Kamis, 30 Juni 22

Mereka Bukan Guru Biasa

Mereka Bukan Guru Biasa

Ilustrasi (ist)

Gia

Jakarta-Istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” yang disematkan pada guru tampaknya akan benar-benar tepat disandang para guru yang bekerja di daerah-daerah terpencil, perbatasan, dan pedalaman di negeri ini. Semisal Saur Marlina Manurung  yang kerap disapa Butet Manurung. Ia adalah  perintis dan pelaku pendidikan alternatif bagi rakyat  terpencil. Wanita kelahiran 21 Februari 1972 ini  mengembangkan sistem Sokola Rimba (diambil dari bahasa yang digunakan orang Rimba, salah satu dialek bahasa Melayu). Sistem Sokola Rimba kemudian diterapkan pula di berbagai tempat terpencil lainnya di Indonesia.

Selain Butet Manurung, ternyata banyak wanita Indonesia hebat lainnya yang mengabdikan diri di daerah terpencil dengan medan yang sulit untuk dilalui. Sebuah potret guru-guru idealis yang layak diberi apresiasi di  Hari Pendidikan Nasional ini. Siapa saja mereka?

Mundlilah Mengajar di  Daerah Konflik

Mundlilah seorang guru wanita berusia 37 tahun mengajar di sekolah yang terletak di jantung Kabupaten Aceh Utara, tepat di daerah konflik yang dulu menjadi sarang Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Lokasi sekolah ini terletak sekitar 21 km dari rumahnya karena jalanan ke sekolah yang rusak, ia membutuhkan waktu hingga 2 jam untuk tiba di sekolah. Bangunan sekolahnya minim fasilitas tanpa toilet. Namun baginya, pilihan menjadi guru adalah sebuah kehormatan. Apalagi sejak suaminya dituduh menjadi bagian dari GAM, dan dipenjara selama beberapa tahun, Bu Mun, harus membiayai kedua anaknya yang masih kecil dan menjadi tulang punggung keluarga.

Ia juga harus meninggalkan sekolah yang dirintisnya ketika terjadi konflik, dan hidup berpindah-pindah untuk sekadar mendapat keamanan. Saat itu adalah masa kelam dalam hidupnya, hingga rumah yang ia tinggali pun ikut dirusak. Bahkan ia sempat dengan nekat menjalani profesi sebagai RBT (ojek) dimana lazimnya disini hanya laki-laki yang bisa melakukan hal tersebut. Kemudian paska peristiwa tsunami yang menewaskan ratusan guru di Aceh, kesempatan menjalani profesi  guru datang kembali.

Sudah 19 tahun Bu Mun berkiprah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, walau sempat terhenti sejenak saat masa konflik. Dari mulai guru bakti, hingga guru honor sudah pernah ia jalani. Kini sebagai seorang guru honor, tidak banyak imbalan yang diterima olehnya. Jika dibandingkan dengan ongkos bensin dan perbaikan motornya, semua hampir impas. Namun hal itu tidak membuatnya berhenti mengajar. Baginya ini kesempatan untuk mengembangkan diri sekaligus berbakti pada negeri.

Jika hujan tiba, hanya Bu Mun, satu-satunya guru yang bertahan naik ke atas bukit. Dengan berbekal motor tuanya, ia bahkan rela berjalan kaki berkilo-kilometer karena motornya tak sanggup melewati ganasnya tanjakan tanah nan berbatu di bukit Dama Buleuen. Saking licinnya, roda motor bergeser kesana kemari, tanpa pernah bisa melaju. Terpaksa ia meninggalkan motornya di tengah jalan dan kembali melanjutkan perjalanan agar kegiatan belajar dan mengajar tidak terhenti.

 

Norma Kapitan, Menyeberangi Laut untuk Mengajar  

Norma Kapitan setiap hari harus menyeberangi laut untuk bisa mengajar di SD yang terletak di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat. Sudah13 tahun ia menjadi guru dan tiap hari harus menaiki perahu menuju tempatnya mengajar. Pulau Mansinam harus ditempuh dengan menggunakan kapal kayu yang dilengkapi mesin. Perjalanan dari Manokwari dengan kapal menuju pulau itu ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Total ongkos yang dikeluarkannya Rp 20 ribu setiap harinya untuk berangkat ke sekolah.

Ada sekitar 120 orang siswa yang belajar di sekolah beratap seng ini. Sekolah SD tersebut juga terdapat bangunan SMP. Para murid di sekolah bercat kuning ini memakai seragam putih merah. Namun banyak murid yang tidak memakai sepatu. Kondisi lain yang cukup memprihatinkan adalah guru kelas di SD ini baru 4 orang,  masih kekurangan guru. Untuk masalah ini, pihak sekolah menggunakan guru agama untuk mengajar kelas umum.

Sekolah ini juga belum bisa melakukan ujian nasional mandiri. Oleh karena itu, saat ujian nasional harus pergi ke kota untuk mengikuti ujian di sekolah yang sudah ditunjuk. Mereka harus menyewa perahu kecil untuk mengantar para siswa ujian nasional tiap tahunnya.

Aryani  di Sudut Pedalaman Kalimantan Barat

Menjadi guru adalah impian Aryani. Ia adalah perempuan asal Aceh yang mengikuti program Sarjana Mengajar di Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T) di Provinsi Kalimatan Barat. Tepatnya, di SDN 06 Raut, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Aryani berumur 25 tahun. Ia adalah sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Unsyiah. Selama mengabdi di Kalimantan Barat, dirinya tinggal di mess SMPN 1 Desa Balai Karangan, Ibukota Kecamatan Sekayam. Dari tempatnya tinggal dengan lokasi mengajar berjarak 12 kilometer. Setiap harinya ia pergi dengan menggunakan sepeda motor.

 Jalan menuju ke SDN dengan murid berjumlah 200 orang tersebut sangat berlumpur dan terjang. Kalau hujan, jalan susah dilalui. Aryani sudah 18 kali terjatuh selama mengabdi disini. Namun pengorbanan dirinya, kata Gadis kelahiran Sigli itu, belum seberapa bila dibandingkan dengan anak didiknya.

Anak didik Aryani, rata-rata harus menempuh jarak sejauh 5 kilometer untuk bersekolah. Itu harus mereka lalui dengan berjalan kaki. Ini yang menjadi alasannya untuk tidak mau mengeluh. Ia juga mengaku salut atas perjuangan dan semangat belajar anak didiknya disana. (rud)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.