Selasa, 22 September 20

Menteri Susi: Sistem Budidaya KJA Offshore Dapat Tingkatkan Produksi Ikan

Menteri Susi: Sistem Budidaya KJA Offshore Dapat Tingkatkan Produksi Ikan
* Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberikan keterangan pers kepada wartawan.

Jakarta, Obsessionnews.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan, pembangunan Keramba Jaring Apung (KJA) Lepas Pantai (offshore) di Pangandaran, Sabang dan Karimunjawa sesuai dengan instruksi Presiden Jokowi untuk mendorong nelayan tidak hanya melakukan penangkapan ikan di laut, tetapi juga meningkatkan produksi melalui budidaya.

Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan percontohan KJA offshore yaitu mendorong pelaku usaha perikanan dalam negeri untuk mengadopsi teknologi berkapasitas industri yang dapat menyerap banyak tenaga kerja namun tetap dapat menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan.

“Nelayan diharapkan tidak hanya menangkap ikan saja tapi juga melakukan budidaya dengan kapasitas industri,” ungkap Menteri Susi dalam siaran pers yang diterima Obsessionnews.com, Sabtu (28/4/2018).

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meresmikan pembangunan KJA offshore di Pangandaran, Jawa Barat. Selain Pangandaran, KJA dengan teknologi modern dari Norwegia yang diresmikan Presiden Jokowi ini juga dibangun di Sabang, Aceh dan Karimunjawa, Jepara. 

Guna pembangunan instalasi percontohan di tiga lokasi ini, KKP menyiapkan anggaran sebesar Rp131,451 miliar. Anggaran ini digunakan untuk pengadaan KJA; feed barge (gudang pakan dan ruang kontrol); kapal kerja; sistem pemberian pakan terintegrasi; sistem pemantauan KJA (camera system); dan rubber boat. 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto memastikan teknologi KJA offshore ini tidak akan mematikan pengusaha dalam negeri. “Justru kita mendorong KJA-KJA dalam negeri bisa mencontoh. Kita memberi percontohan memberdayakan masyarakat dalam industri perikanan yang pro masyarakat karena tujuannya untuk sustainable,” kata dia.

Adapun pemilihan teknologi menurut Slamet telah melalui pertimbangan dan pengkajian yang matang. Menurutnya, teknologi Norwegia dipilih berdasarkan lelang internasional. Norwegia dinilai berpengalaman melakukan budidaya di lepas pantai dan teknologi yang mereka miliki telah menjadi acuan internasional. “Di dunia Norwegia adalah the best untuk teknologi (KJA offshore) salmonnya. Kita belajar ke Norwegia,” tutur Slamet.

Tak hanya teknologi, Norwegia juga berperan dalam memberikan rekomendasi penentuan letak KJA yang disesuaikan dengan kondisi alam di lokasi pembangunan. Selain itu, Norwegia juga berbagi ilmu manajemen budidaya, penebaran benih, hingga proses panen. 

Meskipun teknologi yang digunakan berasal dari Norwegia, Slamet memastikan dalam proyek ini tenaga kerja yang dilibatkan adalah masyarakat Indonesia.

Slamet mengatakan, selain kecanggihan teknologi Norwegia, harga yang ditawarkan pun lebih murah dari teknologi buatan lokal, misalnya teknologi KJA dari Padalarang. 

“Kita sudah lelang, harganya (untuk cages + net) lebih murah. Dari Norwegia Rp7,9 miliar untuk 8 lubang (diameter 25,5 m), kalau nasional Rp8,3 miliar (diameter 20 m saja),” tutur Slamet. 

KJA Offshore Pangandaran yang Pertama di Indonesia

Selain itu, Slamet juga menekankan bahwa KJA offshore Pangandaran adalah yang pertama di Indonesia.  Hal ini berdasarkan definisi KJA offshore yang dikeluarkan oleh Food and Agruculture Organization (FAO). 

