Jumat, 22 Oktober 21

Nasi Kucing Pak Gik yang Melegenda

Nasi Kucing Pak Gik yang Melegenda

Semarang, Obsessionnews – Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Waktunya bagi pedagang nasi kucing untuk menutup lapak jualannya. Namun, pemandangan berbeda terlihat di sebuah warung nasi kucing yang berada di sebelah kali Semarang, Jawa Tengah, ini. Di saat para pedagang lain menutup dagangannya, warung nasi kucing tersebut malah baru memulai aktivitasnya.

Itulah warung nasi kucing Pak Gik. Berdiri sejak 50 tahun lebih, warung Pak Gik memang melegenda di Kota Atlas. Dari informasi yang diterima obsessionnews.com saat mewawancarai pemilik warung ini, terkorek sejarah berdirinya warung yang berlokasi di Jalan Wot Gandul, dekat dengan jembatan Jalan Gadjah Mada.

Sugio sudah  50 tahun berjualan nasi kucing.
Sugio sudah 50 tahun berjualan nasi kucing.

Sugio, penjual sekaligus pemilik warung nasi kucing Pak Gik. Nama warungnya memang mengadopsi nama panggilan pemiliknya sendiri. Sugio berjualan sejak tahun 1960 hingga sekarang.

“Saya berjualan di sini sejak tahun 60-an. Waktu itu bus-bus berhenti untuk menaikkan penumpang di sepanjang Jalan Gadjah Mada,” ungkap pria kelahiran Semarang ini.

Dulunya Sugio berjualan makanan berat seperti nasi dan lauk di Jalan Gadjah Mada. Pelanggannya rata-rata para penumpang bus yang akan berangkat pada pukul empat pagi. Selang kemudian, pelanggan warung Sugio bertambah banyak dan meminta waktu buka warung dimajukan.

“Para pelanggan meminta agar dimajukan waktunya, dan saya turuti kemauan mereka,” tuturnya

Pria yang hanya tamatan SD ini akhirnya memindahkan warungnya ke Jalan Wot Gandul, sekitar 20 meter dari lokasi awal. Tentunya sekaligus mengubah waktu berjualan menjadi jam 12 malam hingga pagi. Pelanggan yang datang semakin banyak, bahkan melebihi dari penjualan sebelumnya.

“Sekarang sudah ramai. Dulunya saya ganti dari makanan berat menjadi nasi kucing,” jelasnya dengan rendah hati.

Nasi kucing merupakan kuliner khas Kota Semarang, yaitu nasi berukuran sekepal tangan yang hanya cukup untuk makanan kucing. Lauk yang disajikan beragam mulai dari sambal balado hingga oseng cumi semuanya ada. Biasanya nasi kucing dimakan ketika untuk nongkrong dengan ditemani gorengan yang masih hangat.

Sugio menjual 1 bungkus nasi kucingnya sebesar Rp 2.000, sedangkan untuk gorengan ia mematok harga Rp 500 per buah.

Dalam melakoni bisnisnya, Sugio dibantu oleh kelima orang anaknya. Semua dagangannya tidak berasal dari dia sendiri, tetapi saudara-saudaranya juga memasok nasi kucing untuk dijual di warung miliknya.

Walaupun warungnya terbilang kecil, jangan salah, pelanggannya tidak hanya kalangan biasa. Kaum sosialitas seringkali terlihat ikut berjejeran menikmati nasi kucing andalannya. Pelanggannya tidak hanya berasal dari Semarang, namun juga dari luar kota.

“Saya tahu nasi kucing ini dari seorang teman waktu mahasiswa. Asyik aja sih kalau nongkrong di sini,” ujar Lia, seorang pekerja bank swasta di Semarang. (Yusuf Isyrin Hanggara)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.