Sabtu, 4 Desember 21

Nenek Moyangku Seorang Pelaut, 18 Abad Menguasai Laut Nusantara

Nenek Moyangku Seorang Pelaut, 18 Abad Menguasai Laut Nusantara

Nenek Moyangku Seorang Pelaut, 18 Abad Menguasai Laut Nusantara
Oleh: Gede Sandra

 

Sebenarnya, jauh sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 M dan Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 M, masyarakat Nusantara sudah mengenal kebudayaan maritim. Berikut ini akan coba diceritakan sedikit sejarahnya. Pada zaman Prasejarah sekitar abad ke-3 SM (1000 tahun sebelum Sriwijaya berdiri) hingga awal Masehi, di situs-situs neolitik masyarakat Nusantara banyak ditemukan manik-manik kaca asal India, yang membuktikan bahwa sudah terdapat hubungan maritim antara Nusantara dengan India. Selain itu di Nusantara juga banyak ditemukan nekara-nekara perunggu dari Indochina dari era yang sama, yang menunjukkan bahwa juga sudah terdapat hubungan maritim yang erat dengan Indochina. Penyebaran perahu bercadik dari kepulauan Polinesia hingga ke Madagaskar juga menunjukkan luasnya laut penjelajahan nenek moyang kita di masa tersebut.

 

Ciri-ciri masyarakat Nusantara pada masa Prasejarah, selain pertanian bersawah, pemeliharaan lembu dan kerbau, serta pemakaian logam secara sederhana, yang terpenting adalah:  “keahlian berlayar”. Nenek moyang masyarakat Nusantara (dan Indochina) memang sejak masa itu terkenal sebagai pelaut-pelaut yang handal mengarungi samudera lepas. Peradaban maritim ini disebutkan lahir di “Laut Tengah” yang terbentuk dari Laut China, Teluk Thailand, dan Laut Jawa yang dirintangi oleh Semenanjung Melayu dan pulau-pulau perpanjangannya. Sekalipun ditembusi angin taufan dan dihambat gosong dan karang, lautan yang hampir tertutup ini lebih merupakan penghubung antara penduduk pantai-pantainya daripada penghalang. Sementara tentang rute Samudera Hindia dituliskan oleh Sylvain Levi:

 

Daur arus dan daur angin berkala yang menentukan pelayaran sudah cukup lama menopang suatu sistem niaga antara pesisir Afrika, Semenanjung Arab, Teluk Persia, India, Indochina, dan di belakangnya negeri China, yang masing-masing tidak henti-hentinya memberi sumbangan dan menerima bagiannya.”

 

Jadi, saat orang India mulai datang dalam jumlah besar dengan jalur maritim, melakukan kolonisasi di Nusantara (yang mengakhiri masa Prasejarah), mereka tidak berhadapan dengan nenek moyang Nusantara yang primitif, melainkan sebuah masyarakat berperadaban maritim yang cepat beradaptasi karena sudah berabad berdagang dengan berbagai bangsa. Kedatangan orang India ke Nusantara secara berbondong-bondong disebabkan oleh eksodus politik (ditaklukannya Kalingga, di pantai timur India, oleh Kerajaan Ashoka pada Abad ke-3 SM) dan keinginan untuk menemukan sumber emas yang baru (karena terputusnya jalur emas mereka yang biasanya disuplai dari Siberia dan dihentikannya ekspor emas Romawi ke India pada Abad ke 1 M).

 

Dimungkinkannya pelayaran-pelayaran jauh orang India hingga ke Nusantara, disebut karena dua faktor: Pertama. Berkembangnya ilmu perkapalan dan pelayaran di India dan China pada awal abad Masehi dengan pembangunan jung-jung (kapal layar) untuk laut lepas dengan berat ratusan ton dan yang mampu mengangkut 600 sampai 700 penumpang, yang tekniknya sebenarnya dikembangkan di Teluk Persia. Perangkat layar mereka dalam arah memanjang itulah yang memungkinkan kapal melaju hampir langsung melawan angin. Kedua. Menjelang abad ke-1 M, mualim Yunani yang bernama Hippalos telah menemukan silih bergantinya angin musim secara berkala. Fenomena ini dikenal lebih dahulu oleh orang Arab, baru kemudian menyebar ke India. Akibatnya adalah melejitnya perdagangan maritim secara luar biasa antara India dan pelabuhan-pelabuhan Laut Merah yang merupakan gerbang dunia Barat (yang jalur ini bertahan selama 14 abad hingga akhirnya ditemukan dan dikuasai oleh pelaut Portugis)

 

