Senin, 30 November 20

Mitos “Ngalap Berkah” di Tugu Soeharto

Mitos “Ngalap Berkah” di Tugu Soeharto

Semarang, Obsessionnews – Mitos merupakan suatu peraturan abstrak yang dianut masyarakat di bumi Nusantara. Mitos berkembang dari sebuah kejadian cerita yang kemudian mengkeramatkan suatu tempat tertentu. Tempat keramat itu tersebar di seluruh Indonesia. Salah satunya yang menjadi sorotan obsessionnews.com adalah Tugu Soeharto yang terletak di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Tugu tersebut berdiri menjulang setinggi 8 meter di tengah pertemuan antara Sungai Garang dan Sungai Kreo. Tugu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Semarang, karena mempunyai berbagai macam legenda yang berkaitan dengan Presiden ke-2 RI Soeharto.

Ada beberapa versi mengenai keberadaan tugu ini. Salah satu yang terkenal adalah pada masa penjajahan, Soeharto yang kala itu berpangkat mayor ditugaskan untuk melawan Belanda di Semarang.

Pada saat itu Soeharto dikejar oleh pihak Belanda dan berlari ke arah selatan kota yang masih berupa hutan lebat. Di sini dia melompat ke sebuah sungai yang menjadi pertemuan antara dua arus dan kemudian menancapkan bendera Indonesia ditengah-tengahnya.

Cerita lainnya adalah ada seseorang yang bernama Romo Rusdiat yang konon guru spriritual Soeharto. Dulunya semasa Soeharto belum menjadi Presiden, ia dikabarkan melakukan tirakat kungkum (berendam) di pertemuan sungai tersebut. Tirakat tersebut diperintah oleh Romo Rusdiat agar kekuasaan Soeharto menjadi langgeng.

Dari situlah kemudian mitos tersebut berkembang. Hingga kini tiap malam 1 Suro yang notabene sebagai malam tahun baru Islam, Tugu Soeharto ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah. Mereka melakukan tradisi kungkum untuk memperingati napak tilas tirakat yang dilakukan oleh Soeharto.

Nia, seorang warga Bendan Duwur, mengatakan, tradisi kungkum ini dilakukan oleh para sesepuh kampung sejak dulu. Para generasi muda kebanyakan hanya ikut-ikutan berendam sebagai bentuk penghormatan kepada tradisi yang sudah ada.

“Tiap 1 Syuro kami kungkum. Yang kungkum mencapai ratusan orang, sambil ngalap berkah (meminta rezeki, red),” ujarnya kepada obsessionnews.com pekan lalu.

Banyak yang percaya dengan berendam di sekitar tugu tersebut dapat membawa berkah dan keinginannya akan terkabul. Ketika tanggal 1 Suro tiba, di kanan kiri terdengar lantunan sholawat Nabi bersahutan. Kemudian di sisi lain terlihat banyak warga etnis China membakar dupa pertanda untuk memberi makan para arwah leluhur. Tak ketinggalan pula para penganut Kejawen yang mendominasi area tersebut dengan baju hitamnya.

Kegiatan tradisi kungkum tersebut tentu menggerakkan ekonomi warga setempat. Tak sedikit yang menyediakan lahan parkir dan pemandian air bersih, serta lapak dagangan bagi pengunjung. Pengunjungnya tak hanya orang Semarang, namun banyak juga yang berasal dari luar kota.

Untuk mengatasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan, Pemerintah Kota Semarang beberapa tahun terakhir ini mulai menerjunkan personel kepolisian dan Badan SAR Nasional ketika malam Suro tiba, karena pengunjung yang berendam tak hanya orang dewasa, tapi anak-anak.

Percaya atau tidaknya tentang mitos berdoa di Tugu Soeharto ini kembali ke masing-masing individu. Hendaknya sebagai suatu masyarakat yang sedang berkembang, masyarakat harusnya mampu memilah baik-buruknya suatu mitos yang berkembang dalam kehidupan sosial. Tentu saja dikabulkannya doa seseorang tergantung kepada amal ibadah mereka sendiri. (Yusuf Isyrin Hanggara)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.