Jumat, 1 Juli 22

Mimpi Modern Bambang Soesatyo (Ketua Komisi III DPR RI)

Mimpi Modern Bambang Soesatyo  (Ketua Komisi III DPR RI)

Nama Bambang Soesatyo pasti belum lenyap dari benak kita. Sosok vokalis di parlemen dari Partai Golkar yang serius memainkan perannya sebagai pengawas negara. Tak peduli siapapun yang dianggapnya melenceng dari aturan main konstitusi pasti ia kritisi.

Duduk di Komisi Hukum DPR RI ternyata sangat pas buat wakil rakyat satu ini.

Betapa tidak, keteguhan dalam memperjuangkan penegakan hukum, khususnya dalam kasus korupsi yang dianggapnya sudah menjadi kejahatan luar biasa, patutlah diacungkan jempol. Ya, Bambang memiliki komitmen yang kuat dalam memberantas korupsi. Jangankan keluar, ke dalam pun ia tegas. Semisal ketika menikahkan putrinya, ia melaporkan pemberian gratifikasi atas pernikahan putranya tersebut ke KPK. Contoh yang tampaknya sedikit sekali diperlihatkan oleh pejabat negara.

Tetap loyal pada Golkar.
Tetap loyal pada Golkar.

Memang, menjadi anggota DPR merupakan obsesi Bambang Soesatyo sejak muda. Keinginannya untuk menjadi legislator tersebut didasari pada niat memperjuangkan aspirasi rakyat agar rakyat hidup sejahtera dan hidup dalam suasana nyaman.

Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, Bambang memilih bergabung dengan Golkar, partai terbesar di era Orde Baru. Ia berkecimpung di partai berlambang pohon beringin ini pada pertengahan tahun 1990-an.

Ternyata tidak mudah bagi Bambang untuk merealisasikan impiannya menjadi wakil rakyat. Ia harus menempuh perjalanan panjang yang sarat dengan kerikil. Dibutuhkan kerja keras, kesabaran, dan ketabahan untuk menginjakkan kaki di

Senayan, sebutan populer untuk Gedung MPR/DPR yang berlokasi di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

Kesempatan untuk menjadi calon anggota legislatif (caleg) muncul pada Pemilu 1997. Ketika itu Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar Harmoko memberi peluang pada banyak kader muda, termasuk Bambang, untuk maju sebagai caleg. Bambang tidak menyia-nyiakan peluang emas tersebut. Namun, apa yang kemudian terjadi? Dalam pemilu yang diikuti tiga partai politik, yakni Golkar, PPP, dan PDI itu gagal memperoleh tiket ke Senayan!

Meski gagal terpilih menjadi anggota DPR, Bambang tetap loyal pada Golkar. Pada 21 Mei 1998, pemerintahan Orde Baru yang identik dengan Golkar, tumbang. Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun lengser keprabon karena gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa. Pasca pengunduran diri Soeharto, pemerintahan BJ Habibie membuat reformasi di bidang politik, yakni membuka kesempatan berdirinya partai-partai baru untuk mengikuti pemilu yang dipecepat yakni tahun 1999 dari seharusnya tahun 2002. Ketika itu banyak kader Golkar meninggalkan Golkar, dan mendirikan partai-partai baru. Bambang tidak tergoda untuk mengikuti langkah rekan-rekannya tersebut. Ia tetap berlindung di bawah naungan partai beringin.

Pada Pemilu 1999, yang merupakan pemilu pertama di era reformasi, Golkar kembali mempercayainya menjadi caleg. Bambang tentu berharap pada pencalonannya yang kedua ini ia berhasil menjadi anggota DPR. Tapi, harapan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Ia kembali gagal melenggang ke Senayan.

Kendati demikian Bambang tetap setia pada Golkar. Berkat loyalitasnya yang tinggi itu ia kembali diberi kesempatan oleh Golkar menjadi caleg pada Pemilu 2004. Ketika itu Bambang optimis bakal berhasil terpilih menjadi anggota DPR. Ternyata Bambang kembali menelan pil pahit! Dengan demikian untuk ketiga kalinya secara beruntun ia belum berhasil menjadi anggota DPR.

Gigih memperjuangkan aspirasi rakyat.
Gigih memperjuangkan aspirasi rakyat.

