Kamis, 24 September 20

Meski Demokrat Tertutup, Mayoritas akan Pilih Anies-Sandi

Meski Demokrat Tertutup, Mayoritas  akan Pilih Anies-Sandi
* Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. (Sumber foto: Twitter @aniesbaswedan)

Jakarta, Obsessionnews.com – Pilkada DKI Jakarta putaran pertama pada 15 Februari 2017 diikuti tiga pasangan calon (paslon), yakni Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, gubernur dan wakil gubernur (wagub) petahana DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Agus-Sylvi diusung oleh Partai Demokrat, PAN, PPP, dan PKB. Sedangkan gubernur dan wagub petahana DKI Ahok-Djarot diusung PDI-P, Golkar, Nasdem, dan Hanura. Sementara itu Anies-Sandi diusung Partai Gerindra dan PKS.

Dalam putaran pertama tersebut Ahok-Djarot meraih 2.364.577 suara atau 42,99%, diikuti Anies-Sandi yang memperoleh 2.197.333 suara (39,95%), dan Agus-Sylvi yang mendapat 937.955 suara (7,05%).

Ketiga paslon tidak ada yang memperoleh suara lebih dari 50 persen sebagai persyaratan untuk ditetapkan sebagai gubernur dan wagub sebagaimana ditetapkan dalam UU 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Untuk itu pada rapat pleno Sabtu (4/3) Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI memutuskan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi maju di putaran kedua pada 19 April mendatang.

Pengamat politik Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap.

Pengamat politik  Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap, memprediksi Anies-Sandi akan memenangkan pilkada putaran kedua.

“Secara sosiologis mayoritas pemilih akan memilih Anies-Sandi. Juga mantan pemilih Agus-Sylvi putaran pertama mayoritas akan memilih Anies-Sandi. Anies-Sandi telah membuktikan mampu meraih suara pemilih melewati total konstituen  parpol pendukung,” kata Muchtar ketika dihubungi Obsessionnews.com, Rabu (22/3).

Pada putaran kedua, lanjutnya, Anies-Sandi mendapat dukungan tiga parpol baru, yakni PAN, PPP dan PKB.

“Pendukung parpol-parpol berbasis Islam politik ini mutlak memilih Anies-Sandi,” tandas mantan aktivis mahasiswa 1977-1978 ini.

Kendala yang dihadapi Anies-Sandi, ujar Muchtar, ada pada Partai Demokrat yang memposisikan diri tertutup. Tetapi Muchtar memperkirakan mayoritas konstituen parpol ini memilih Anies-Sandi.

“Yang tidak pilih Anies itu kelompok konstituen Partai Demokrat yang non muslim. Tapi, jumlahnya sangat minor,” tegas alumnus Program Pasca Sarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986, ini.

Menurut Muchtar, kendala dan  tantangan berat Anies-Sandi yakni prilaku curang dan tidak jujur dalam proses pemungutan dan perhitungan suara pemilih. Prilaku ini dimotori kelompok pendukung Ahok yang bekerja sama dengan individu-individu yang berpengaruh di mayarakat kelurahan, dan juga para petugas penyelenggara Pilkada, bahkan pihak pengawas serta saksi-saksi Anies-Sandi sendiri. Terjadi kerja sama kecurangan dan ketidakjujuran kelompok pendukung Ahok-Djarot melawan Anies-Sandi   berbasiskan politik uang.

Muchtar curiga parpol pendukung Ahok-Djarot memaksa anggota legislatif di DPR, DPRD DKI dan luar DKI untuk terjun dan berkoordinasi dengan kader-kader parpol bersangkutan di level kecamatan atau kelurahan. Kalangan anggota legislatif ini membiayai kader-kader parpol  setempat untuk mempengaruhi dengan  politik uang pada kelompok pemilih lapisan akar rumput.

“Kader-kader parpol ini  mengunjungi rumah ke rumah calon pemilih yang diklaim sebagai kader atau anggota parpol tersebut dengan membagi uang atau barang-barang tertentu. Kehadiran para anggota legislatif dengan  membawa dana ke kecamatan  atau kelurahan relatif efektif untuk menggerakkan kader-kader parpol setempat mempengaruhi kelompok pemilih strata bawah, karena ada pengaliran dana sebagai salah satu faktor mempengaruhi prilaku pemilih khususnya kelompok strata bawah,” tandasnya.

Menurutnya, tantangan dan kendala sebagai konsekuensi prilaku lawan atau pesaing Anies-Sandi ini harus dikelola dan dikendalikan  semampu mungkin, sehingga mengalami kegagalan mempengaruhi prilaku pemilih berbasis politik uang. Harus ada kekuatan tim relawan Anies-Sandi yang langsung face to face dengan kader-kader parpol tersebut untuk melawan prilaku politik uang, dan menciptakan konflik terbuka, kalau perlu di samping menggunakan  cara-cara penegakan hukum.

“Mulai terus-menerus dikembangkan dan disebarluaskan ke publik perkiraan dan dugaan pihak lawan yang akan melakukan cara-cara curang, tidak jujur dan  politik uang,” pungkasnya. (arh)

Baca Juga:

Ketum Parmusi Tak Mau Dengar Kekalahan Anies-Sandi

Parmusi Deklarasi Dukung Anies-Sandi

Fantastis! Anies-Sandi Panen Dukungan

Fahira Idris: Tepat Anies-Sandi Tolak Reklamasi Teluk Jakarta

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.