Selasa, 29 September 20

Natasha Vinski Ingin Jadikan Indonesia sebagai ‘Empire of Medical Tourism’

Natasha Vinski Ingin Jadikan Indonesia sebagai ‘Empire of Medical Tourism’
* Natasha Vinski, CEO Vinski Tower & Aero Queen. (Foto: Dok. Pribadi)

Jakarta, Obsessionnews.com – Natasha Cinta Vinski layak menyandang perempuan muda sukses. Usianya belum menginjak 30 tahun, namun putri tunggal pakar anti-aging Deby Vinski ini tidak hanya berhasil memimpin tiga perusahaan dengan kualitas yang dimilikinya sambil juggling peran sebagai ibu muda. Dia juga sukses menghadirkan lembaga nonprofit yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan.

 

Baca juga:

Diserang Covid-19, Kementerian PUPR Rehabilitasi 2 RS dan 17 Fasilitas Pendidikan di Sulteng

Kemenperin Akan Cabut Izin Perusahaan yang Tak Jalankan Protokol Kesehatan Saat PSBB

 

Dikutip obsessionnews.com dari womensobsession.com jalan itu mulai ditempuh Natasha dengan mengambil pendidikan di fakultas kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, hingga lulus dengan IPK tertinggi di angkatannya dan meraih gelar cum laude.

Tahapan demi tahapan dilaluinya. Memegang amanah sebagai pemimpin tertinggi, dia mengemban keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai empire of medical tourism. Sehingga orang Indonesia tak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk menjalani pengobatan anti-aging, karena sudah memiliki fasilitas yang tak kalah dengan negara maju lainnya.

Beragam perawatan anti-aging dihadirkan untuk bisa memenuhi segala kebutuhan. Mulai dari stem cell, bedah plastik, kebotakan, alzheimer, hingga yang terbaru ada fat grafting atau transfer lemak dan akan mulai merambah ke regenerative cell therapy.

Saat ini memang sudah ada beberapa dokter bedah plastik, tiga profesor yang membantu dalam bidang regenerative cell therapy dan dua profesor bidang sains.

Natasha menjamin fasilitas ruang bedah plastik mereka jauh lebih bagus daripada ruang bedah plastik mana pun, termasuk jika dibandingkan dengan Korea atau Eropa. Tak heran banyak pasien yang datang berasal dari luar negeri, seperti dari Singapura.

Menggeluti Ragam Bisnis
Jauh sebelum itu, sebenarnya Natasha telah mengawali bisnis pertama di bidang fashion dengan brand Foxxy ketika berusia 18 tahun. Saat itu gaya busana merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dan menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan diri, terutama kalangan anak muda.

Kebetulan dunia fashion juga merupakan gairahnya hingga kini. Usahanya tersebut menyediakan berbagai macam merek dari desainer lokal maupun internasional.

Sejak didirikan pada 2012, inovasi terus dilakukan, misalnya mengembangkan model bisnis peminjaman pakaian high fashion, terutama koleksi vintage, Foxxy for Rent. Hal ini sejalan dengan isu keberlanjutan yang kini sedang marak digaungkan di industri fashion. Foxxy juga menawarkan layanan peminjaman tas dan sepatu untuk melengkapi busana customer-nya. Sempat bercita-cita menjadi seorang pilot, Natasha kemudian melirik bisnis di bidang aviasi.

Dia mendirikan Aero Queen Pte Ltd yang berbasis di Singapura. Bergerak di bidang jual-beli pesawat dan helikopter, perusahaan ini juga mulai berekspansi ke rental pesawat jet maupun helikopter. Pada awal merintis, tak jarang dia dipandang sebelah mata oleh calon klien, karena dianggap masih muda dan tidak berpengalaman.

Namun, dia berhasil membuktikan kemampuannya dan telah melayani penyewa maupun pembeli dari Monako, Asia Tenggara, hingga Dubai. Mayoritas, pembeli maupun penyewa menggunakan pesawat untuk kebutuhan travel, umroh, dan usaha pertambangan. Tersedia 20 unit helikopter dan pesawat komersial di Aero Queen. Tak main-main, harganya berkisar dari US$5 juta hingga US$28 juta per unit.

”Saya memulai Aero Queen di Singapura ketika berusia 23 tahun. Itulah kali pertama saya menghasilkan jutaan dolar setelah berhasil menjual pesawat, baik helikopter maupun jet pribadi. Sejak saat itu hingga kini, puluhan pesawat sudah terjual. Dunia penerbangan identik dengan pelayanan keamanan sekaligus kenyamanan, karena itulah keselamatan menjadi prioritas utama layanan. Kami memiliki banyak mitra di seluruh dunia termasuk eksklusivitas untuk jet Dassault Falcon dari Prancis,” jelasnya.

Dia juga memiliki perusahaan persewaan pesawat terbang bernama SKYTE yang baru dimulai pada tahun 2018. Dalam persewaan pesawat terbang, prosedur operasi standar perusahaan tidak seperti proses pabrikan menjual pesawat terbang. Peraturan keselamatan khusus diterapkan dan pemeriksaannya sangat ketat demi keselamatan maupun kenyamanan penumpang. (Angie Diyya)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.