Kamis, 24 Juni 21

Mufida Minta Kemenkes Cepat Tanggap Soal Lonjakan Kasus Covid-19 di Bangkalan dan Kudus

Mufida Minta Kemenkes Cepat Tanggap Soal Lonjakan Kasus Covid-19 di Bangkalan dan Kudus
* Anggota Komisi IX DPR RI Mufida Kurniasih. (Foto: Istimewa)

Jakarta, obsessionnews.comSejak awal Juni 2021, penyebaran Covid-19 di Bangkalan, Pulau Madura, meningkat drastis. Dalam sepekan, ada 61 kasus baru dan 6 pasien Covid-19 dinyatakan meninggal dunia. Bahkan pada Minggu (6/6/2021) ada 25 kasus baru Covid-19 di Bangkalan. Banyak kasus pasien Covid-19 di Bangkalan yang tak bertahan saat dibawa ke RS dan kurang dari 24 jam pasien meninggal dunia usai perawatan.

Data update situasi Covid-19 yang dikeluarkan oleh Dinas Kominfo Jatim pada 4 Juni 2021 belum disesuaikan dengan data lapangan. Dalam data tersebut terlihat Bangkalan masuk ke dalam kategori wilayah dengan ‘risiko rendah’ termasuk 3 wilayah kabupaten lainnya di Madura. Namun sehari berselang, Dinas Kesehatan Jatim menerbitkan surat permintaan penerimaan rujukan pasien Covid-19 dari RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan ke beberapa RS di Surabaya karena sudah kewalahan menangani pasien Covid-19 termasuk sejumlah tenaga kesehatan di RS setempat.

Menanggapi hal tersebut anggota Komisi IX DPR RI Mufida Kurniasih mengaku prihatin dengan data yang diungkap belum sesuai realitas sebenarnya. Dan itu berimbas pada kecepatan dalam mengantisipasi ledakan pasien Covid di Bangkalan, Jawa Timur.

“Data update situasi Covid-19 yang dikeluarkan oleh Dinas Kominfo Jatim pada 4 Juni 2021 terlihat Bangkalan baik-baik saja dalam kasus Covid dengan kategori ‘risiko rendah’. Namun kok besoknya terjadi ledakan Covid di Bangkalan. Ini khan ada data yang belum divalidasi dengan data terkini di lapangan,” tegas Mufida dalam keterangan tertulisnya, Rabu (9/6).

Harusnya, lanjut Politisi PKS ini, semua data transparan dan valid angka-angkanya, sehingga untuk antisipasi awal ledakan Covid bisa dilakukan. Seperti kesiapan rumah sakit dalam ketersediaan tempat tidur, kemampuan SDM dalam penanganan serta ketersediaan prosedur operasi standar.

“Akibat data yang diupdate tak sesuai dengan realitas kasus Covid yang ada sehingga penangannya tak maksimal,”ungkapnya.

Selain itu, terang Mufida, penyebab tingginya kematian pasien Covid-19 di rumah sakit, khususnya pasien gawat darurat bisa disebabkan pasien terlambat mengambil keputusan untuk pergi ke RS.

“Karena itu, kami berharap Kemenkes lebih cepat tanggap bila ada indikasi lonjakan kasus di suatu daerah. Jadi, seperti kasus di Bangkalan bisa diantisipasi lebih awal,” kata Mufida.

Selain di Bangkalan, Jawa Timur, kasus ledakan Covid di Kudus, Jawa Tengah pun menjadi sorotan Mufida. Kudus menjadi kabupaten dengan jumlah kasus paling tinggi. Data Satgas Covid-19 per 30 Mei menyebutkan, kenaikan hingga 3.473 persen, dari 26 kasus sepekan sebelumnya menjadi 929 kasus.

Hingga Minggu (6/6) pukul 12.00, menurut data Pemprov Jateng, terdapat 209.305 kasus positif Covid-19 kumulatif. Ada penambahan 1.109 kasus positif dalam 24 jam terakhir.

Berkaca dari ledakan Covid di Bangkalan dan Kudus, pemerintah harusnya mampu mendeteksi dini upaya pencegahan.

“Pasca Liburan muncul ledakan Covid di Kudus dan Bangkalan. Harusnya ini sudah bisa dideteksi sejak awal, termasuk data-data yang masuk sebelumnya bisa mengantisipasi ledakan kasus Covid. Namun upaya pencegahan mengendor. Ini jadi masalah,” ucapnya.

Apalagi, lanjut Mufida, sejak awal pandemi Covid-19 di Indonesia, para ahli memperkirakan bahwa jumlah kasus yang ada di lapangan berkali-kali jauh lebih banyak dari data resmi pemerintah. Hal itu kini dibuktikan dengan dua studi terbaru.

Dilansir Reuters, Kamis (3/6), ahli epidemiologi mengatakan, berdasar studi seroprevalense (studi yang menguji antibodi) berskala besar periode Desember hingga Januari 2021, diperkirakan penduduk Indonesia yang terinfeksi Covid-19 sekitar 15 persen.

Seperti diketahui, jumlah penduduk di Tanah Air ada sekitar 270 juta jiwa. 15 persennya berarti sekitar 40,5 juta. Namun saat itu, angka resmi dari pemerintah pada akhir Januari hanya dialami 0,4 persen penduduk.

Saat ini tercatat ada 1,85 juta kasus Covid-19 di Indonesia. Artinya, angka resmi yang tercatat hanya sekitar 0,7 persen dari jumlah seluruh penduduk Indonesia.

Dari data-data tersebut, ucap Mufida, harusnya pelacakan kontak dan pengujian Covid di Indonesia harus lebih massif lagi sehingga bisa meminilisir kasus yang terjadi serta penangganannya.

“Testing, tracing, isolasi dan karantina harus lebih massif lagi,” ujarnya.

Saat ini, Indonesia masih menempati urutan ke-18 dunia untuk kasus Corona di dunia dengan mengonfirmasi total 1.863.031 kasus positif secara kumulatif.

Indonesia kembali mengalami kenaikan kasus positif harian, yakni ada tambahan 6 ribu lebih  kasus harian. Total kasus positif mencapai 1.869.325, sembuh 1.717.370, dan meninggal 51.992 jiwa.

Kasus aktif tercatat sebanyak 99.963, jumlah spesimen yang diperiksa 101.931, dan suspek yang diamati sebanyak 94.682 orang. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.