Senin, 29 November 21

Mulyadi, Anak Transmigran yang Bersinar di Dunia Militer

Mulyadi, Anak Transmigran yang Bersinar di Dunia Militer
* Laksamana Pertama (Laksma) TNI Mulyadi

Jakarta, Obsessionnews – Jangan pernah meremehkan anak-anak transmigran. Sebab, banyak anak transmigran yang meraih berbagai prestasi di berbagai bidang baik di tingkat nasional maupun internasional.

Salah seorang di antaranya adalah Mulyadi yang kariernya bersinar di dunia militer. Mulyadi adalah perwira tinggi TNI Angkatan Laut yang berpangkat Laksamana Pertama (Laksma) atau jenderal bintang satu. Saat ini dia menduduki jabatan Kepala Dinas Kelaikan Material Mabes TNI.

Mulyadi-1
Mulyadi bersama isterinya, Emmi Widjayati

Bagaimana Mulyadi meraih kesuksesan di dunia militer? Apa yang diperolehnya itu lewat perjuangan yang maha berat. Perjalanan hidupnya menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda.

Mulyadi berasal dari Desa Bandar Agung, Kecamatan Terusan Nunyai (dulu Kecamatan Terbanggi Besar), Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Bandar Agung adalah desa transmigrasi TNI Angkatan Darat (Transad). Desa ini dibangun tahun 1973, dan para penghuninya adalah pensiunan tentara dari Kodam Jaya, Kodam Brawijaya, Kodam Diponegoro, Kodam Siliwangi, dan Kodam Sriwijaya. Mereka ditransmigrasikan ke Bandar Agung menjelang menjelang masa persiapan pensiun, dan selanjutnya mereka pensiun tahun 1975. Desa itu terletak sekitar 70 km dari Bandar Lampung, ibukota Provinsi Lampung. Para purnawirawan TNI itu bersama keluarganya bahu-membahu membangun desa yang berlokasi di tengah hutan itu.

Saat itu fasilitas pendidikan yang tersedia di Bandar Agung adalah 2 buah TK, 2 buah SD, dan sebuah SMP persiapan negeri. Setelah tamat SMP, umumnya anak-anak Bandar Agung melanjutkan pendidikan ke SMA, SMEA, STM, dan SPG di Desa Transad Poncowati yang terletak sekitar 17 km dari Bandar Agung. Meskipun fasilitas pendidikan terbatas dan kurang memadai, anak-anak Bandar Agung memiliki semangat belajar yang tinggi. Di kemudian hari banyak anak-anak Bandar Agung yang meraih gelar sarjana dan sukses berkarier di perantauan.

Di antara warga Bandar Agung yang paling terkenal adalah keluarga Warsito yang berdomisili di Jl. Pahlawan No. 179. Warsito pensiunan TNI dengan pangkat terakhir kopral satu, dan mempunyai enam anak. Warsito yang berekonomi sederhana berhasil mengantarkan anak-anaknya meraih kesuksesan. Dan wajar jika keluarga Warsito menjadi teladan bagi warga Bandar Agung.

Warsito mendidik kedisiplinan pada anak-anaknya. Selain itu dia juga menekankan begitu pentingnya pendidikan, dan karena itu anak-anaknya harus sekolah setinggi mungkin. Warsito juga menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai bekal ke akhirat. Anak-anaknya diwajibkan sholat dan mengaji sejak kecil.

Salah seorang putera Warsito adalah Mulyadi. Anak kedua dari enam bersaudara ini berotak cemerlang. Selain itu ia juga ulet. Sejak SD hingga SMA ia selalu menduduki ranking satu di sekolah. Mulyadi tamat SMP Bandar Agung tahun 1976, lalu melanjutkan ke SMAN Poncowati tahun 1977 dan tamat tahun 1981. Dia rajin belajar, dan di mana pun berada selalu membawa buku-buku pelajaran. Ia pun aktif berdiskusi tentang pelajaran dengan teman-temannya.

