Selasa, 12 November 19

Multaqo Ulama Minta Publik Taat Pada KPU

Multaqo Ulama Minta Publik Taat Pada KPU
* Suasana pertemuan (Multaqo) ulama, habaib, dan cendekiawan muslim di Ballroom Hotel Kartika Chandra, Jakarta. (Foto: dok Obsessionnews.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Ribuan Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim menggelar pertemuan (Multaqo) menyikapi situasi dan kondisi bangsa pasca Pemilu 2019. Pertemuan ini sebagai ikhtiar bersama agar stabilitas, keamanan, serta ukhuwah Islamiya tetap terjaga.

Hadir dalam pertemuan tersebut pengasuh Pondok Pesantren Sarang, Maemun Zubir, pengasuh Pondok Pesantren Al Amin Kediri dan Wakil Rois Syuriyah PWNU Jatim, Anwar Iskandar, Wakil Ketua PWNU Jatim Ahmad Fahrur Rozi, Cendekiawan Shinta Wahid, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Mutaalimin, Buya Muhtadi.

Selain itu Ketua PBNU Said Agil, Ketua Umum Forum Kyai Tahlil, Khayat, Ketua GP Anshor, Yaqut, Mustashar PBNU Turmozi Badrudin, Ketua MUI Saeful Islam Al Tayage, Habib Novel Alaydrus, dan Ketua Cendekiawan Muslim Muhammadiyah, Najib Burhani. Hadir juga Ketua Majelis Munajat Indonesia Berkah Ustadz Usamah Hisyam yang juga dikenal sebagai Ketua umum PP Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi).

Multaqo yang digelar kali ini diiniasi oleh ulama sepuh KH Maimun Zubair dan Habib Luthfi. Dalam kesempatan itu keduanya mengajak para ulama, habaib dan cendekiawan muslim agar memberikan suri tauladan kepada umat dalam menjaga situasi damai terutama menjalani bulan Ramdhan dan Idul Fitri.

Para ulama sepakat bahwa hukum taat kepada ulil amri adalah wajib. Kaum muslimin tidak diperolehkan memberontak ulil amri. Prinsip ini menjadi pegangan dalam berbangsa dan bernegara.

Ulil amri adalah orang atau lembaga yang memiliki kekuasaan karena diberi otoritas oleh Negara. Oleh karena itu jika dikaitkan dengan permasalahan pemilu, ulil amrinya adalah KPU ( Komisi Pemilihan Umum), Bawaslu, dan MK.

Seluruh umat Islam harus wajib dan taat kepada keputusan KPU, Bawaslu dan MK jika menyangkut masalah hasil pemilu, karena mereka adalah lembaga Negara yang diberi wewenang berdasarkan UU untuk menyelenggrakan pemilu dan mengumumkan hasilnya.

Sebaiknya umat Islam harus menghindari tindakan yang mengarah kepada bughat. Ketaatan di sini bisa bermakna tidak keluar untuk mengangkat senjata, melakukan revolusi, meskipun tidak sesuai dengan aspirasinya. Prinsip ketaatan ini untuk menjaga kelangsungan sistem sosial agar tidak terjadi anarki.

Sementara itu, pemimpin Pondok Pesantren Sokotunggal, Semarang, Jawa Tengah, Nuril Arifin Husein atau akrab disapa Gus Nuril, mengingatkan, dalam setiap konstelasi di sebuah negara demokrasi, kalah menang adalah hal yang biasa.

Saat ini, diingatkan Gus Nuril, semua pihak juga harus menghormati seluruh proses Pemilu, termasuk menunggu secara resmi proses penghitungan suara yang sedang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU)

“Konstelasi itu ada yang menang ada yang kalah. Bahwa Pak Jokowi pengin sekali lagi menjadi presiden dan Mas Prabowo ingin sekali-kali menjadi presiden. Itu biasa. Maka setelah KPU melaksanakan penghitungan itu, kita tunggu hasilnya,” kata Gus Nuril di Ballroom Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Dalam kesempatan itu, dirinya juga mengingatkan agar elit politik tidak terus menerus melibatkan rakyat untuk memenuhi ambisi keinginan menjadi presiden.

“Jangan libatkan rakyat. Yang nelayan kembali lagi sebagai nelayan. Yang petani kembali lagi sebagai petani,” ucap Ketua Umum Patriot Garuda Indonesia itu.

Menurutnya, saat ini hasil hitung cepat atau quick countsudah ada. Masyarakat tinggal menunggu hasil real count. Jangan sampai lembaga yang diberikan wewenang menyelenggarakan Pemilu malah terus-terusan dianggap sebagai pihak yang salah.

“Jangan kemudian dianggap sebagai lembaga yang salah karena KPU itu bukan presiden. KPU itu bukan presiden yang milih. KPU itu dipilih oleh rakyat sendiri. Diberikan kepercayaan. Dilindungi UU. Sudah cooling downsemuanya. Tidak ada lagi 01 dan 02. Kita kembali lagi ke Pancasila, yang ada hanya 03, persatuan Indonesia,” ucapnya. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.