Senin, 4 Juli 22

Militer dan Polisi Myanmar Lakukan Kejahatan pada Muslim Rohingya

Militer dan Polisi Myanmar Lakukan Kejahatan pada Muslim Rohingya
* Etnik Rohingya merupakan kelompok minoritas di Myanmar. (BBC)

Myanmar – Salah seorang pejabat tinggi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkapkan militer dan polisi melakukan “kejahatan kemanusiaan” terhadap kelompok minoritas Rohingya Muslim di Myanmar.

Utusan khusus PBB yang menangani soal hak asasi manusia di Myanmar, Yanghee Lee, berbicara kepada BBC, sebagai bagian dari penyelidikan yang dilakukan oleh BBC Newsnight-BBC Our World.

Aung San Suu Kyi, yang telah berkuasa hampir satu tahun di Myanmar, menolak untuk diwawancarai terkait hal ini.
Juru bicara dari partai Suu Kyi mengatakan bahwa tuduhan-tuduhan itu “berlebihan” dan menambahkan bahwa ini adalah permasalahan “internal” bukan “internasional”.

Lee sendiri belum diberikan akses yang bebas untuk memasuki wilayah konflik di Myanmar. Tapi, setelah berbicara dengan para pengungsi di Bangladesh, ia mengatakan kepada BBC bahwa situasinya “jauh lebih buruk” dari yang ia bayangkan.

“Saya ingin mengatakan bahwa ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Benar-benar kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh orang-orang Burma, militer Myanmar, petugas penjaga perbatasan atau polisi atau pasukan keamanan,” ungkapnya seperti dilansir BBC, Jumat (10/3/2017).

Ia mengatakan ada masalah pelanggaran “sistemik” dalam tubuh pasukan keamanan Burma, namun ia mengatakan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi harus bertanggung jawab.

“Pada akhirnya, ini adalah tanggung jawab pemerintah, pemerintah sipil, yang harus menjawab dan menanggapi kasus-kasus besar penyiksaan yang mengerikan dan kejahatan yang sangat tidak manusiawi, yang telah mereka lakukan terhadap rakyat mereka sendiri.”

1.000 Muslim Rohingya Dibunuh Militer
Para pejabat PBB di Bangladesh mengatakan lebih dari seribu Muslim Rohingya mungkin telah meninggal dunia selama beberapa bulan terakhir dalam operasi militer di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Perkiraan jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya. Jumlah tersebut didapat dari kesaksian para pengungsi yang melarikan diri selama empat bulan terakhir.

Kantor berita Reuters mengutip dua pejabat senior dari dua lembaga PBB yang mengatakan bahwa hampir 70.000 orang telah melarikan diri.

Dikatakan oleh mereka dunia luar dikhawatirkan belum mengetahui secara utuh kedalaman krisis ini.

Seorang juru bicara presiden Myanmar, Zaw Htay, mengatakan bahwa para petinggi militer melaporkan jumlah yang meninggal dunia kurang dari 100 orang Rohingya.

Ketika ditanya komentarnya tentang perkiraan jumlah orang Rohingya yang meninggal dunia versi PBB ini, Zaw Htay mengatakan, “Jumlah versi mereka jauh lebih besar dibanding angka yang kita catat. Kita harus memeriksa fakta di lapangan.”

Myanmar mengatakan langkah yang diambil terhadap kelompok minoritas Rohingya adalah operasi memberantas pemberontakan yang dilancarkan setelah pos-pos penjaga perbatasan diserang pada Oktober tahun lalu.

Keterangan para pejabat dari dua lembaga PBB ini dikeluarkan setelah pekan lalu Kantor Hak Asasi Manusia PBB mengatakan militer Myanmar telah melakukan pembunuhan massal dan pemerkosaan berkelompok terhadap etnik Rohingya.

Disebutkan kekerasan yang dialami oleh kelompok minoritas Rohingya kemungkinan besar sama dengan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Seorang Muslimah Rohingya dan anaknya menangis di perbatasan Bangladesh dengan Myanmar. Sebuah video yang diposting secara online pada Ahad (1/1/2017) menunjukkan polisi Myanmar memukul penduduk Muslim Rohingya. (arrahmah/ameera)

Polisi Myanmar Pukul Muslim Rohingya
Organisasi Kerjasama Islam (OKI) melakukan pertemuan darurat dengan para menteri luar negeri menyusul pengungkapan video yang diposting online pada 1 Januari 2017 tentang polisi Myanmar yang memukul penduduk Muslim Rohingya.

Outlet berita Myanmar menyiarkan video tersebut dan menjadi viral di media sosial.

Video tersebut memperlihatkan beberapa petugas polisi sedang memukul dan menendang dua penduduk yang berada di antara puluhan Muslim Rohingya yang sedang diintrogasi selama operasi militer di wilayah ini.

Video tersebut merupakan dokumentasi langka tentang kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya di suatu daerah yang hampir tertutup bagi organisasi non-pemerintah dan pekerja bantuan kemanusiaan.

Maha Aqil, juru bicara OKI yang berbasis di Jeddah, mengatakan kepada Arab News bahwa OKI telah menindaklanjuti dengan cermat situasi Muslim Rohingya di Myanmar selama beberapa bulan terakhir, dan tentang semua serangan, pelanggaran, pemukulan dan pembakaran desa-desa mereka.

“OKI akan mengadakan pertemuan darurat di tingkat menteri luar negeri pada 19 Januari di Malaysia untuk membahas pelanggaran berbahaya yang dilakukan terhadap Muslim Rohingya, dan membuat keputusan untuk mengakhiri krisis kemanusiaan ini dan mengambil langkah-langkah praktis dalam hal bantuan kemanusiaan untuk menemukan resolusi politik untuk memberikan kelompok teraniaya ini hak-hak mereka,” kata Aqil.

Pemukulan itu terjadi selama tindakan keras yang dilakukan oleh tentara Myanmar pada 5 November yang menyebabkan Muslim Rohingya, yang berjumlah sekitar 34.000 orang, melarikan diri ke Bangladesh.

Operasi tersebut telah menyebabkan dugaan penganiayaan, eksekusi dan pemerkosaan tehadap penduduk desa Muslim Rohingya.

Pemerintah Aung San Suu Kyi telah membantah tuduhan tersebut.

Namun, kantor Suu Kyi membenarkan keaslian rekaman itu dan mengatakan bahwa video itu direkam oleh seorang polisi selama operasi pembersihan di bagian utara negara bagian Rakhine.

“Tindakan akan diambil terhadap polisi yang diduga memukul penduduk desa,” kata kantor Suu Kyi dalam sebuah pernyataan.

Empat polisi telah diidentifikasi namanya, termasuk pemimpin operasi.

“Penyelidikan lebih lanjut sedang dilakukan untuk mengungkap petugas polisi lainnya yang memukul penduduk desa,” kata pernyataan itu. (*/bbc.com/ameera)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.