Minggu, 20 Januari 19

Jalan Dakwah Ustaz Arifin Ilham

Jalan Dakwah Ustaz Arifin Ilham
* Ustaz Arifin Ilham. (Foto istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.com – Sakit kanker yang diderita Ustaz Arifin Ilham seolah mengingatkan kembali tentang perjalanan panjang dari dakwahnya  dalam mensyiarkan agama Islam. Begitu banyak orang tersadarkan imannya setelah mengikuti dakwah Arifin. Karenanya banyak orang yang mendoakan agar dia bisa cepat sembuh agar bisa kembali berdakwah.

Ya, dalam berdakwah Ustaz Arifin memang dikenal melalui suaranya yang serak-serak basah. Dengan lantunan zikir yang merdu, suaranya mampu menggetarkan jiwa dan menenangkan hati para jemaahnya

Kalimat tauhid, takbir, tahmid bagian dari zikir yang merupakan tema-tema yang selalu dibawakan Ustaz Arifin Ilham dalam berdakwah. Setiap ia menyampaikan persoalan apapun, ia tak jauh mengingatkan akan zikir kepada Allah dengan lantunan kalimat thoyibah.

Dilahirkan di Banjarmasin 8 Juni 1969. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara dan menjadi satu-satunya anak laki-laki dari pasangan Ismail Marzuki-Nurhayati. Ayahnya merupakan keturunan ketujuh dari Syeh Al-Banjar, seorang ulama besar di tanah Kalimantan. Arifin memiliki tiga istri; Wahyuniati Al-Waly, Rania Bawazier, dan Femma.

Sejak kecil ustaz tidak punya cita-cita menjadi seorang ustaz. Sebab ia dikenal sebagai anak nakal, dan pemalas. Sehingga wajar, Arifin Ilham baru bisa baca tulis saat kelas 3 SD. Ia sekolah di SD Muhammadiyah. Namun sayang, ia harus pindah sekolah karena berkelahi dengan temannya. Akhirnya Arifin melanjutkan sekolahnya di SD Rajawali.

Saat menginjak masa SMP pun kenakalannya justru bertambah. Ia terpengaruh berbagai macam kenakalan remaja seperti merokok, berjudi dengan kelereng, mencuri uang ayahnya. Bahkan ia pernah mengancam akan membakar rumahnya gara-gara minta dibelikan motor trail tidak dipenuhi ayahnya.

Dikutip dari laman pribadinya Arifin menceritakan bahwa pilihannya mulai berubah saat orang tuanya pergi haji pada tahun 1982. Arifin muda mulai tidak tenang dan mencoba membenahi diri. Betapa terkejut kedua orang tuanya saat mereka kembali dari tanah suci melihat perubahan sikap anaknya yang drastis.

Entah kenapa, Arifin tiba-tiba minta dimasukan ke pesantren. Padahal ia baru kelas 1 SMP. Pada tahun 1983, ia pun dimasukkan ke Pesantren Darunnajah Ulujami, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kecintaan Arifin terhadap agama Islam mulai terbentuk. Di sini ia hanya sampai kelas dua aliyah.

Pada 1987, ia kembali meneruskan kelas dua aliyah hingga kelas 3 di Pesantren Assyafi’iyah di Bali Matraman, Tebet, Jakarta Selatan. Bakatnya sebagai penceramah sudah terlihat sejak di pesantren. Arifin sudah berdakwah baik ceramah di kampung halamannya maupun di Jakarta dan sekitarnya.

Setelah lulus dari pesantren, ia melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia masuk FISIP, Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Nasional (Unas), Jakarta. Ia lulus pada tahun 1994 kala usia 25 tahun. Arifin bahkan kini menjadi dosen di Unas untuk berceramah agama. Ia mengajar di Universitas Borobudur.

Di sisi kehidupan lainnya, Ustaz Arifin dikenal sebagai seorang penyayang binatang. Ia memelihara burung hantu, ayam kate, bahkan kera. Pada awal April 1997, Ia diberi ular hasil tangkapan warga kampung di semak belukar. Namun, hal nahas pun terjadi, ular tersebut menggigitnya hingga keadaanya kritis.

Ia pun dilarikan ke rumah sakit. Namun, beberapa rumah sakit yang dikunjungi tidak menerimanya karena alasan perlengkapan medis sementara kondisi Arifin makin kritis. Sampai akhirnya, ia dibawa oleh Cut Tursina, ibu angkatnya, ke RS St. Carolus, Jakarta. Di sini Arifin dapat pertolongan dan pengobatan.

Tapi, keajaiban terjadi. Setelah 1 bulan melalui masa kritis. Akhirnya Arifin memasuki masa penyembuhan. Diceritakan selama kritis, ia mendapatkan pengalaman spiritual dari alam bawah sadarnya. Hal tersebut semakin mengkukuhkan hatinya untuk jadi pengingat manusia agar selalu berzikir kepada Allah.

Sejak itu, ia mulai kembali mendalami dan berkonsentrasi di bidang agama. Yang tadinya dosen, ia beralih menjadi penceramah. Ia mulai hadir sebagai penceramah pengganti bila ustaz utamanya tidak hadir. Mulai dari sana, namanya mulai dikenal jemaah pengajian. Bahkan jamaah langsung meminta Arifin mengisi pengajian sebagai penceramah utama.

Pada tahun 1999, ia pindah ke depok dan mulai memimpin zikir di Masjid Al-Amr Bittaqwa di Perumahan Mampang Indah II, Depok. Ia mengenalkan zikir berjemaah. Pada awalnya dihadiri oleh tiga orang.

Selanjutnya, jemaahnya terus bertambah. Alhasil, pengajian zikir yang digelar selalu dipenuhi jemaah dengan seragam baju warna putih. Sejak itu, tempat kegiatan Arifin Ilham dikenal sebagai Majelis Az-Zikra.

Namanya pun makin populer sebagai ustaz dengan suara khas dengan lantunan lapaz-lapaz zikir kepada Allah. Ia mulai tampil di acara-acara besar dan beberapa media televisi nasional.

Jemaahnya makin banyak. Ia pun mengembangkan majelis zikirnya ke luar daerah Depok. Pada 7 Juni 2009, majelis zikir secara resmi dipindahkan ke kawasan perumahan Bukit Az-Zikra, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Arifin kini kembali diuji dengan sakit kanker. Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadanya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.