Kamis, 29 September 22

Nasi Megono Pak Bon yang Rasanya Lezat

Nasi Megono Pak Bon yang Rasanya Lezat

Pekalongan – Berbicara tentang Kota Pekalongan, Jawa Tengah, rasanya tak lengkap kalau tidak membicarakan tentang megono. Kuliner khas ini seakan sudah menjadi trademark kota batik. Sajian megono selalu menjadi menu wajib pelengkap makanan di kota ini.

Megono merupakan pelengkap makanan yang terbuat dari cacahan gori (nangka muda) yang direbus dengan bumbu. Megono sudah mengakar di masyarakat Pekalongan. Jadi jangan heran bila hampir semua makanan di Pekalongan disajikan bersama megono yang rasanya lezat.

Salah satu warung yang menyediakan nasi megono adalah warung Pak Bon. Warung ini berdiri sejak tahun 1960-an. Hingga kini warung yang menjadi langganan warga Pekalongan ataupun pendatang ini telah memasuki generasi ketiga dalam pengelolaannya.

Mak Jah, generasi kedua pemilik warung  makan megono Pak Bon
Mak Jah, generasi kedua pemilik warung makan megono Pak Bon

“Saya sendiri berjualan sejak tahun 1981, sedangkan warung Pak Bon sudah ada semenjak tahun 1960-an,” ujar Bu Khodijah atau biasa dipanggil Mak Jah (60 tahun), pemilik warung Pak Bon saat ditemui Obsessionnews.com di tempat usahanya, Senin (12/1/2015).

Warung Pak Bon selama ini dikelola secara turun-temurun. Dahulu warung ini berada di depan SMA Mahad. Dari usahanya tersebut Pak Sulaeman (nama asli pak Bon) berhasil mengembangkan warungnya hingga dikenal masyarakat luas.

Suasana warung yang selalu ramai pembeli
Suasana warung yang selalu ramai pembeli

“Warung ini dulu didirikan oleh bapak saya, Pak Sulaeman. Pak Sulaeman dulunya itu penjaga kebun di sekolah. Sewaktu menjaga kebun dia sekaligus membuka warung di sekolah. Karena laris akhirnya dia buka warung di luar sekolah. Karena dulu dia akrab dipanggil Pak Bon karena menjadi penjaga kebun sekolah, dia kemudian menamai warungnya Pak Bon,” Mak Jah sambil melayani pembeli.

Megono adalah gori yang dicacah menjadi kecil-kecil. Setelah dicacah, gori direbus bersama rempah-rempah dan parutan kelapa. Setelah matang, megono biasanya disajikan dengan nasi dan berbagai macam lauk. Di warung Pak Bon khusus menyediakan nasi megono dengan lauk kari otot dengan petai. “ Warung saya ini menjual nasi megono yang disajikan dengan lauk kari otot. Dari dulu sampai sekarang ya lauknya ndak pernah berubah, he he he…..,” terang Mak Jah terkekeh.

Usaha yang sudah ditekuninya ini mampu menghabiskan hingga 25 kilogram beras per harinya. “Kalo rata-rata sekarang bisa habis sampai 5 kilogram seharinya. Kalau ramai bisa lebih dari 25 kilogram,” katanya.

Omset yang diterimanya cukup lumayan. Dalam sehari ia bisa mendapatkan Rp 500 ribu lebih. Bila musim liburan tiba, banyak pelanggan yang mengantri untuk mencicipi nasi megono buatannya.

Pelanggannya tak terbatas hanya warga Pekalongan, namun juga banyak dari luar daerah, terutama para pejabat yang memesan nasi megono racikannya. “Pelanggan banyak dari luar kota. Biasanya mereka orang Pekalongan yang bekerja di luar kota. Waktu pulang kampung mereka membawa sanak famili, terus beritanya menyebar. Kalau dari Pekalongan banyak pejabat daerah yang sering mampir ke sini, antara lain Pak Alex, Wakil Walikota Pekalongan,” tuturnya serambi tersenyum.

Warung Pak Bon buka dari pukul 17:00 WIB sampai 00:00 WIB. Mak Jah tidak membuka cabang di tempat lain. Ia konsisten tetap membuka warungnya di Lapangan Sorogenen, Kota Pekalongan. “Lebih enak berjualan di sini, karena tempatnya sudah cocok di hati,” pungkasnya. (Yusuf Isyrin Hanggara)

Related posts