Senin, 18 November 19

Muktamar Luar Biasa PPP Tergantung Kedewasaan Djan dan Romy‎

Muktamar Luar Biasa PPP Tergantung Kedewasaan Djan dan Romy‎
* Akhmad Muqowam.

‎Jakarta, Obsessionnews.com ‎- Sudah hampir tiga tahun konflik dualisme kepengurusan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) belum juga menemui titik terang. Kedua kubu, Djan Faridz dan Romahurmuziy atau Romy, sama-sama bersikeras menganggap dirinya yang paling sah atau berhak memimpin PPP.

Situasi ini tentu membuat kader PPP di akar rumput semakin bingung dan miris takala melihat partai kesayangannya belum sembuh dari penyakit yang dideritanya. Kekecewaan itu seakan bertambah, saat kader tahu bahwa elit  PPP ternyata kompak mendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai calon Gubernur DKI.

Mantan Ketua DPP PPP Akhmad Muqowam ikut sedih melihat partai yang dulu pernah ia besarkan sampai saat ini masih terus berkonflik. Segala upaya sudah dilakukan agar kedua kubu bisa rekonsiliasi. Namun, tetap belum berhasil.

“Soal niat dari masing-masing untuk melakukan islah yang kemudian diwadahi dalam berbagai formulasi-formulasi kelembagaan partai nampaknya juga tidak cukup memberikan dorongan atau motivasi bagi mereka untuk bersatu,” ujar Muqowam saat wawancara khusus dengan obsessionnnews.com ‎di Gedung DPD/MPR, Jumat (5/5/2017).

Kedua kubu, kata Muqowam, masih sama-sama mengedepankan ego masing-masing tanpa memperhatikan aspek negatif ke depan. Mereka seolah sangat takut untuk kehilangan kekuasaan, sehingga secara psikologis mempengaruhi cara pandang mereka dalam memimpin PPP.

“Di samping secara psikologis itu ada latar belakang yang memang berbeda-beda. Ya, intinya mereka mungkin merasa kalau mereka kehilangan, maka akan kehilangan potensi untuk berkuasa. Sehingga karena tidak mau kehilangan kekuasaan, ya sudah dua-duanya masih berada dalam situasi seperti itu,” katanya.

Misalnya mantan anggota DPR ini menyebut pada saat Muktamar Luar Biasa PPP di Pondok Gede, Jawa Timur tahun lalu. Meski dianggap dasar hukumnya rapuh, namun bila itu dimaknai sebagai suatu cara bagi mereka untuk duduk bersama menyatukan PPP akan lebih baik.

“Sayang upaya dekonstruksi itu dipandang tidak cukup mengakomodasi ‎oleh pihak-pihak yang pada akhirnya tidak mau terlibat dalam proses itu,” jelasnya.

Saat ini kembali muncul wacana untuk menggelar Muktamar Luar Biasa, menyusul konflik internal yang belum selesai. Menanggapi hal itu Muqowam mengatakan, semua itu tergantung kedewasaan politik Djan dan Romy apakah keduanya mau duduk bersama untuk menyatukan PPP.

“Muktamar Luar Biasa tergantung pada Romy dan Djan, karena keduanya secara struktural sudah membentuk pengurus sampai ke cabang-cabang. Kalau Muktamar tidak melibatkan keduanya ya tidak mungkin islah,” katanya. ‎

‎”Yang jadi pertanyaan apakah ada minat keduanya untuk mundur selangkah dan menata kembali PPP? Karena secara hukum mereka merasa kuat semua, padahal faktanya PPP itu satu. Jadi jangan sampai Muktamar itu justru menambah konflik PPP, semangatnya harus persatuan,” tambahnya. (Albar).

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.