Sebagaimana diketahui, KJA Pangandaran berjarak lebih kurang 4 mil (6,43 km) dari Pantai terdekat, yaitu Pantai Barat Pangandaran. Selain itu, KJA ini juga terdapat di kedalaman kurang lebih 50 m dengan tinggi gelombang rata-rata antara 1,5 – 3 m. Ia juga dilengkapi dengan Sistem Pemberian Pakan Otomatis, Sistem Monitoring dengan Kamera Bawah Air dan CCTV, serta dapat  dioperasikan dari jarak jauh.

Sebelumnya, sudah ada beberapa KJA di laut seperti di Pemuteran, Buleleng, Bali; Pulau Murai Batu, Tanjung Balai, Karimun; dan Grokgak, Buleleng, Bali. Akan tetapi, ketiga KJA tersebut bukan termasuk kategori offshore melainkan KJA coastal dan off the coast karena jaraknya yang tak sampai 3 km dari pantai terdekat.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) Zulficar Mochtar mengatakan, penentuan titik lokasi pembangunan KJA offshore sudah diisusun dalam naskah akademik oleh tim Ditjen Perikanan Budidaya, Badan Riset dan SDM, dan Ditjen Pengelolaan Ruang Laut. Tak hanya oleh Tim KKP, uji kelayakan juga dilakukan Tim Norwegia dari Aqua Compentanse.

“Secara fisik, biologis dan kimiawi, telah dilaporkan dalam kajian tersebut, sehingga titik lokasi yang saat ini di pasang KJA offshore, merupakan titik final yang paling sesuai untuk dipasang KJA offshore. Demikian pula dengan 2 lokasi lain, baik Sabang maupun Karimunjawa,” terang Zulficar. 

Menurutnya, kajian tersebut telah mempertimbangkan aspek kelayakan fisik seperti gelombang, arah dan kecepatan arus, pasang surut, serta kekeruhan air. Ia menambahkan, sampel tanah di dasar perairan diambil untuk mengetahui jenis organisme yang ada di dasar perairan calon lokasi KJA lepas pantai. Sedangkan secara kimiawi, dilakukan pengukuran kualitas air.

“Pembangunan KJA ini juga dipastikan tidak berada di kawasan konservasi, tidak mengganggu alur pelayaran, dan tidak mengganggu alur migrasi hewan laut. Jadi lokasi KJA lepas pantai, betul-betul sesuai dengan peruntukan dan tidak berdampak kepada lingkungan sekitar,” tambahnya.

Meski terletak jauh di lepas pantai, arus dan gelombang di 3 lokasi masih dalam batas teloransi yaitu masing-masing antara 0.5 – 1 m/detik dan 1 – 3 m. Beberapa negara seperti Australia dan Vietnam juga telah berhasil menerapkan teknologi serupa. 

Benih Dipilih Melalui Selective Breeding

Guna memastikan budidaya ini berhasil, KKP juga memilih benih kakap putih melalui selective breeding. Hal ini untuk menghasilkan benih yang bermutu dan seragam serta memenuhi persyaratan CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik). 

“Jadi untuk benih kita tidak mengambil di alam begitu saja, melainkan sudah melalui selective breeding dengan standar yang tinggi,” jelas Slamet. 

Bahkan KKP juga melakukan seleksi benih dengan ukuran 0.8 – 1 cm, 3 – 4 cm sampai ukuran siap tebar di KJA sebesar 100 gr up, sehingga SR-nya dapat mencapai 80 – 85 %.

KJA offshore ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas ikan karena dipengaruhi gelombang dan arus laut dan terbebas dari cemaran sungai maupun limbah rumah tangga. Kualitasi ikan diharapkan lebih sehat karena di pelihara dalam lingkungan alami sehingga tidak memerlukan antibiotik atau obat-obatan. 

“Budidaya ini tidak berdampak pada lingkungan karena air selalu berganti dan pakan di berikan melalui manajemen pakan yang terkontrol,” tandas Slamet. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.