Senin, 23 September 19

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi Selalu Jaga Hubungan Antar Negara

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi Selalu Jaga Hubungan Antar Negara
* Retno Marsudi. (Foto: Istimewa)

Di tahun 2018, dia kembali meraih penghargaan. saat melakukan kunjungan kerja ke Lima, Peru, Retno meraih El Sol del Peru (The Sun of  Peru) dengan peringkat  Grand  Cross  dari  pemerintah Peru.

 

Retno Marsudi yang saat ini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia bukanlah nama yang asing di jajaran pemerintahan Tanah Air. Perempuan yang satu ini bahkan telah dipuji oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi Ibrahim Abdulaziz Al-Assaf berkat kinerjanya yang cemerlang. Pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia pada 2005 lalu, dia mengantongi segudang penghargaan. Salah satunya adalah Agen Perubahan untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan dari badan urusan perempuan PBB, UN Women, di Markas PBB, New York pada 2017 silam.

Setahun kemudian, yakni pada 2018, Retno kembali meraih penghargaan. Saat melakukan kunjungan kerja ke Lima, Peru, dia  meraih El Sol del Peru (The Sun of Peru), dengan peringkat Grand Cross dari pemerintah Peru. Dia merupakan warga Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini. El Sol del Peru merupakan yang tertinggi dari pemerintah Peru kepada warga sipil baik masyarakat setempat maupun warna negara asing atas jasa dan kontribusinya terhadap Peru.

Penghargaan tersebut diberikan atas upayanya memajukan hubungan bilateral antara Indonesia dan Peru. Sebab, perempuan yang pernah menempuh pendidikan hak asasi manusia di Universitas Oslo ini tidak hanya membangun kerja sama antara Indonesia-Peru saat menjabat sebagai Menlu. Namun, kerja sama ini telah dibangun sejak dirinya menjabat sebagai Direktur Jenderal Amerika dan Eropa. Saat itu dia bertanggung jawab mengawasi hubungan Indonesia dengan 82 negara di Eropa dan Amerika. Mengemban amanah tersebut, dia kemudian membentuk mekanisme dialog bilateral antara Indonesia dengan Peru.

Selain menjaga hubungan bilateral bersama negara-negara di dunia, perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) juga menjadi salah satu dari kebijakan kementerian luar negeri Indonesia. Retno telah melakukan sejumlah upaya peningkatan perlindungan WNI meliputi perubahan corporate culture para diplomat Indonesia untuk memberikan perlindungan secara lebih optimal kepada WNI.

Selain itu, pembangunan sistem perlindungan melalui inovasi teknologi dan memperkuat instrumen perlindungan pada semua tingkatan juga terus  dilakukan.

Untuk meningkatkan sistem perlindungan terhadap warga negara Indonesia, kini juga telah dibuat ‘Portal Peduli WNI’ yang menjadi platform tunggal pelayanan dan perlindungan WNI. Dengan teknologi ini untuk pertama kalinya Indonesia memiliki database warga negaranya yang berada di luar negeri dengan lebih kredibel.

Inovasi teknologi terbaru lainnya adalah ‘Welcoming SMS Blast’ yang memberikan informasi nomor telepon Perwakilan RI di luar negeri tempat warga negara Indonesia berada. Ada pula aplikasi ‘Safe Travel’ yang bertujuan untuk memastikan perlindungan bagi setiap warga negara yang tengah melakukan perjalanan ke luar negeri melalui telepon pintar atau smartphone.

Selama empat tahun terakhir menjabat sebagai Menlu, Retno menjabarkan ada 278 orang WNI berhasil dibebaskan dari hukuman mati dan 73.503 kasus hukum WNI telah diselesaikan.

Lalu ada 181.942 tenaga kerja Indonesia yang bermasalah telah direpatriasi, dan 16.432 WNI telah dievakuasi dari daerah perang, daerah konflik politik, dan daerah bencana alam di seluruh dunia.

Selain itu, pada 2019 ada tiga orang sandera di Kongo berhasil dibebaskan dan total sandera yang dibebaskan ada 40 orang WNI.

Pada akhir Juli 2019 lalu, Retno juga tengah mengurus kasus perdagangan orang dari masalah ‘Kawin Pesanan’ ke Cina yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat. Menurut datadari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) terdapat 26 kasus kawin pesanan. Sebanyak 14 orang berasal dari Kalimantan Barat, tujuh dari Jawa Barat, dua dari Tangerang, satu dari Jawa Timur, satu dari Jawa Tengah, dan satu lagi dari DKI Jakarta.

Sebagai upaya penyelesaian masalah tersebut, dia ingin agar korban-korban yang sudah berada di KBRI Beijing dapat segera difasilitasi pemulangannya. Selain itu, dia juga menekankan pentingnya kerja sama untuk pemberantasan TPPO. Beberapa tersangka juga sudah ditangkap di Indonesia dan perlu kerja sama dengan pemerintah Cina agar dapat melakukan penegakan hukum, yakni dengan melakukan penangkapan para pelaku yang beroperasi di Tiongkok.

Di sisi lain, pada awal Agustus lalu, Retno juga disibukkan dengan adanya program Capacity Building Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral untuk Afghanistan.

Menurutnya, dukungan dari Tanah Air bagi Afganistan tidak hanya dilakukan secara politik, tapi juga dengan ekonomi dan sosial. Program ini sendiri merupakan kelanjutan dari fase pertama pada 2018. (Indah Kurniasih)

 Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession Edisi Agustus 2019 dengan tema “17 Perempuan Tangguh 2019”

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.