52-59-cover-story-revisi-2_004a52-59-cover-story-revisi-2_004b

Putus asakah dia? Tidak. Dalam kamus hidupnya tidak ada kata putus asa. Perjuangan Bambang yang tidak kenal lelah akhirnya berbuah manis. Pada pencalonannya yang keempat kali, yakni Pemilu 2009, dia berhasil terpilih menjadi anggota DPR periode 2009-2014 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah VII yang meliputi Banjarnegara, Purbalingga, dan Kebumen.

Nama Bambang Soesatyo melejit ketika mengkritisi kasus dugaan korupsi Bank Century di era pemerintahan SBY.
Nama Bambang Soesatyo melejit ketika mengkritisi kasus dugaan korupsi Bank Century di era pemerintahan SBY.

Pada periode 2009-2014, ia tercatat sebagai salah seorang anggota DPR yang terpopuler. Namanya melambung ketika terjadi skandal Bank Century. Dialah satu dari sembilan anggota DPR yang membentuk Panitia Khusus Hak Angket Bank Century. Bambang yang saat itu duduk sebagai anggota Komisi III bidang hukum dikenal kritis dalam menyampaikan pandangannya tentang Aliran Dana Lembaga Penjamin Simpanan pada Bank Century.

Skandal mega korupsi Bank Century hanya salah satu kasus besar yang dibidik oleh Bambang. Ia juga mengkritisi kasus-kasus besar lainnya. Tak pelak keberanian ‘anak kolong’ ini mengungkap kasus-kasus besar membuat namanya beken. Dan berkat popularitasnya tersebut Bambang terpilih kembali menjadi anggota DPR pada Pemilu 2014 dari dapil yang sama.

Dalam setiap pernyataan-pernyataannya yang dikutip media massa, tampak Bambang memiliki komitmen yang kuat dalam memberantas korupsi. Hal ini semakin diperkuat ketika ia melaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengenai pemberian gratifikasi atas pernikahan putrinya, Gladys Raditya Sartika, pada 29 Januari 2012 yang lalu.

Gratifikasi sebesar total Rp 800 juta itu diberikan oleh para petinggi, pejabat negara dan pengusaha berupa uang tunai dalam bentuk rupiah dan mata uang asing.

Pria yang populer dengan panggilan Bamsoet – akronim dari namanya – ini menduduki posisi yang strategis, yakni Ketua Komisi III. Sebelumnya ia menduduki posisi Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPR. Sementara di DPP Partai Golkar periode 2016-2019 ia menjabat Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa II yang meliputi Jateng dan DIY.

Namun begitu, selain menjadi bagian dari perjuangan mewujudkan Indonesia yang bebas korupsi, Bambang juga memiliki obsesi terhadap lembaga perwakilan rakyat. Ia berobsesi DPR menjadi parlemen modern. Bukan gedungnya yang modern, tetapi pemikirannya yang modern. “Untuk menciptakan parlemen modern, para anggota DPR harus menguasai teknologi agar cepat memperoleh informasi, sehingga tidak perlu datang ke daerah untuk merespons suatu peristiwa. Cukup berkomunikasi melalui internet dan e-mail,” tegasnya.

Baginya, berpikir modern itu adalah berpikir ke depan, bukan berpikir mundur ke belakang. Oleh karena itu para anggota DPR harus mengikuti perkembangan teknologi untuk mempermudah menjalankan tugasnya.

Bamsoet dilahirkan di Jakarta, 10 September 1962, dan tumbuh dari keluarga militer, ayahnya veteran Kemerdekaan RI 1945. Bamsoet yang mengenyam pendidikan di Program MBA, IM Newport Indonesia, Universitas Jayabaya, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STEI) itu menyabet beberapa penghargaan, yakni Adhi Karya Award (1995), Top Eksekutif Indonesia (1996), dan PWI News Maker Award (2010).

Ia mengawali kariernya sebagai wartawan Harian Umum Prioritas pada tahun 1985. Selanjutnya menjadi Sekretaris Redaktur Majalah VISTA (1987), Pemimpin Redaksi Majalah INFO BISNIS (1991), Komisaris PT Suara Irama Indah (1999), kemudian memimpin Harian Umum Suara Karya (2004), Direktur PT Suara Rakyat Membangun (Suara Karya) (2004), Direktur Independen PT SIMA, Tbk (2006), dan Direktur Kodeco Timber (2007).

Ayah delapan anak ini memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk menentukan kariernya. Anak sulungnya berprofresi sebagai notaris, dan anak kedua menjadi pengusaha restoran. Sedangkan enam anak lainnya masih menuntut ilmu di TK, SMP, SMA, dan perguruan tinggi.

