Rabu, 5 Agustus 20

Museum HAM Munir Didirikan!

Museum HAM Munir Didirikan!
* Mahasiswa melakukan unjuk rasa dengan membawa foto almarhum Munir Said Thalib di Kampus UNS, Solo, Jawa Tengah, Selasa (10/9). Unjuk rasa tersebut digelar untuk memperingati 15 tahun meninggalnya aktivis HAM Munir serta meminta pemerintah serius dalam menyelesaikan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di masa lalu. (BBC)

Batu – Museum tokoh pejuang hak asasi manusia (HAM) Munir segera didirikan, Presiden Jokowi pun didesak ungkap dalang pembunuhan Munir!

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meletakkan batu pertama pembangunan Museum Hak Asasi Manusia (HAM) Munir di Kota Batu, Jawa Timur, Minggu (8/12), bertepatan dengan hari ulang tahun pegiat HAM, Munir Said Thalib.

Saat menyampaikan sambutannya, Khofifah berharap museum menjadi ruang belajar dan proses literasi mengenai HAM.

Istri mendiang Munir, Suciwati, sepakat. Menurutnya, selain mengingatkan bahwa pelanggaran HAM masih terjadi dan menimpa siapa saja, Museum HAM juga menampilkan sejarah, hak asasi anak, dan ruang untuk bermain bertema HAM.

“Bersama anak-anak dan guru bisa mengenalkan HAM,” katanya sebagaimana dilaporkan wartawan di Malang, Eko Widianto.

Nantinya museum ini berkonsep ramah untuk masyarakat berkebutuhan khusus, dan ramah lingkungan. Proses pembangunan diperkirakan selama setahun.

Istri mendiang Munir, Suciwati, meletakkan batu pertama pembangunan Museum HAM di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, Minggu (8/12). (BBC)

Rancang bangun museum didesain arsitek Achmad Tardiyana. Ia memenangkan sayembara desain arsitektur yang diselenggarakan Yayasan Omah Munir.

Untuk mendirikan satu-satunya museum HAM di Indonesia ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengalokasikan anggaran sebesar Rp5,2 miliar melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020.

Dalam perkembangannya, menurut Khofifah, anggaran itu diprediksi kurang untuk memenuhi seluruh pembangunan museum yang direncanakan akan dibangun setinggi tiga lantai. Sehingga keperluan dana membengkak sampai Rp10 miliar.

“Saya baru dapat kabar ternyata ada beberapa maksimalisasi ruang dan seterusnya. Ya nanti kita bahas kurangnya,” kata Khofifah.

Acara peletakan batu pertama Museum HAM Munir itu dihadiri Wakil Wali Kota Batu Santoso, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ahmad Taufan Damanik, Direktur Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid, dan istri mendiang Munir, Suciwati.

Gubernur Jatim Khofifah, Wawalkot Batu Santoso, Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik, Direktur Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid, dan istri mendiang Munir, Suciwati, mengikuti prosesi peletakan batu pertama Museum HAM Munir. (BBC)

Tuntaskan Kasus Munir
Pada kesempatan itu, Suciwati menagih janji Presiden Joko Widodo untuk menuntaskan kasus kematian Munir Said Thalib lantaran sampai kini tak terungkap siapa dalang pembunuhan Munir dalam penerbangan Jakarta-Amsterdam 7 September 2004.

Dia yakin kasus yang telah mencapai 15 tahun ini mampu diselesaikan jika Presiden Jokowi memiliki kemauan.

Presiden Jokowi, katanya, pernah berjanji menuntaskan kasus Munir saat awal menjadi presiden.

Direktur Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid mendorong Jaksa Agung membawa kembali kasus otak pembunuh Munir bersama terdakwa bekas deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) Muhdi PR ke pengadilan.

“Jika Jokowi sungguh-sungguh sesuai janji Nawacita, kasus Munir termasuk kasus masa lalu dari hari ini,” katanya.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mendukung rencana Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM, Machfud MD, yang akan membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) agar kasus pelanggaran HAM tuntas dan tak berlarut-larut. “Ini merupakan langkah maju, menunggu keseriusan presiden,” katanya.

Meski demikian, katanya, KKR sebaiknya diawali dengan mengungkap dulu kebenaran. Mekanismenya ditentukan bersama. “Apa yang akan direkonsiliasi kalau tak diungkap kebenarannya?” ujarnya.

Total sebanyak 11 kasus pelanggaran HAM berat yang ditangani Komnas HAM, di antaranya Tragedi 1965, Kasus Talangsari, Penembakan Misterius (Petrus), Kerusuhan Mei 1998, Penghilangan Paksa (aktivis), dan Santet Banyuwangi. “Tiga kasus masuk ke pengadilan tapi tak menyentuh pelaku utama,” katanya. (*/BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.