Sabtu, 4 Februari 23

Menteri Ekonomi Jokowi Seperti Ketiban Pulung

Menteri Ekonomi Jokowi Seperti Ketiban Pulung

Jakarta, Obsessionnews – Kalangan DPR RI dan tokoh aktivis Gerakan Indonesia Bersih (GIB) berpendapat, beban pemerintah Jokowi-JK kini semakin berat akibat adanya ‘bom waktu’ berupa legacy dari pemerintahan SBY berupa quarto deficit, yaitu defisit neraca perdagangan sebesar U$6 miliar, defisit neraca pembayaran U$9,8 miliar, deficit balance of payments U$6,6 miliar pada Q1-2013, dan defisit APBN plus utang lebih dari Rp2.100 triliun.

“Meski demikian, dalam kondisi perekonomian nasional seperti saat ini Jokowi-JK beruntung karena Menteri Ekonomi banyak melakukan terobosan yang menumbuhkan optimisme,” kata¬†Andreas Eddy Susetyo, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI-P yang membidangi masalah keuangan negara, perencanaan dan pembangunan nasional.

“Misalnya, Menkeu, dia sudah melakukan stimulus fiskal, tinggal tantangannya adalah masalah penyerapan. Dalam stimulus fiskal ini, pertama adalah akselerasi eksekusi pembelanjaan modal pemerintah secara cepat,” papar Andreas kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Selasa (16/6/2015).

Yang kedua, lanjutnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro terus mendorong upaya peningkatan daya beli masyarakat melalui program-program yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat misalnya Dana Desa, untuk membuka lapangan kerja.

Sementara itu, Kordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi menyatakan, pada saat kampanye Pilpres yang lalu, pasangan Jokowi-JK merasa seperti pasangan superhero Batman & Robin, bahkan dengan konsep NawaCita dan Tri Sakti seperti akan sanggup menjinakkan ‘bom waktu’ yang merupakan legacy pemerintahan SBY, termasuk legacy para Menkeu-nya SBY.

“Tapi kenapa setelah jadi presiden dan jadi wakil presiden seperti menghindari masalah ini. Mereka tepat memilih banyak menteri dari profesional,” tandas Mantan Jurubicara Presiden era Gus Dur ini.

“Ibaratnya para Menteri Ekonomi Jokowi seperti ketiban pulung, orang lain yang salah bikin kebijakan, mereka yang terkena getahnya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Andreas Eddy Susetyo menegaskansiklus ekonomi nasional saat ini memang sedang menurun, intinya karena terjadinya penurunan harga komoditas. Akibatnya, kata dia, ekspor kita menurun dan ini berimbas pada transaksi berjalan kita, demikian juga dengan penurunan impor.

“Jadi, sekarang ini kita masih dalam transisi. Tapi antara lain infrastruktur segera kita beresi karena akan meningkatkan daya saing kita. Ibaratnya sekarang kita seperti minum jamu pahit, tetapi itu obat. Daya beli masyarakat bawah harus dibantu dan saya kira salah satu fokus Menteri menteri ekonomi Jokowi adalah tentang ini,” beber Andreas.

Ia pun menekankan, kondisi ekonomi global memang sedang kurang menguntungkan akibat penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, karena ekonomi Amerika menguat maka ada pembalikan modal ke Amerika. (Ars)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.