Satu hal yang mungkin sulit dilakukan kebanyakan pejabat negara adalah meluangkan waktu untuk menulis buku. Menulis, menjadi wahana intelektualitasnya di luar gedung DPR. Ia, meluangkan waktu pada Jumat hingga Minggu untuk menulis. Hingga kini Bamsoet telah menulis 11 buku.

# Antara Burung dan Motor Gede

Sesibuk apapun Bambang mengabdikan diri sebagai wakil rakyat, tapi ada satu hal yang tak dilupakannya yakni hobinya yang cukup banyak. Tapi yang terutama adalah mengoleksi aneka jenis ayam dan burung langka. “Tapi sudah berizin,” tukasnya.

Hobi moge.
Hobi moge.

Kesukaannya itu tak hanya ia nikmati sendiri. Anak-anaknya juga suka. “Ayam dan burung bikin betah di rumah,” aku pria yang memang betah di rumah jika tak ada acara penting ini.

Hobi memelihara ayam dan burung dilakoninya sejak duduk di bangku SMP. Sempat terhenti ketika kuliah dan aktif di berbagai organisasi di kampus serta ekstra kampus, dan mulai lagi ketika terjun sebagai pengusaha hingga sukses menjadi anggota DPR.

Satu hal yang membuat ia suka dengan hobinya itu adalah karena untuk memelihara berbagai jenis ayam dan burung tersebut diperlukan ketelatenan, kesabaran, ketulusan dan kasih sayang.

Saking dekat dengan peliharaannya, Ketua Pemenangan Pemilu Partai Golkar ini sampai hafal suara kokok ayam dan siulan burung koleksinya. Komposisi suara yang menjadi irama musik tersendiri di rumahnya. Tapi kalau ditanya suara yang paling ia sukai, jawabnya pasti kokok ayam pelung, ayam bekisar, ayam katawa dari Makassar dan ayam Nagamori dari Jepang. “Kalau ayam Polandia, ayam Belanda dan Ayam Golden Cina kurang nyaring,” cetusnya.

Untuk burung, suara merak India yang keras dan nyaring seperti terompet sambil memamerkan bulu kipasnya yang memesona adalah favoritnya.

Memang, tidak mudah memelihara hewan-hewan khusus tersebut. Namun disitulah seninya. Sekaligus juga penghilang stres dan menenangkan jiwa. Perilaku mereka menakjubkan. Saya sering menikmati hampir setiap pagi. Mulai subuh rumah sudah ramai dengan kokok berbagai jenis ayam dan kicauan beragam burung,” bangga anggota komunitas penggemar burung ini.

Soal dari mana mendapatkan hewan-hewan itu, ia bisa dapatkan dari sesama anggota komunitas. Kadang-kadang ada juga dari tukar menukar. Saat ini ada puluhan jenis ayam dan burung meramaikan rumahnya. Sebagai orang yang sadar hukum, tentu saja hewan-hewan langka itu ia daftarkan dan mendapatkan sertifikat legalitas seperti jalak Bali dan lainnya.

Selain ayam dan burung, Bambang juga dikenal sebagai penunggang motor gede alias moge. Setidaknya, dua unit moge nangkring di garasi rumahnya. Jadi, kalau ada waktu kosong, setelah menyisihkan beberapa jam untuk ayam dan burung, ia pun menyisihkan sisa waktu yang ada untuk ber-moge ria. Touring bersama rekan-rekan sekomunitas. Motor gede memang cocok untuk Bambang yang memiliki postur tinggi dan tubuh atletis. Bamsoet mengaku mengoleksi moge sejak lama. “Motor gede sangat nyaman untuk digunakan menempuh perjalanan yang jauh.

# “Praktiknya, Legislatif dan Yudikatif Menghamba pada Eksekutif!”

Di tengah jadwal kerjanya yang padat Bambang meluangkan waktu untuk diwawancarai Men’s Obsession di ruang kerjanya di kompleks DPR baru-baru ini. Berikut petikan wawancara dengan Bambang.

Apa obsesi Anda tentang DPR?

Saya berobsesi DPR menjadi parlemen modern. Modern yang saya maksud adalah bukan gedungnya yang modern, tetapi pemikirannya yang modern. Untuk menciptakan parlemen modern, para anggota DPR harus menguasai teknologi agar cepat memperoleh informasi,sehingga tidak perlu datang ke daerah untuk merespons suatu peristiwa. Cukup berkomunikasi melalui internet dan e-mail. Berpikir modern itu adalah berpikir ke depan, bukan berpikir mundur ke belakang. Oleh karena itu para anggota DPR harus mengikuti perkembangan teknologi untuk mempermudah menjalankan tugasnya.

