Selasa, 6 Desember 22

Mundurnya Israel, Kesuksesan Manajemen Krisis Palestina

Akhirnya, perlawanan tanpa henti warga kota Baitul Maqdis membuahkan hasil, rezim Zionis Israel terpaksa membatalkan operasi pembatasan baru di Masjid Al Aqsa.

Setelah berlalu 10 hari, Israel terpaksa membatalkan sejumlah pembatasan termasuk pendirian pintu-pintu masuk elektronik, kamera cerdas dan jembatan-jembatan gantung khusus pemukim Zionis untuk keluar masuk Masjid Al Aqsa. Pertanyaannya adalah mengapa Israel terpaksa membatalkan rencana pembatasan-pembatasan bagi warga Palestina tersebut, itupun hanya dalam rentang waktu beberapa hari saja ?

Ketegangan terbaru di wilayah pendudukan pecah sejak 14 Juli 2017 lalu. Militer Israel saat itu menembaki warga Palestina yang tengah berada di Masjid Al Aqsa, menewaskan tiga pemuda dan menutup pintu gerbang Masjid Al Aqsa selama tiga hari. Israel juga mendirikan pintu-pintu masuk elektronik dan memasang kamera-kamera cerdas serta membuat jembatan gantung. Langkah ini membangkitkan perlawanan dan reaksi keras dari warga Palestina di kota Baitul Maqdis. Bentrokan yang berlangsung selama 10 hari itu mengakibatkan lima warga Palestina gugur dan lebih dari 1000 lainnya terluka.

Terkait hal ini, Nissim Behar, salah seorang jurnalis dalam artikelnya yang dimuat surat kabar Perancis, Liberation berkenaan dengan situasi di Palestina pendudukan dan langkah Israel menutup Masjid Al Aqsa menulis, Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel sedang kebingungan, karena ketegangan yang dipicu pelarangan masuk bagi Muslimin ke Masjid Al Aqsa, dari hari ke hari terus meningkat. Demonstrasi warga Palestina tidak akan pernah berhenti dan di beberapa kasus aksi tersebut berujung dengan bentrokan dan kekerasan.

Kondisi ini telah memberikan tekanan yang besar kepada Netanyahu dan pada akhirnya ia terpaksa membatalkan keputusan-keputusan yang sudah diambilnya terkait Masjid Al Aqsa.

Abdul Rahman Shahab, Direktur Pusat Riset Atlas di Jalur Gaza sehubungan dengan hal ini mengatakan, warga Al Quds tanpa bantuan pihak lain, mampu mengacaukan permainan Israel. Reaksi warga Al Quds menyebabkan Israel kehilangan sikap bersamanya. Masalah ini ke depan akan membuat setiap perdana menteri Israel untuk memikirkan reaksi keras warga Al Quds ketika ingin menghina Al Quds dan menyerangnya.

Insiden ini kembali menunjukkan kepada Netanyahu secara khusus dan kepada pemukim Zionis secara umum, bahwa pertama, Yahudisasi Masjid Al Aqsa tidak mungkin terjadi dan Masjid Al Aqsa adalah garis merah strategis bagi rakyat Palestina, kedua, sebagian besar langkah bersejarah rakyat Palestina dalam melawan Israel terbentuk pasca penyerangan Masjid Al Aqsa.

Sebagai contoh, serangan ke Masjid Al Aqsa memicu kebangkitan Intifada Kedua pada tahun 2000 dan Intifada Al Quds yang pecah sejak Oktober 2015 sampai sekarang, juga pembatalan upaya pembatasan-pembatasan terhadap Masjid Al Aqsa oleh Israel.

Mundurnya Israel dari keputusan itu sangat penting sampai-sampai Abdul Rahman Shahab, di akhir analisanya yang dimuat surat kabar Al Quds Al Arabi menulis, warga Al Quds saat ini sedang melewati fase Intifada Al Quds menuju fase manajemen krisis di bawah kepemimpinan mereka sendiri. Dengan kata lain, kemunduran Israel membuktikan bahwa untuk membela cita-citanya, rakyat Palestina tidak perlu berharap pada bantuan para penguasa Arab yang sekarang justru sedang intim dengan Israel, tapi tunduknya Israel hanya bisa diraih dengan perlawanan. (ParsToday)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.