fbpx

Kamis, 21 Februari 19

Muslim Uighur Dipersekusi dan Disiksa di Cina?

Muslim Uighur Dipersekusi dan Disiksa di Cina?
* Abdurehim Heyit. (BBC)

Muslim Uighur di Xinjiang, Cina, dipersekusi dan disiksa? Laporan Amnesty Internasional menyebutkan, sekitar satu juta penduduk Uighur mengalami penyiksaan dan tidak diketahui nasibnya ketika dimasukkan ke “kamp pendidikan ulang”. Tempat menyekap ini diistilahkan sebagai “kamp pendidikan ulang” oleh rezim Cina untuk menutup-nutupi kejahatan tersebut.

Anehnya, kaum muslim Uighur itu dituduh sebagai ekstremis dan teroris jaringan ISIS, namun tanpa ada fakta/bukti sahih. Pada 3 November lalu, ada seorang etnis Uighur ditangkap di Xinjiang. Belakangan diketahui kondisi kesehatannya memburuk berdasarkan hasil kunjungan keluarganya pada 13 Desember lalu. Dia disiksa selama di kamp dan diisolasi. Padahal, dia sebenarnya tidak berbuat apa-apa di kamp.

Sementara pemerintah Cina yang tengah gencar melakukan pembangunan infrastruktur di Xinjiang termasuk Jalur Sutra, berusaha meredam aksi-aksi pemberontakan dari etnis Uighur demi menjaga kestabilan ekonominya. Caranya dengan menebar isu bahwa etnis Uighur terkait dengan kelompok terorisme.

“Isu terorisme jadi dalih mempersekusi orang-orang Uighur. Perang melawan terorisme menjadi dalih menyembunyikan praktik-praktik pelanggaran kemanusiaan,” ungkap Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, seperti dilansir BBC News, Senin (11/2).

Dari pengamatan Amnesty, tidak ada satu pun negara di Asia Tenggara yang bersuara melindungi warga Uighur. Ini karena derasnya kucuran uang yang diberikan pemerintah Cina. Usman mencontohkan Kamboja yang memperoleh bantuan sebesar 1,2 miliar Dollar setelah memulangkan 20 orang Uighur ke Cina.

“Sayangnya Cina kuat secara ekonomi. Laos juga begitu. Negara-negara ASEAN mendapat kemudahan ekonomi dari Cina dan dengan sendirinya membantu pemulangan Uighur ke Cina tanpa ada persetujuan dari orang yang bersangkutan.”

Turki Minta Kamp Ditutup
Turki secara tegas meminta Cina untuk menutup kamp-kamp detensi, menyusul kabar kematian seorang musisi terkenal dari etnis minoritas Uighur. Seorang seniman muslim di Cina, Abdurehim Heyit diduga telah menjalani hukuman selama delapan tahun di wilayah Xinjiang, tempat jutaan kaum Uighur dilaporkan sedang ditahan.

Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan para orang Uighur itu menjadi sasaran “penyiksaan” di “kamp konsentrasi”. Pemerintah Cina mengatakan fasilitas tersebut adalah kamp re-edukasi.

Untuk pengalihan isu dan mengelabui fakta, media pemerintah Cina merilis sebuah video pada Minggu (10/2/2019), yang menampilkan seorang musisi etnis Uighur yang sebelumnya dilaporkan meninggal dunia di kamp tahanan. Video yang dirilis China Radio International layanan bahasa Turki itu menampilkan musisi Abdurehim Heyit, yang menyebut dirinya berada dalam kondisi sehat.

Heyit, dalam video itu, juga mengatakan dirinya “dalam proses diinvestigasi atas tuduhan melanggar undang-undang nasional”. Peluncuran video tersebut berjarak sehari setelah pemerintah Turki mendesak Cina menutup kamp-kamp penahanan etnis Uighur berdasarkan kabar kematian Abdurehim Heyit.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Sabtu (9/2/2019), juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Hami Aksoy mengatakan, bukan lagi rahasia bahwa lebih dari satu juta warga Turki Uighur yang ditangkap secara sewenang-wenang menjadi sasaran penyiksaan dan indoktrinasi politik di penjara. Mereka yang tidak ditahan berada “di bawah tekanan besar”.

“Pembangunan kembali kamp konsentrasi di abad 21 dan kebijakan asimilasi sistematik pemerintah Cina terhadap warga Turki Uighur adalah aib besar bagi kemanusiaan,” kata Aksoy.

 

Pemerintah Cina mengklaim di tempat inilah etnik Uighur ‘menerima pendidikan kejuruan’. (BBC)

 

Namun, Beijing berkilah dan bahkan mengklaim bahwa kamp detensi di Xinjiang adalah “pusat pendidikan vokasi” yang dirancang untuk membantu membersihkan wilayah tersebut dari terorisme. Berbicara pada Oktober lalu, pejabat pemerintah Cina tertinggi di Xinjiang, Shohrat Zakir, mengatakan bahwa para “siswa” di kamp bersyukur akan kesempatan untuk “merenungi kesalahan mereka”.

Kelompok pegiat HAM mengatakan para Muslim ditahan dalam jangka yang tidak ditentukan dan tanpa dakwaan, atas pelanggaran-pelanggaran seperti menolak untuk memberikan sampel DNA, berbicara dalam bahasa minoritas, atau berdebat dengan pihak berwenang.

Pada Agustus 2018, sebuah komite PBB mendapat laporan bahwa hingga satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang barat, dan di sana mereka menjalani apa yang disebut program ‘reedukasi, atau ‘pendidikan ulang’.

Menurut investigasi BBC, muslim Uighur disiksa fisik maupun psikologis di kamp-kamp penahanan oleh rezim Cina. Seluruh keluarga mereka lenyap, dan mereka mengatakan bahwa para tahanan disiksa secara fisik dan mental. Pengawasan ketat dilakukan total terhadap warga Muslim di Xinjiang tersebut.

Meski Cina dihujani berbagai kritik dari masyarakat dunia atas perlakuan mereka yang dianggap menindas warga minoritas muslim Uighur, namun rezim Cina tetap bandel dan menyangkalnya. Kecaman internasional semakin meningkat tentang perlakuan Cina terhadap Muslim Uighur. Sayangnya, belum ada negara yang mengambil tindakan apa pun selain mengeluarkan pernyataan kritis. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.