Butuh waktu berapa lama untuk menjadi parlemen modern?

Sulit memprediksinya. Masalahnya adalah tiap lima tahun sekali terjadi pergantian anggota DPR. Sulit memastikan tiap lima tahun ada peningkatan kinerja DPR, karena hasil pemilu orang-orangnya kan berganti. Jadi, mulai dari nol lagi. Itu yang dihadapi parlemen di mana pun di Dunia.

Apa lagi obsesi Anda tentang DPR?

Obsesi saya yang lain adalah menjadikan DPR sebagai lembaga yang bermartabat dan berwibawa. Untuk itu partai politik harus merekrut caleg yang berkualitas. Menurut saya, idealnya yang direkrut sebagai caleg adalah orang-orang yang sudah mapan.

Di negara-negara maju yang menjadi anggota parlemen adalah orang-orang yang mapan, yakni pengusaha, pengacara, dan lain-lain. Karena mapan secara ekonomi mereka mampu membiayai kegiatan-kegiatan politiknya. Karena mapan mereka tidak ada beban ketika mengkritik pemerintah. Juga mereka optimal bekerja, sehingga terhindar dari korupsi dan suap.

Banyak orang yang mengkritik DPR melempem. Bagaimana tanggapan Anda?

Rakyat menaruh harapan besar kepada DPR agar dapat optimal bekerja dalam

menjalankan fungsinya di bidang legislasi, anggaran, dan pengawasan. Di sisi lain lembaga legislatif ini dihujani kritik karena kinerjanya dinilai belum maksimal memperjuangkan aspirasi rakyat.

Saya bisa memahami kritik tersebut, dan dijadikan masukan bagi parlemen. Ke depan parlemen harus lebih bagus lagi dalam kegiatan menyerap aspirasi masyarakat. Yang banyak dipersoalkan oleh masyarakat adalah soal anggaran. Publik menginginkan agar DPR ikut memperjuangkan agar penyaluran anggaran merata ke semua daerah, bukan hanya untuk daerah-daerah yang maju, tetapi juga untuk daerah-daerah tertinggal.

Anda dikenal sebagai wakil rakyat yang vokal, terutama ketika membongkar kasus Bank Century di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Padahal waktu itu anda termasuk wajah baru di DPR. Apakah waktu itu Anda tidak ditegur partai Anda?

Untuk menjadi anggota DPR yang terkenal, politisi harus memanfaatkan momentum besar yang menyangkut kepentingan masyarakat banyak. Apa yang saya lakukan pasti diketahui oleh publik melalui pemberitaan di media massa. Dalam kasus Bank Century yang menghebohkan itu saya menilai ada penyalahgunaan APBN.

Dalam politik yang penting ada momentum untuk terkenal. Jadi, momentum itu harus dimanfaatkan dengan baik. Namun, sebagai politisi saya berhitung apakah gebrakannya menabrak tembok atau tidak. Dalam kasus Bank Century yang terjadi di era SBY, saya menilai pemerintah tidak terlalu dominan menguasai parlemen. Saat itu Golkar bersama PDI-P, Gerindra, PKS, dan Hanura sebagai penyeimbang. Melihat peta kekuatan di parlemen itu saya percaya diri kevokalan saya tidak sia-sia.

Partai Golkar tidak pernah menegur saya waktu saya membongkar kasus Bank Century, dan juga mengkritisi kasus-kasus besar lainnya. Sebab, apa yang saya sampaikan itu tidak asbun alias asal bunyi. Saya mengkritik berdasarkan data yang akurat. Apa yang saya lakukan itu dalam rangka menjalankan fungsi DPR di bidang pengawasan. Itu merupakan langkah mengoreksi pemerintah agar pemerintah menjalankan Undang-Undang (UU) dengan benar. Saya ingin pemerintah menghargai dinamika di parlemen yang memperjuangkan aspirasi rakyat.

Golkar sekarang mendukung pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK). Apakah Anda tetap vokal?

Sebagai wakil rakyat saya harus tetap kritis dong. Saya konsisten memperjuangkan aspirasi rakyat.

Dulu pada Pilpres 2014 Golkar bagian dari Koalisi Merah Putih (KMP) yang mendukung Prabowo Soebianto-Hatta Rajasa. Saat itu Prabowo-Hatta kalah melawan Jokowi-JK yang diusung Koalisi Indonesia Hebat (KIH).

