Sabtu, 16 Oktober 21

Menteri Ekonomi Jokowi Jangan Under-estimate Jebloknya Nilai Rupiah

Menteri Ekonomi Jokowi Jangan Under-estimate Jebloknya Nilai Rupiah

Menteri Ekonomi Jokowi Jangan Under-estimate Jebloknya Nilai Rupiah
Oleh: FX Arief Poyuono

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hampir seharian ini bergerak di kisaran Rp 13.000/US$. Ini merupakan yang terlemah sejak 17 tahun terakhir walaupun ditutup dengan nilai tukar rupiah pasar on the spot turun menjadi Rp12.980 tetapi harga beli mata uang US dollar di Money Changer dan bank sudah menjadi Rp13.150 per dollar US.

Dan perlu dicatat penurunan nilai tukar dollar disebabkan oleh intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga volalitas rupiah dan cuma langkah ini yang dilakukan oleh BI untuk meredam nilai kurs US Dollar. Biasanya intervensi menggunakan cadangan devisa, dimana cadangan devisa sekarang tercatat sekitar USD 112 miliar, cukup untuk mengintervensi sekitar tiga bulan jika masih terjadi gejolak.

Tetapi terkait tindakan dan kebijakan  ekonomi untuk meredam semakin jebloknya nilai tukar rupiah  tidak ada yang dilakukan oleh pemerintah Jokowi. Malah terkesan Menko Ekonomi dan Tim Ekonominya Jokowi terlalu mengunder-estimate terhadap jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Makin jelas Tim Ekonomi Jokowi tidak mampu menurunkan nilai mata uang US Dollar terhadap rupiah. Maklum saja, mereka secara personal memang bukan orang tepat untuk bisa meredam nilai rupiah yang berubah-ubah tidak stabil yang akan sangat mempengaruhi ekonomi makro  Indonesia. Secara garis besar ada tiga variabel yang mempengaruhi ekonomi makro Indonesia.

Jika Pemerintah Jokowi tidak punya portfolio yang jelas tentang kebijakan ekonominya maka nilai tukar rupiah akan terus menukik dan akan berdampak pada  menurunnya permintaan masyarakat terhadap mata uang rupiah karena menurunnya peran perekonomian nasional atau karena meningkatnya permintaan mata uang asing sebagai alat pembayaran internasional.

Dampak yang akan terjadi adalah meningkatnya biaya impor bahan bahan baku. Dan berdampak pada harga produk dan jasa yang semakin mahal. Nilai tukar rupiah yang melemah juga akan meyebabkan tingkat suku bunga, dimana akan terjadi meningkatnya nilai suku bunga perbankan yang akan  berdampak pada perubahan investasi di Indonesia dan ini Sudah terbukti dengan Suku Bunga KUR (Kredit Usaha Rakyat ) hingga 21% per tahun.

Nilai tukar rupiah yang melemah juga berakibat pada tingginya Inflasi dan meningkatnya harga-harga secara umum dan kontinu, akibat komsumsi  masyarakat  yang meningkat, dan berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi dan spekulasi. Jika ekonomi nasional ingin selamat, maka satu satunya cara yang harus dilakukan Jokowi adalah menganti semua tim ekonominya yang telah gagal dan kurang diterima Pasar. Itupun kalau Jokowi berani. [#]

*) FX Arief Poyuono SE – Ketua DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.