Di hari-hari libur hukumnya wajib Mulyadi ke ladang kelapa hibrida untuk menyiangi rumput agar pohon kelapa tumbuh subur. Saat di ladang pun Mulyadi membawa buku-buku pelajaran dan buku biografi tokoh-tokoh terkenal.

Saat duduk di bangku SMA, Mulyadi harus bekerja keras. Karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, di hari-hari libur ia bekerja sebagai kuli bongkar muat pasir. Upah yang diperolehnya dipergunakan untuk membeli buku tulis dan buku pelajaran. Dia tak malu bekerja sebagai kuli, karena yang penting pekerjaan itu halal. Sedangkan untuk menuju ke sekolah, Mulyadi nebeng truk dan gratis. Begitu pula pulang sekolah.

Pria yang dilahirkan di Malang, Jawa Timur, 25 Maret 1961, ini menyadari ayahnya hanya mengandalkan uang pensiun dan tidak mempunyai penghasilan lain, sementara anaknya banyak yang butuh biaya pendidikan. Oleh karena itu Mulyadi tak mau membebani orang tuanya. Dia tidak cengeng. Dia harus mencari uang sendiri agar bisa lancar menuntut ilmu.

Karena berotak cerdas dan pintar bergaul, Mulyadi mempunyai banyak teman. Dan ia sering ditraktir makan oleh teman-temannya.

Saat remaja Mulyadi bertubuh kerempeng dan berambut kribo. Ia gemar bermain sepak bola dan menjadi striker kesebelasan Bandar Agung. Banyak yang menjulukinya ‘Rully Nere’-nya Bandar Agung. Pada masa itu pemain sepak bola nasional Rully Nere sedang naik daun, dan gaya permainannya ditiru oleh Mulyadi. Selain sepak bola, Mulyadi juga hobi berolah raga tenis meja dan bulu tangkis. Kegemarannya berolah raga tersebut kelak bermanfaat ketika ia diterima menjadi taruna Akabri.

Lulusan Akabri Laut Terbaik
Buah hati pasangan Warsito dan Hj. Marsitah ini lulus SMA dengan nilai tertinggi. Kemudian ia mencoba mengadu peruntungan mendaftar di Akabri melalui Korem Garuda Hitam, Lampung.

Suatu ketika seorang temannya datang ke rumah Mulyadi dan membawa berita yang mengejutkan dan sekaligus menggembirakan, yakni nama Mulyadi disebut di RRI Stasiun Tanjungkarang sebagai calon taruna yang berhak mengikuti tahapan tes selanjutnya. Mulyadi tak menyia-nyiakan peluang itu, dan akhirnya lulus di tingkat provinsi, dan selanjutnya diterima sebagai taruna Akabri di Magelang, Jawa Tengah.

Tahun 1985 Mulyadi lulus Akabri Laut. Dan hebatnya, dia lulusan terbaik dari Akabri Laut dan dilantik Presiden Soeharto di Istana Merdeka, serta mendapatkan bintang Adhimakayasa tahun 1985.

Setelah itu Mulyadi mengikuti berbagai kursus, antara lain kursus Suspaja (1985), Sus P4 45 jam (1986), Diksespa (1990), Diklapa (1992), Seskoal (1998-1999), Sus Danlanal (2000), dan Sesko TNI (2008). Selain itu ia meraih gelar Sarjana Perikanan (S.Pi.) tahun 2001 dan Magister Administrasi Publik (M.A.P) tahun 2004.

Tahun 1985 pangkatnya Letnan Dua, lalu naik menjadi Letnan Satu (1988), Kapten (1991), Mayor (1996), Letnan Kolonel (2000), Kolonel (2005), dan Laksamana Pertama sejak 10 Mei 2011. Berbagai jabatan diembannya, antara lain Kasubdis Teknokap Dismatal (2006-2007), Aslog Danlantantamal V (2007-2008), Sahli “B” Komsos Pangartim (2008-2009), Aslog Pangarmatim (2010-2011), Pati Sahli KSAL Bidang Iptek (2011), Staf Khusus KSAL (2011-2012), dan kini menempati posisi Kepala Dinas Kelaikan Material Mabes TNI.