Peradaban maritim masyarakat Nusantara, yang dasar budayanya terdapat di seluruh Asia Tenggara yang berangin muson, tetap bertahan dan bahkan berkembang teknologinya (dari perahu bercadik menjadi jung) selama abad-abad berikutnya seiring meluasnya kolonisasi India di Nusantara. Salah satu simbol peninggalan dari para pelaut India adalah banyak ditemukannya di sebagian Nusantara (Jawa Timur, Sulawesi, dan Palembang), arca-arca budha Dipankara (dipa=pulau) dari Abad ke-5 M yang merupakan simbol pelindung para pelaut. Namun, dari sekian banyak kerajaan bercorak India yang berdiri (Tarumanegara-Sunda di Abad ke-5 M, Kutai di Abad ke-5 M, Kalingga di Abad ke-6 M), hanya Sriwijaya yang berdiri pada akhir abad ke-7 M di Palembang yang terbilang sukses sebagai kerajaan maritim yang berpengaruh.

 

Disebutkan bahwa dua abad pertama berdirinya, Sriwijaya berkali-kali melakukan ekspansi militer bersama armada jung-nya ke Jambi, Aceh, Bangka, Sunda, Jawa (Kalingga/Mataram, merdeka pada Abad ke-10 dari Sriwijaya/Syailendra setelah memindahkan pusat kerajaannya ke Jawa Timur), Semenanjung Melayu, Champa, Kamboja (setelah merdeka dari Sriwijaya pada Abad ke-10, menjadi kerajaan Angkor), hingga Tongking (Vietnam) dengan tujuan yang jelas: menguasai Selat Malaka di Barat Laut dan Selat Sunda di Tenggara yang merupakan  dua jalan lintasan besar antara Lautan Hindia dan Lautan China. Seperti sudah terbukti, kepemilikan Sriwijaya atas dua selat tersebut –yang merupakan jalur utama perdagangan dari India ke China dan sebaliknya- menjamin keunggulan niaganya di Nusantara selama berabad-abad.

 

Sriwijaya semakin melemah sampai kejatuhannya karena berkali-kali diserbu kerajaan maritim besar lainnya, Cola dari India, dan sekali diserbu Jawa serta karena disintegrasi. Baru pada pertengahan pertama Abad ke-11, saat terjadi serangan pertama Kerajaan Cola kepada Sriwijaya, Kerajaan Jawa (Kahuripan) dapat mulai sedikit unjuk gigi dengan saingannya di Sumatera tersebut di jalur perdagangan Nusantara karena dapat memaksa Sriwijaya untuk pertama kalinya bersekutu dengan Jawa. Disebutkan, bahwa kekuasaan Sriwijaya saat itu melemah hingga hanya terbatas di bagian Barat Nusantara, sementara Kerajaan Jawa berkuasa di Timur Nusantara (kepulauan Maluku, penghasil rempah-rempah) tapi juga memiliki akses maritim ke bagian Barat Nusantara hingga dapat berdagang dengan India dari dua pelabuhan besarnya di Tuban dan Surabaya.

 

Pada Abad ke-12, kerajaan Jawa (Kediri, penerus Kahuripan) terus meningkat eksistensinya di Nusantara, termasuk peningkatan kemakmurannya, sehingga Kerajaan China mengakui: “dari semua negeri asing yang kaya yang memiliki barang dagangan berharga dalam jumlah-jumlah besar, tidak ada yang melebihi kerajaan Tashih (Semenanjung Arab), Sho-po (Jawa), dan San-fo-tsi (Sriwijaya)..”. Pada Abad ke-13, meskipun sudah terdapat tanda-tanda keruntuhan atas Sriwijaya, kerajaan maritim yang beribukota di Palembang ini disebutkan masih memiliki setidaknya lima belas (15) negeri jajahan: Pahang, Trengganu, Langkasuka, Kelantan, Kuala Berang, Pantai Timur Semenanjung, Chien-mai-pa-tha, Ligor, Grahi, Palembang, Sunda, Kampe, Lamuri, dan Sri Lanka. Di Jawa sendiri, sempat terjadi pergeseran kekuasaan yang mengakibatkan Kediri (jatuh pada tahun 1222) dan digantikan oleh Singasari /Malang (yang jatuh pada tahun 1268) untuk kemudian kembali ke Kediri. Pada era Kediri yang terakhir inilah Jawa mulai mendapatkan supremasinya setelah, melihat kemerosotan Sriwijaya, melakukan ekspedisi militer ke Barat Nusantara menaklukan Sriwijaya, Sunda, Semenanjung Melayu (Pahang), dan Madura. Akhirnya, selama hampir 6 abad berada di dibawah supremasi Sriwijaya, pada akhir Abad ke-13 Jawa (Kediri) berhasil mewarisi kekuasaan atas Selat Sunda dan Selat Malaka. Ekspedisi Kerajaan Mongol –yang tidak tertandingi di dunia- yang bertujuan untuk menghukum Kediri (karena menolak takluk pada Mongol), malah berhasil dimanfaatkan oleh keturunan Singosari hingga berhasil mendirikan kerajaan Jawa yang terbesar yang bernama Majapahit di Muara Sungai Brantas, Mojokerto.

