Selasa, 19 Oktober 21

Munas Golkar Terancam Semrawut, Ini Alasannya

Munas Golkar Terancam Semrawut, Ini Alasannya
* Diskusi publik bertema 'Re-Branding Partai Golkar' di Jakarta, Minggu (28/2/2016).

Jakarta, Obsessionnews – Musyawarah nasional (Munas) Golkar yang sudah disepakati oleh dua kubu belum pasti akan berjalan dengan mulus. Sebab, masih banyak indikasi dari pihak-pihak yang merasa tidak ikhlas bila salah satu kubu dari mereka ada yang berhasil memenangkan Munas.

“Munas ini belum tentu ada jaminan berjalan mulus. Masih ada indikasi yang terlihat dari salah satu pilih yang seolah-olah tidak ikhlas, mau menang sendiri dan lakukan langkah-langkah jauh dari rekonsiliasi (penyatuan kembali),” kata Politisi Muda Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia dalam diskusi publik bertema ‘Re-Branding Partai Golkar’ di Jakarta, Minggu (28/2/2016).

Fungsionaris DPP Golkar ini memaparkan setidaknya ada empat hal yang membuat Munas ini tidak akan berjalan dengan mulus. Pertama, Munas tujuannya awalnya adalah membentuk rekonsiliasi dari dua kubu yang pecah. Namun, kenyatanya masih ada pihak yang bisa belum berdamai, sehingga perlu ada kesepakatan bersama.

“Artinya, proses konsensus itu di semua efek dari konflik yang terjadi harus dipulihkan, misalnya yang dipecat direhabailitasi. Ini nanti kalau tidak besok konsensus menyeluruh, ini mengancam pada peserta Munas. Jadi, masih terjadi belum ada pemulihan kader yang dipecat. Masih ada Musyawarah Daerah (Musda) dari kepengurusan Bali dan Ancol. Harusnya tidak ada lagi, harus ada moratorium Musda-Musda,” jelasnya.

‎Kedua, Munas ini harus bisa menghasilkan komitmen baru untuk mengangkat kembali kejayaan Golkar dengan cara tidak ada kepentingan lain. Selain kepentingan partai, tidak ada lagi kepentingan bisnis dan lainnya. “Semua untuk kepentingan partai. Ini jadi penting berpengaruh pada cara berorganisasi,” ujarnya.

Ketiga, Munas ini harus menghasilkan gagasan baru. Dicontohkannya, salah satu dulu yang paling fenomenal adalah pada 1998, yakni konvensi. Hal ini menjadi penting untuk dihidupkan kembali, bahkan di permanen dimasukkan atau diatur dalam AD/ART Golkar.

Konvensi adalah satu cara bagi Golkar untuk memilih calon Presiden. Persoalan ini jika tidak atur dalam Munas, dimungkinkan akan menimbulkan persoalan baru. Sebab, sering kali penentuan calon presiden di dalam partai politik bisa memicu konflik, bagi mereka yang tidak sepakat.

“Bila perlu bukan konvensi capres/cawapres, tapi kepala daerah yang benar-benar aspirasi dari masyarakat punya ke Golkar. Konsep lain banyak, misalnya bagaimana bangun partai yang moderen dengan menempatkan orang-orang di kepengurusan tidak like dan dislike. Jaminan keutuhan Golkar bisa terjadi,” tuturnya.

Keempat, Munas harus menghasilkan kepemimpinan yang baru serta Munas ini harus menunjukkan bahwa Ketum terpilih harus wakili generasi muda Golkar, tidak ikut dalam konflik Golkar yang terjadi selama satu setengah tahun lalu serta tidak mengandalkan uang.

‎”Figur yang kuat, punya misi visi yang kaya bangun partai. Dalam konteks yang lain, Golkar harus mengembalikan sebagai partai yang nasional terbuka,” ujarnya.

Doli mengungkapkan, pemilih muda pada Pemilu 2019 mendatang, sudah mencapai raturan juta pemilih. Ini yang harus menjadi perhatian khusus partai Golkar untuk meraih pemilih muda dan pemulu.‎ “Itu yang paling penting agar Golkar dalam kondisi normal saja, sulih. Ini memang tidak mudah, tapi harus diraih pemilih muda dan pemula ini,” tegasnya.

Sementara itu, Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing salah satu pembicara dalam diskusi tersebut mengatakan, Golkar saat ini tambah mengerikan. Pasalnya, menjelang Munas ini, di daerah sibukan mengadakan Musda.

“Ini artinya masih ada ketidakrelaan. Saya khawatir Munas ini hanya jadi topeng. Ini penyatuan untuk Golkar, tetapi itu terjadi, maka Golkar menjadi lahirkan partai baru. Golkar menjadi partai bonsai. Saya khawatir seperti lagu bengawan solo, riwayatmu kini,” kata Emrus.

Ia menyadari,  dalam sebuah partai pasti ada perbedaan. Dan konflik Golkar ini kata dia sudah terlalu lama berlarut-larut. Ia khawatir jika tidak cepat diselesaikan nanti akan ditinggal pemilihnya. “Solusi terbaik adalah Munas, semua faksi ada disini semua. Tapi jangan smp money politik, ini pasti dikelola seperti perusahaan. Jangan sampai terjadi lagi pecat-pecat, memang perusahaan, karena partai punya semua kader. Ini diharamkan kalau partai ini mau besar,” jelasnya.

Sehingga, pertanyaannya mampukah Munas Golkar ini melahirkan Ketua Umum yang tidak tersandera dengan kekuatan-kekuatan tertentu, sehingga tokoh-tokoh ini tidak muncul. Sebab itu, Emrus mengusulkan tokoh yang dimunculkan dalam Munas nanti harus  ada faktor  pembatasan usia.

“Yang pasti jangan terlalu tua, 55 tahun keatas jangan maju, 35 tahun keatas lah. Ini tokoh-tokoh dimunculkan. Jangan sampai muncul ego faksi tertentu, jangan Golkar seperti pertandingan harus beda secara internal,” pungkasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.