Penugasan dan latihan yang diikutinya adalah Operasi Penyeberangan KRI WIR-379 dari Jerman ke Indonesia tahun 1994, Pengamanan SU MPR 1997, Latihan Operasi Laut Gabungan tahun 1997, muhibah ke Filipina tahun 1998, FCP Kakadu 4/99 ke Darwin, Australia, tahun 1999, pengamanan jajak pendapat Timor Timur tahun 1999, Latihan Armada Jaya Tahun 2005 sebagai Deputi Administrasi Logistik, Pokja Penyusunan Permenhan tentang Perbendaharaan Materiel Dephan/ TNI tahun 2007, dan lain-lain. Tahun 2013-2015 Mulyadi ia menjadi Dansatgas Pembangunan Kapal PKR di Belanda.

Mulyadi mensyukuri apa yang diperolehnya. Kebahagiaannya bertambah karena ia berhasil memberangkatkan sang ibunda ke tanah suci beberapa tahun silam. Sementara itu ayahnya telah berpulang ke rahmatullah.

“Kesuksesan itu tidak turun begitu saja dari langit, tapi harus diraih dengan perjuangan yang keras. Alhamdulillah, saya mensyukuri apa yang saya peroleh ini. Ini adalah karunia Allah yang patut disyukuri. Apa yang saya peroleh ini berkat doa dan bimbingan orang tua,” kata Mulyadi ketika dihubungi obsessionnews.com, Minggu (26/4/2015) petang.

Selain Mulyadi, anak-anak Warsito lainnya yang juga meraih kesuksesan adalah Djunaedi. Anak sulung ini bekerja sebagai polisi di Polda Jawa Barat. Sedangkan adik Mulyadi, yakni Mulyono, berpangkat Letnan Kolonel TNI AD dan saat ini dinas di Kodam Siliwangi. Adik Mulyadi yang lain, yakni Mulyanto, menduduki jabatan cukup strategis di sebuah perbankan swasta di Bandung.

Rendah Hati
Mulyadi menikah dengan Emmi Widjayati dan dikaruniai tiga anak, yakni Didit Setya Nugraha, Dedi Setya Wardhana, dan Dandy Setyo Utomo.

Meskipun telah menjadi jenderal, Mulyadi tetap rendah hati dan ramah. Ia mau bergaul dengan siapapun tanpa memandang status sosial.

Mulyadi rajin bersilaturahmi dengan senior, teman seangkatan, dan juniornya di SMA. Dalam acara silaturahmi tersebut ia tak sungkan memamerkan hobinya menyanyi. Ia senang menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia dan Barat.

“Dulu saya pernah lho bercita-cita menjadi penyanyi, tapi nggak terwujud karena keburu jadi tentara,” katanya berseloroh.

Komunikasi dengan para alumni SMP Bandar Agung, SMAN Poncowati, dan sekolah-sekolah di Lampung Tengah, juga ia lakukan dengan bergabung di grup facebook, yakni Poncos Last Lasting, CCP & Wonk BA, Lampung Tengah Bersatu (LTB), dan lain-lain. Mulyadi rajin meng-upload tulisan-tulisan dan foto-foto kegiatannya di dalam negeri dan di luar negeri.

Dalam berbagai acara reuni dan tulisan di facebook Mulyadi sering memompa semangat anak-anak transmigran. Dia mengatakan dia bangga menjadi anak transmigran. Menurutnya, anak transmigran tak perlu rendah diri alias minder karena mereka mempunyai kesempatan yang sama dengan anak-anak lain.

“Anak transmigran bisa maju asal mau bekerja keras dan prihatin,” tuturnya.

Semua tulisannya di facebook mendapat tanggapan positif dari para fesbooker (pengguna facebook), karena tulisannya sopan dan jenaka. Misalnya, di dalam salah satu tulisannya ia menceritakan pengalamannya sewaktu SMA dan kos di Poncowati. Saat itu ia harus antri untuk mandi. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.