Sabtu, 29 Januari 22

Nafsu Berkuasa

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Penulis dan Pengemban Dakwah

 

Dua hal yang bisa dilakukan agar bisa berkuasa kembali, jegal siapapun yang tak setuju denganmu, dan buat dirimu terkesan sehebat-hebatnya, paling pintar, paling salih.

Pasangan dua hal di atas, tutupi kekuranganmu dengan polesan pencitraan dan buat yang berseberangan denganmu seolah monster, yang harus ditakuti lebih dari apapun.

Nafsu berkuasa memang tak ada matinya, apalagi pada mereka yang merasa dunia ini selama-lamanya, dan tak ada hitungan di akhiratnya, yang fana itu segala-galanya.

Ini yang coba dilakukan oleh rezim saat ini. Pengurusan pada rakyat diabaikan, sementara asing dirangkul, aset negara dijual, para kapitalis diberikan kesempatan seluasnya.

Lalu siapa yang tak nyaman? Pastinya mereka yang memahami Islam, karena Islam adalah musuh abadi kedzaliman. Muslim sejati pasti tak akan diam di hadapan kemungkaran.

Penguasa sekarang memahami betul, bahwa hanya Islam yang dapat menghentikan ketidakadilan yang mereka lakukan. Islamlah yang menjadi ruh pecinta kebenaran dan keadilan.

Islam yang menjadi dasar bagi penolakan terhadap pemimpin kafir, penguasaan umat oleh asing lewat ekonomi, penjajahan gaya baru lewat pemikiran, ekonomi dan budaya.

Islam juga menjadi alasan bagi umat menolak LGBT, legalisasi prostitusi, dan segala hal yang dapat membahayakan aqidah dan perusakan akhlak generasi muda.

Tapi penguasa dan partai-partainya punya visi berbeda. Mereka ingin kebebasan dalam semua hal. Liberalisasi agama dan ekonomi, agama tak usah jadi dasar hidup.

Maka mulailah mereka menebar label bagi para aktivis dan gerakan Islam yang ingin menghentikan kedzaliman mereka itu. Intoleran, anti-NKRI, anti-Pancasila, apapun itu.

Siapapun yang menolak apa yang mereka kampanyekan, tak akan selamat dari monsterisasi dan stigma buruk. Yang mendukung mereka, diangkat bak dewa.

Sadarkah kita ke mana penguasa sekarang menuju? Pada keadaan yang mereka inginkan, bahwa Islam tak boleh jadi dasar berpikir dan beraktivitas bagi umat.

Tapi mereka lupa, tak hanya dua faktor itu jadi penentu. Bagi yang beriman, mereka tak perlu mencitrakan hebat diri mereka atau kampanye hitam, karena yang beriman punya Allah. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.