Jumat, 12 Agustus 22

Misi Menumpahkan Air Mata Rohingnya

Misi Menumpahkan Air Mata Rohingnya

Oleh : Anonymous1946

Sebuah skenario konspirasi telah ditayangkan. Adegan demi adegan sedang berlangsung seru.

Begitulah agaknya kalimat yang mampu mewakili perasaan para pemangku kepentingan dalam krisis Rohingnya. Alih-alih bergerak dalam bingkai isu kemanusiaan, perhatian aktivis dan massa kini tertuju kepada sentimen agama, antara Buddha dan Muslim.

Oktober 2015, sebuah dokumen rahasia bocor di Inggris-International State Crime Initiative (ISCI) di Queens Mary University London menyimpulkan, Rohingnya yang menempati Rakhine state sedang menghadapi tahap akhir genosida. Dokumen ini disebut sebut bersumber dari intelijen di Myanmar, memperlihatkan rencana “pembersihan massal” telah disiapkan pemerintah Myanmar dalam tingkatan tertinggi.

Laporan tersebut meliputi rencana perkosaan, pembunuhan sesama masyarakat, penahanan atas kasus hukum, penyerobotan tanah, isolasi oleh pemerintah, membangun sentimen agama (menyudutkan muslim Rohingnya menciptakan kondisi Islam vs Buddha), pembakaran, mengusir atau menghabisi, menghilangkan hak memiliki tanah dan hak politik, dieliminasi dengan tidak diberikan identitas-meskipun dalam sejarah menyatakan bahwa muslim Rohingnya telah mendiami tanah tersebut sejak abad pertengahan.

Merujuk laporan dari departemen perdagangan dan investasi Inggris (UKTI), wilayah Rakhine dan Sanghan menyimpan kandungan minyak senilai 3,2 juta barel dan cadangan LNG yang sangat besar. Data tersebut juga telah diketahui oleh korporasi dunia di bidang energi (Amerika, UE, Korea Selatan dan China). Sehingga, penduduk di wilayah kaya SDA itu harus “dipindahkan” karena akan digunakan sebagai jalur pipa minyak, industri energi dan deep sea port akses ke laut Hindia.

Demi memuluskan rencana dan menguasai wilayah kaya SDA tersebut, Amerika rezim Obama telah menyiapkan “proxy” atau agen-lakon misinya. Yakni Aung San Suu Kyi yang didukung juga serta dibina oleh Uni Eropa untuk melawan rezim militer dan membendung pengaruh China, mengamankan aset sejumlah korporasi, reformasi ekonomi dan politik serta proses demokratisasi yang mengarah kepada penghargaan nobel perdamaian yang diterima Aung San Suu Kyi dan berhasil menjadikannya leader of Myanmar dengan memenangkan Pemilu 2016 menumbangkan rezim militer. Uni Eropa memujinya sebagai pemenang Pemilu paling demokratis, adil dan transparan tanpa kekerasan. Branding Aung San Suu Kyi sebagai Proxy Kapitalisme didukung oleh media korporasi.

Puzzle telah terbuka, tak ada sekalipun konflik sosial yang muncul di Myanmar sebagai resistensi antar pemeluk agama. Segala darah dan air mata yang tertumpah di Myanmar adalah by design kapitalism international untuk menguasai kekayaan SDA di tangan segelintir orang saja.

Rakyat Myanmar seluruhnya, lintas agama, lintas suku harus membangun persatuan melawan rezim penindas dan pemecah belah rakyat!

Kaum buruh Myanmar harus bersatu dan melawan rezim kapitalistik!

Rebut aset strategis dan nasionalisasikan di bawah kontrol rakyat.

Atas nama kemanusiaan lintas SARA, bersatulah menumbangkan kapitalisme!

Jakarta, 3 September 2017

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.