Sabtu, 25 Mei 19

Neraca Perdagangan Bocor, Jokowi: Kok Tidak Diselesaikan? Bodoh Banget Kita

Neraca Perdagangan Bocor, Jokowi: Kok Tidak Diselesaikan? Bodoh Banget Kita
* Presiden Jokowi saat kunjungan kerja ke Lampung. (Foto: Twitter Jokowi)

Tangerang, Obsessionnews.com
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri acara rapat koordinasi investasi yang diselenggarakan Badan Koordinasi Penanaman Modal di Tangerang, Banten, Selasa (12/3/2019). Bukannya mendapat apresiasi, Jokowi malah marah karena neraca perdagangan tidak bagus.

Jokowi kecewa neraca perdagangan Indonesia dan defisit transaksi berjalan sudah berpuluh tahun tapi hasilnya selalu membebani negara karena defisit anggaran. “Tahu kesalahan kita, tahu kekurangan kita, rupiahnya berapa defisit kita tahu. Kok tidak diselesaikan?Bodoh banget kita kalau seperti ini,” kata Jokowi.

Ia mengatakan, karena ekspor adalah kunci pertumbuhan ekonomi, maka seluruh industri yang berorientasi ekspor maupun industri yang melalukan hilirisasi harus dipermudah dalam perizinannya. Misalnya, kata Jokowi, industri Petrokimia juga harus diberi insentif seperti tax holiday. Bukan malah dipersulit.

“Kita sudah sampaikan ke Menkeu, kalau ada industri petrokimia (minta izin) tutup mata, beri tax holiday. Dan tak perlu pikir lama-lama, dari pada kita defisit,” katanya.

Jokowi mengatakan, Indonesia dari sisi investasi dan ekspor sudah ditinggal oleh negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam. Ia menegaskan, ke depan Indonesia tidak boleh terus ditinggal dengan negara lain seperti Kamboja maupun Laos karena Indonesia memiliki kekuatan yang besar.

“Kita 2, 3 tahun ini sudah banyak kemajuan dalam mendorong investasi. Peringkat investasi kita sejak 2017, kita sudah masuk dalam peringkat negara layak investasi. Investment grade,” katanya.

Untuk itu, Jokowi menekankan, hal ini adalah poin penting yang harus dimanfaatkan. Peringkat layak investasi Indonesia itu diperoleh dari tiga lembaga pemeringkat internasional yaitu, Standard and Poors (S&P), Moodys dan Fitch.

“Ini modal besar namun kalau tidak kita manfaatkan ya percuma modal yang kita dapatkan ini,” ujarnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.