Sebenarnya saya sudah mempersiapkan membuat buku yang mengkritisi pemerintahan Jokowi-JK. Tetapi, saya tidak jadi menerbitkannya, karena terjadi perubahan peta politik, di mana pada Januari 2016 Golkar keluar dari KMP dan mendukung Jokowi.

Di masa lalu, di masa Orde Baru, DPR dituding hanya sebagai stempel pemerintah. Bagaimana kedudukan DPR dan pemerintah saat ini?

Dalam Undang-Undang (UU) disebutkan eksekutif, legislatif, dan yudikatif mempunyai kedudukan yang sejajar. Tapi, praktiknya, legislatif dan yudikatif menghamba pada eksekutif, karena gaji dan proyek berasal dari pemerintah. Eksekutif memiliki kekuasaan operasional dalam pengelolaan negara.

Kondisi DPR sekarang ini tidak beda jauh dengan era Orde Baru. Eksekutif sekarang menguasai parlemen setelah bergabungnya Golkar dan PAN. Kini tinggal Gerindra, PKS, dan Demokrat sebagai penyeimbang. Tapi, mereka bisa berbuat apa?

Pak Harto butuh puluhan tahun untuk menguasai parlemen. Begitu juga Habibie, Megawati, SBY, perlu waktu panjang untuk menguasai parlemen. Mereka kalah dengan Jokowi. Jokowi hanya membutuhkan waktu satu setengah tahun untuk menguasai parlemen. Jokowi itu hebat.

Apa saja yang Anda perjuangkan di periode pertama menjadi anggota DPR?

Di periode pertama sebagai anggota DPR saya memperjuangkan sarana dan prasarana di dapil saya, yakni membangun jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Di periode kedua ini saya tentu saja semakin terpacu untuk terus meningkatkan bantuan sarana dan prasarana. Saya aktif mengunjungi konstituen di masa reses.

Apakah Anda pribadi sudah optimal memperjuangkan aspirasi rakyat?

Begini. Sekarang yang dilakukan anggota DPR masih sporadis, masih mengutamakan kepentingan masing-masing. Setiap anggota DPR dari satu daerah pemilihan mempunyai cara berbeda dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Mestinya para anggota DPR itu satu langkah dalam memperjuangkan dapilnya. Saya misalnya kurang ada koordinasi yang baik dengan teman-teman yang satu dapil. Di dapil saya terdapat 10 anggota DPR. Di dapil itu harusnya saya bisa kerja sama dengan teman-teman dari PDI-Perjuangan dan PAN. Idealnya sih seperti saya katakan tadi mestinya para anggota satu langkah dalam memperjuangkan dapilnya.

Darah politik Anda menurun dari ayah?

Nggak. Ayah saya anggota TNI. Setelah pensiun dari TNI ayah saya tidak berpolitik. Tapi wiraswasta.

Orang tua mendorong Anda terjun ke dunia politik?

Orang tua tidak pernah menyuruh saya harus menjadi ini itu. Saya diberi kebebasan menentukan jalan hidup saya.

Mengapa Anda memilih bergabung dengan Golkar?

Saya sejak muda aktif di Golkar. Saya merasa enjoy di Golkar. Di Golkar enak pergaulannya, tidak ada unsur fanatisme dan kelompok. Kita kebangsaan.

Selain sebagai anggota DPR Anda juga pengusaha batubara. Bagaimana ceritanya Anda terjun ke bisnis batubara?

Ceritanya begini. Pada Pemilu 2004 saya gagal terpilih menjadi anggota DPR. Tapi, ada hikmah di balik kegagalan saya menjadi anggota DPR untuk ketiga kalinya itu. Gagal menjadi anggota DPR bukan berarti kiamat. Tuhan memberi saya jalan lain, yakni menjadi pengusaha. Tahun 2004 saya melihat peluang bagus di bisnis batubara di Kalimantan Selatan, dan hal itu tidak saya sia-siakan. Sebelumnya saya berkecimpung di bisnis media, tapi kalah bersaing. Sebagai pengusaha saya juga aktif di organisasi pengusaha, yakni sebagai Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Ketua Umum Asosiasi Rekanan dan Distributor Indonesia (Ardin). (Arif RH, Foto: Sutanto & Dok. Pribadi)

 Artikel ini dimuat di Majalah Men’s Obsession Edisi November 2016.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.