Sabtu, 4 Juli 20

Menteri PPPA Dorong Kampus Responsif Gender

Menteri PPPA Dorong Kampus Responsif Gender
* Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Prof Yohanna Susana Yembise saat memberikan kuliah umum di ruang Auditorium Merapi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (9/11/2018). (Foto: Humas UGM)

Yogyakarta, Obsessionnews.com – Satu dari tiga perempuan usia 15-64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual. Bahkan, 1 dari 10 perempuan pernah mengalaminya dalam 12 bulan terakhir. Oleh karena itu, untuk menurunkan angka kekerasan fisik dan seksual ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan  dan Perlindungan Anak (PPPA) berencana melaksanakan program untuk menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Program kita, akhiri kekerasan terhadap perempuan, akhiri perdagangan manusia saat perempuan dan anak jadi korban, dan akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan,” kata Menteri PPPA Prof Yohanna Susana Yembise saat memberikan kuliah umum di ruang Auditorium Merapi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (9/11/2018), seperti dikutip obsessionnews.com dari keterangan tertulis Humas UGM.

Kuliah umum yang diselenggarakan Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana Fakultas Geografi itu bertajuk Gender Equality Dalam Era Digital Innovation di Indonesia. Dalam kesempatan itu Yohanna mengatakan, untuk menurunkan angka kekerasan perempuan dan anak ini pihaknya menggandeng warga kampus untuk berkomitmen menjadi kampus yang responsif gender agar ramah terhadap perempuan dan anak.

“Harus kita dorong agar universitas responsif gender,” kata Yohanna.

Dia menjelaskan, program yang sama sudah dilakukan di 10 ribu sekolah di Indonesia yang sudah melaksanakan program sekolah responsif gender.

“Kami akan meluncurkan beberapa universitas untuk responsif gender, tidak ada lagi kejahatan dan kekerasan perempuan dan anak,” katanya.

Soal kekerasan  pada anak, kata Menteri, kuncinya ada pada keluarga. Menurutnya, orang tua harus responsif untuk melindungi anaknya jangan sampai melakukan perbuatan dan perilaku yang menyimpang.

“Jangan sampai melakukan hal yang salah dalam kehidupan mereka, seperti kebiasaan mengisap lem aibon atau zat adiktif lainnya, apalagi mengonsumsi air rebusan pembalut,” ujarnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.