Minggu, 19 September 21

Menuduh Indonesia Tidak Maju Karena Agama Pasti Otak Komunis dan Anti Pancasila

Menuduh Indonesia Tidak Maju Karena Agama Pasti Otak Komunis dan Anti Pancasila

Oleh: Habil Marati,  mantan Anggota DPR RI

Presiden Jokowi menyampaikan ke publik kalau ada PKI GEBUK saja, lalu Jokowi pun menyampaikan “Mana PKI? Dimana Tempatnya PKI? Secara Organisasi mungkin komunis di Indonesia belum berbentuk, tapi secara idiologi sudah bergerak melalui jaringan idiologi dan sulit terdeteksi karena dengan rapinya mereka berkamuflasi pada Elen elen yang diakui negara maupun masyarakat. Oleh karena itu Presiden Jokowi jangan melihat dan memahami gerakan Komunis secara kasat mata tapi juga harus di perhatikan simpton simpton gerakan anti agama, sebab gerakan anti Agama sama dengan anti Pancasila.

Membandingkan Indonesia dengan Negara Cina yang anti Agama, tapi secara ekonomi, technologi dan Financial Negara Cina super maju di banding Indonesia pada hal Indonesia Negara yang menjunjung tinggi nilai nilai agama, lalu mengkomplain agama sebagai penghambat, pikiran pikiran seperti ini juga Jokowi harus bisa memahami bahwa ini patut di curigai bagian dari kebangkitan komunis di Indonesia.

Siapa bilang Cina maju? Bisa saja Negara Cina secara ekonomi global maju, tapi internalisasi ekonomi Cina belum mampu mengsejahterahkan rakyatnya baik secara ekonomi, Sosial dan moralitas. Di Cina apa saja bisa di bikin, di Cina apa saja legal, kecuali cuma dua yang tidak boleh yaitu membubarkan Negara komunis dan melakukan kegiatan agama. Dengan demikian menghapuskan pendidikan agama, sama saja merubah sistim pendidikan Nasional dari pendekatan capaian ” AHLAK MULIA” menjadi” AHLAK MATERIALISME”.

Kalau hal seperti ini yang di inginkan oleh para golongan etnis” KEGELAPAN” lalu bangsa ini mau seperti apa?, Negara Hukum tanpa di bangun di atas nilai nilai Agama, maka kemajuan pembangunan suatu negara yang di capai hanya melahirkan bangsa materialisme, individualisme dengan budaya mirip hewan.

Pendidikan Agama yang diberikan kepada anak dididik disekolah sekolah bertujuan membangun integritas knologde keseimbangan antara nilai nilai religius dengan nilai nilai materialisme dalam mewujudkan mahluk pribadi dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Melepaskan kewajiban pelajaran Agama terhadap siswa sekolah akan menghasilkan kerawanan nasional terhadap prespektif generasi muda sebagai generasi penerus bangsa.

Menjadikan Negara Cina, Singapura atau negara lain yang tidak menyelenggarakan pendikan Agama terhadap Indonesia yang memasukan kewajiban pindidikan Agama dalam sistim kurikulum sekolah di anggap sebagai menghambat kemajuan adalah sebuah penilaian Sekularistik, utopia dan bar bar. Justru kasus kasus korupsi besar di Indonesia seperti Century, E- KTP, BLBI, Sumber Waras dan Reklamasi mungkin saja mereka kurang mendapatkan belajaran nilai nilai Agama, atau bahkan sama sekali tidak menjalankan pendidikan Agama. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.