Rabu, 8 April 20

Menteri Kabinet Gotong Royong Ungkap Arti Megawati ‘The Brave Lady’

Menteri Kabinet Gotong Royong Ungkap Arti Megawati ‘The Brave Lady’
* Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri hadir dalam acara peluncuran buku berjudul ‘The Brave Lady’ di Puri Putri, Hotel Grand Sahid Jakarta, Rabu (23/1/2019) . (Foto: dok PDIP)

Jakarta, Obsessionnews.com – Presiden kelima RI  Megawati Soekarnoputri hari ini berulang tahun yang ke 72. Dia dihadiahi buku yang berjudul The Brave Lady, artinya perempuan berani, berisi cerita yang dituliskan oleh mantan menterinya di kabinet Gotong Royong. 

Buku itu diluncurkan di Puri Putri, Hotel Grand Sahid Jakarta, Rabu (23/1/2019). Berbicara dalam launching buku salah satu penulisnya, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, mengakui dirinya yang mengeluarkan terminologi Megawati sebagai The Brave Lady.

The Brave Lady, the decision make. Seorang ibu yang berani, yang berani mengambil keputusan dalam keadaan apapun juga,” kata Purnomo.

 

Baca juga:

Cerita Megawati Soal Percobaan Pembunuhan Berdarah Sukarno

Insiden Jatuhnya Pesawat Lion, Megawati: Saya Ikut Prihatin

Hadiri Rakernas TKN Jokowi – Ma’ruf, Megawati Jadi Magnet Selfie

 

Bukan tanpa alasan dia memberikan julukan seperti itu. Dirinya menceritakan bagaimana Megawati berani. Contohnya saat setelah dilantik pada Juli 2001, keadaan Indonesia masih krisis. Sebagai menteri energi, dia mengusulkan kepada Megawati untuk berangkat ke AS dan bertemu Presiden AS. 

“Kebetulan ada konferensi energi di Houston, Houston itu pusat energi. Ibu Mega beberapa waktu untuk berpikir. Kemudian ibu menyampaikan saya berangkat. Kita tidak sadar, September 2001 ada serangan di Twin Tower dan Pentagon,” kata Purnomo.

Walau kondisi keamanan mencekam, Megawati memutuskan tetap berangkat. 

“Ibu, ini Amerika keadaan tidak pasti, kemudian ada serangan. Tapi ibu tetap pergi. Itu Bravenya,” jelas Purnomo.

Hasilnya, Indonesia mendapat komitmen investasi sebesar Rp200 triliun. Momen itu mengubah imej dunia tentang Indonesia yang dianggap hancur saat itu.

Megawati yang hadir belakangan di acara itu sempat juga bercerita sedikit tentang kejadian itu. Kunjungannya itu sekalian kesempatannya mengkritik AS saat bertemu Presiden Bush,Jr, soal embargo senjata ke Indonesiam

“Ketemu dengan Bush, saya katakan saya ini presiden baru. Saya bilang Indonesia katanya sahabat Amerika, masa urusan persenjataan kita diembargo? Jadi straight to the point,” cerita Megawati.

 

Baca juga:

Megawati dan Puspayoga Hadiri Festival Indonesia 2018 di Tokyo

Pertemuan Megawati dan Jokowi Mengerucut Pada Satu Nama Cawapres

PDI-P: Pernyataan Ketum Golkar Singgung Perasaan Megawati

 

Kisah kedua yang diceritakan Poernomo adalah tambang migas Tanggung, Papua, yang saat itu tak laku-laku. Dia mengusulkan Megawati berangkat ke Tiongkok untuk melobi negeri itu. Mega menyanggupi.

Kunjungan Megawati ke Tiongkok dikenal sebagai diplomasi Bengawan Solo. Dan akhirnya berhasil. Dari situ, menyusul proyek Jembatan Suramadu, dan berbagai proyek migas lainnya.

“Di tanah air sendiri ada kritik. Di tanah air sendiri ada komentar macam-macam. Efek hari ini, investasi Tangguh lunas. Yang dulu mengkritik diam. Sekarang mau dibangun Tangguh III, Tangguh IV. Sukses investasinya dan Papua happy. Ini alasan kedua Ibu Mega sebagai The Brave Lady,” beber Poernomo.

Buku tersebut disunting oleh Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri, serta mantan jurnalis Kristin Samah. 

 

Baca juga:

Bertemu Jokowi di Istana Batu Tulis, Megawati Beri Masukan Cawapres

Basarah: Megawati Tak Pernah Meminta dan Menerima Gaji

 

Turut hadir dalam peluncuran buku itu mantan Wapres Boediono dan Try Sutrisno, mantan menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda, mantan Menteri Kehakiman Yusril Ihza Mahendra, mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar, mantan Kepala Bappenas Kwik Kian Gie, mantan Menteri Riset dan Teknologi Hatta Rajasa. 

Selain itu terlihat menteri Kabinet Kerja era Jokowi, yakni Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, serta Menteri Desa Eko Putro Sandjojo. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.