Jumat, 25 September 20

Menteri-menteri Mundur, Demonstrasi Pecah, Desak Lebanon Reformasi!

Menteri-menteri Mundur, Demonstrasi Pecah, Desak Lebanon Reformasi!
* Bentrokan terjadi di Beirut dalam demonstrasi pasca-ledakan. (Foto:BBC)

Pasca ledakan Beirut, menteri-menteri mengundurkan diri, demonstrasi pecah, dan negara yang mendonasikan bantuan meminta Lebanon lakukan reformasi.

Donor internasional menjanjikan bantuan seperempat miliar Euro atau hampir Rp4,3 triliun kepada Lebanon, lima hari pasca ledakan yang meluluhlantahkan sebagian wilayah Beirut.

Tapi konferensi donatur yang digelar secara online dengan inisiasi Prancis itu meminta adanya reformasi di Lebanon.

Ledakan di sebuah gudang yang berisi 2.000 ton amonium nitrat membawa kemarahan warga pada dugaan korupsi dan ketidakmampuan pemerintah.

Bentrokan terjadi selama berhari-hari, pasca ledakan di Beirut.

Kelompok pemuda meminta agar pemerintah berhenti untuk menembakkan proyektil di pusat kota Beirut, dan pengunjuk rasa berusaha untuk menerobos barisan berikade yang menghalangi akses menuju gedung parlemen. Kebakaran terjadi di tempat kejadian.

Polisi diperlengkapi dengan baju anti huru-hara pun menembakkan gas air mata menjelang malam, membuat kerusuhan serupa terjadi di sejumlah tempat selama protes berlangsung pada Sabtu lalu.

Lima belas pemimpin negara pada konferensi donatur, yang dipelopori oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menjanjikan “sumber daya besar”, melalui sebuah pernyataan. “Bantuan harus tepat waktu, cukup dan konsisten sesuai dengan kebutuhan rakyat Lebanon,” katanya.

Ia menambahkan bahwa bantuan harus “diberikan secara langsung kepada rakyat Lebanon, dengan sepenuhnya efisien dan transparan”.

Para donatur bersedia untuk membantu Lebanon untuk pemulihan jangka panjang, jika pemerintah mendengarkan permintaan adanya perubahan dari tuntutan warga.

Presiden Macron mengatakan Prancis telah menerima komitmen bantuan sebesar €252.7 juta atau setara Rp4,3 triliun dari konferensi donatur internasional.

Pemerintah Lebanon memperkirakan ledakan yang terjadi Selasa pekan lalu menyebabkan kerugian ekonomi sebesar $15 miliar atau sekitar Rp216,4 triliun.

Ledakan ini juga mengakibatkan 158 orang meninggal, 6.000 luka dan 300.000 kehilangan tempat tinggal. Ledakan dipicu oleh 2.750 ton amonium nitrat yang telah disimpan selama 6 tahun meskipun sudah diperingatkan berkali-kali, bahwa penyimpanan ini berbahaya.

Menteri-menteri mundur
Lebanon saat ini sedang mengalami krisis ekonomi terburuk sejak perang saudara 1975-1990, dengan pemadaman listrik tiap hari, dan persoalan air minum dan keterbatasan layanan kesehatan publik.

Nilai mata uang merosot, dan Lebanon gagal membayar utang pada bulan Maret. Pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) terkait dana talangan sebesar $10 miliar atau setara Rp144,2 triliun telah terhenti.

Hal ini membawa kekhawatiran bahwa dampak dari ledakan dapat memperburuk prospek pemulihan ekonomi secara signifikan.

Pemerintahan mulai kehilangan menteri-menteri yang melayangkan kritikan.

Menteri Lingkungan, Damianos Kattar adalah menteri kedua yang meninggalkan kabinet pada Minggu (09/08), yang mengeluhkan “rezim steril yang telah melewatkan sejumlah kesempatan”.

Kattar mundur mengikuti langkah dari Menteri Informasi, Manal Abdel Samat yang sebelumnya mengkritik kegagalan reformasi dan “bencana Beirut” sebagai alasannya untuk mundur dari jabatan menteri. (BBC News)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.