 

Kerajaan Majapahit, pada puncak kejayaannya di Abad ke-14, disebutkan meliputi keseluruhan Hindia Belanda (kecuali bagian utara Sulawesi), Tumasik (Singapura), dan sebagian besar Semenanjung Tanah Melayu, tapi tidak sampai Filipina. Sedangkan negara-negara di Indochina yang bersahabat dengan Majapahit adalah Siam, Ligor, Marutma, Rajapura, Singhanagari, Champa, Kamboja, dan Yavana. Seabad kemudian, di Abad ke-15, kekuatan Majapahit mulai merosot karena konflik internal kerajaan dan yang terpenting adalah karena operasi politik yang dilakukan Kerajaan China. Disebutkan Kerajaan China berusaha menggeser Jawa (Majapahit) sebagai pemegang kekuasaan atas Nusantara dan Semenanjung. Itulah salah satu sebabnya diadakan pelayaran-pelayaran tersohor sida-sida Cheng Ho, dengan akibat pengiriman-pengiriman berbagai utusan ke China oleh beberapa negeri yang dahulu dianggap sebagai bawahan Majapahit. Pada akhir Abad ke-15 (1478 M), Majapahit mendapat serbuan terakhir dari internal keluarga yang juga adalah Kerajaan Islam Demak (pendiri Kerajaan Islam Demak masih keturunan Raja terakhir Majapahit), sehingga harus mengungsi jauh ke pedalaman Jawa. Pada awal abad ke-16, sudah tidak terdengar berita apapun dari Majapahit sebagai sebuah peradaban.

 

Berdekatan dengan masa-masa hilangnya Majapahit dari peredaran, pada 1511 pelaut Portugis –dengan teknologi perkapalan dan senjata yang jauh lebih maju dari seluruh Kerajaan di Nusantara- berhasil tiba di Selat Malaka. Setahun kemudian, 1512, armada pelaut Portugis berhasil sampai di Kepulauan Maluku, asal tumbuhan rempah-rempah yang mereka cari berpuluh tahun lamanya. Kerajaan Jawa (Demak), sebagai pewaris Majapahit, berupaya menyatukan kembali kerajaan-kerajaan di seluruh kepulauan Nusantara untuk bersama-sama mengusir Portugis dari Selat Malaka. Pada 1521 Raja Jawa (Demak) meninggal di pertempuran di Selat Malaka, armada pasukan gabungan Nusantara kalah telak dari armada Portugis, Selat Malaka pun jatuh ke Portugis. Pada tahun yang sama (1521), bangsa Eropa lainnya, armada pelaut Spanyol, juga berhasil sampai ke Maluku. Tahun berikutnya (1522), kerajaan Sunda-Padjajaran meminta perlindungan dari Portugis dalam menghadapi serbuan Kerajaan Jawa (Demak), Portugis pun mendapatkan kuasa atas Selat Sunda. Akhirnya, praktis seluruh wilayah maritim Nusantara dari Timur ke Barat berada di bawah kendali pelaut Bangsa Eropa. Sementara itu, pewaris Kerajaan Jawa, Demak runtuh pada tahun 1546. Pusat kerajaan pun bergeser semakin ke pedalaman ke daerah Pajang, dan kemudian semakin bergeser ke selatan lagi di Mataram (Yogyakarta) yang berbatasan dengan Laut Selatan.

 

Dan berabad-abad kemudian hingga Abad ke-21 kini, masyarakat Nusantara-yang menjadi Hindia Belanda dan selanjutnya Indonesia- terus memunggungi laut (Jawa). Praktis baru 1,5 tahun belakangan, di bawah Pemerintahan Presiden Jokowi, kita berupaya ubah paradigma dari “memunggungi laut” menjadi “kembali ke laut” karena di laut kita jaya. Benar sekali arah yang hendak dituju Presiden, karena berdasarkan uraian sebelum ini, terlihat bahwa sebagian besar perjalanan masyarakat Nusantara sejak Abad ke-3 SM hingga Abad ke-15 M –selama 1800 tahun- adalah dilalui sebagai bangsa pelaut yang menguasai lautan Nusantara. ***

 

Referensi:

Cœdēs, George. Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha. Seri Terjemahan Arkeologi No. 10. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Jakarta, 2010

Kartodirdjo, Sartono, et al. Sejarah Nasional Indonesia I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta, 1976

Poesponegoro, Marwati Djoened, et al. Sejarah Nasional Indonesia II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Balai Pustaka. Jakarta, 1993

 

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.