Senin, 26 Oktober 20

Muhasabah Musibah bagi Calon Presiden Indonesia Meneropong Pilpres Bag.8

Oleh Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

Tahun politik di Indonesia diwarnai bencana alam bertubi-tubi. Peristiwa alam penunjuk kebesaran Allah Sang Maha Pencipta dan Pengatur kehidupan. Tiada satu manusia pun yang bisa melawan kehebatan alam, ketika Allah sudah bertitah kalam. Kun fayakun, peristiwa ragam bencana itu pun terjadi atas izin-Nya.

Sebelumnya pun, bencana politik akibat kecongkakan demokrasi telah menjalar akut di tubuh rakyat Indonesia. Ragam aturan dan undang-undang, telah memporak-porandakan tataran kehidupan. Bumi, air, dan kekayaan alam yang seharusnya dikelola untuk kemakmuran rakyat, atas nama legislasi diserahkan kepada asing dan korporasi. Suatu yang haram di mata agama, dijadikan halal di depan konstitusi. Sudah berapa banyak korban akibat narkoba, minuman keras, kekerasan di jalanan, dan zat penghilang ingatan. Barang-barang haram itu pun masih dilegalkan atas nama pendapatan negara dan daerah.

Hal yang paling mencolok pasca liberalisasi politik yaitu pecah belah antar-anak bangsa. Sebab ‘harga mati’ mendukung calon dan pemimpin pujaanya, rela mati dan mati-matian membela. Dunia maya bergejolak dengan ujaran kebencian. Dunia nyata diekspresikan dengan kekerasan, persekusi, dan kedzaliman di hadapan umum. Sungguh barang siapa yang menginginkan model demokrasi ideal, itu hanya mimpi dan omong kosong. Demokrasi tidak mengenal baik dan buruk. Demokrasi hanya mengenal membolehkan segala cara, asal bisa berkuasa dan menguasai rakyat.

Muhasabah bagi Calon Presiden

Calon presiden Indonesia, Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi adalah manusia ciptaan Allah Swt. Manusia itu makhluk yang lemah, mudah mengeluh, membutuhkan yang lain, dan terbatas akal fikirannya. Kontestasi perebutan kursi RI-1 memang terus berjalan meski musim musibah datang. Sejenak sebagai makhluk, hendaknya merenung kembali. Mampukah tatkala terpilih sebagai pemimpin negeri ini mengatur urusan manusia dengan sebaik-baiknya? Bagaimana pula tatkala datang musibah dan bencana yang beragam bentuknya?

Kemampuan dalam kepemimpinan dan pengurusan urusan rakyat bagi pemimpin tidak bisa dianggap remeh temeh. Hal itu menjadi prasyarat terkait dengan konsep pengaturan kenegaraan. Calon pemimpin harus betul-betul memahami Indonesia. Dimulai dari topografi, geografis, sejarah, dan akar bangsa. Begitupun harus mampu memproyeksikan Indonesia ke depan. Menjadi apakah Indonesia? Bertambah kemakmuran dan kesejahteraan? Atau sebaliknya bertambah masalah dan kesengsaraan bangsa?

Peristiwa bencana ini hendaknya disikapi dengan arif dan bijaksana. Tak perlu heboh dan lebay. Sebab ada jutaan rakyat yang sedang berlarian mencari keselamatan. Bencana alam bisa menjadi pertanda pengingat awal dari Allah Swt. Sebaik-baik calon pemimpin Indonesia ialah yang mampu membaca dan memikirkan peristiwa dan pelajaran dari Allah Swt. Dibutuhkan ulul albab yang berfikir cemerlang untuk bisa berubah dan mengubah Indonesia dengan aturan yang diridhoi Allah Swt.

Suatu hal yang berat bagi calon pemimpin Indonesia tatkala hidup dalam tataran liberalisme saat ini. Banyak perilaku dan aturan yang menyimpang dari syariah Islam. Tantangan terberat dan terhebat yakni menghapuskan segala perilaku dan aturan menyimpang. Rakyat pun harus dididik dengan bekal iman dan taqwa yang optimal dan ideal. Harapannya akan memahami aturan yang baik dan benar diridhoi Allah Swt. Jika, hal itu tidak bisa dilakukan, maka Allah dengan Kemaha Kuasa-Nya akan terus mengingatkan melalui cara-Nya.

Indonesia Kerja yang Makmur Berkah

Musibah dan peristiwa bencana ini harus mampu dijadikan pelajaran bagi calon pemimpin Indonesia. Bekerjalah untuk kemakmuran rakyat Indonesia dengan aturan yang diberkahi Allah. Sebagai pemimpin negara, ditambah lagi seorang muslim, ada konsekunsi dari konsep aqidah. Konsekuensi itu taat syariah. Ini bukan persolan negara ini bukan negara Islam atau negara agama. Hal ini lebih pada konsep mendasar sebagai hamba dan makhluk Allah Swt.

Kemakmuran yang tidak diberkahi justru akan menimbulkan bencana. Begitu pun kerja yang tidak sesuai syariah, berkah pun tak didapat. Sebaliknya menjadi kesengsaraan nasional. Di masa kampanye ini, bagi capres-cawapres, relawan, tim kampanye, tim sukses, dan siapa pun yang berkepentingan dengan suksesi kepemimpinan Indonesia harus selalu ingat pada Allah Swt. Indonesia negara besar. Kebesarannya haruslah diimbangi dengan ketaqwaan dan keimanan penduduk negerinya. Jika dua hal itu bisa berpadu, niscaya Allah akan membuka keberkahan dan kemakmuran dari langit dan bumi. Saatnya, momentum musibah dijadikan muhasabah untuk kembali kepada-Nya. Bukankah manusia memiliki akal dan berfikir?

Siapa saja yang nanti pundaknya ada mandat rakyat memimpin Indonesia, beban Anda berat. Pertanggung jawabannya sampai akhirat. Sebelum terlambat, jika tak mampu janganlah maju, nanti bikin malu. Jika tak mampu memimpin dengan syariah, segeralah berubah arah, ambil semua aturan dari Allah Swt. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.