Selasa, 29 November 22

Muslim Tionghoa, Akulturasi Sosial dan Religi Sejak Berabad Silam

Muslim Tionghoa, Akulturasi Sosial dan Religi Sejak Berabad Silam
* Serian Wijatno.  (Foto: dok. pribadi)

Merebak luas

Pada awal 1930-an, kegiatan penyebaran Islam meningkat oleh Tionghoa Muslim kepada masyarakat luas. Di Sulawesi Ong Kie Ho mendirikan Partai Islam yang membuatnya kemudian diasingkan ke Jawa pada 1932. Padahal tujuan didirikan Partai Tionghoa Islam Indonesia (PTII) salah satunya untuk mengangkat status etnis Tionghoa. Di Medan bersama beberapa pengikutnya Yap A Siong atau Haji Abdussomad mendirikan Persatuan Islam Tionghoa (PIT) pada 1936. Pasca kemerdekaan PIT yang saat itu dipimpin Abdul Karim Oei Tjeng Hien pindah ke Jakarta dan menggabungkan diri dengan perkumpulan Tionghoa Muslim yang berbasis di Bengkulu. Mereka bergabung dan mendeklarasikan diri menjadi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) pada 1961. Namun karena situasi politik pasca 1965, PITI kemudian menghapuskan identitas Tionghoa di namanya.

Di masa Orde Baru (Orba) warga Muslim Tionghoa memilih cooling down. Pasca keruntuhan Orba, seolah membawa angin segar bagi PITI. Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, memperbolehkan penggunaan kata ‘Tionghoa’ pada nama PITI. Sejak itu orang-orang Tionghoa Muslim bisa lebih leluasa dalam menjalankan ibadah maupun budaya mereka. Mereka menghidupkan kembali sejarah dan merawat ikatan dengan umat Muslim di Tiongkok.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4 5 6 7

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.