakan bahwa 10.000 orang telah meninggal dalam pembantaian demonstran di Tiananmen oleh rezim China. (*/BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.